
Vansh lalu mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo Om Abimana.]
[Halo, Vansh. Apa kau sekarang sedang sibuk?]
[Tidak Om, aku hanya sedang ada sedikit urusan dengan temanku. Memangnya ada apa?]
[Emh.., Vansh bisakah kau datang ke rumah kami sekarang? Keluarga besar Inara datang hari ini, dan sebentar lagi mereka sampai di sini.]
[Oh tentu saja, Om. Sebentar lagi aku datang ke rumah Om Abimana, kirimkan saja alamatnya padaku.]
[Baik Vansh, terimakasih banyak.]
[Iya Om, sama-sama.] jawab Vansh kemudian menutup panggilan telepon itu.
"Apa kau harus pergi sekarang?" tanya Maya saat melihat Vansh menaruh ponselnya di sakunya.
"Ya, seseorang sedang membutuhkan bantuanku. Aku harus pergi ke rumahnya sekarang."
"Apa membantu orang lain itu hobimu?"
"Hobi?" tanya Vansh sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, sejak aku melihatmu kau tampak selalu membantu orang lain, termasuk yang diminta oleh Tuan Leo dan Nyonya Calista kan?"
"Kenapa aku harus keberatan jika aku bisa membuat orang lain bahagia? Kau sudah selesai makan kan? Ayo kuantar pulang sekarang!" perintah Vansh pada Maya.
Maya kemudian menganggukkan kepalanya. Mereka lalu bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan keluar dari cafe dan memasuki mobil Vansh.
"Tuan Vansh, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Maya memberanikan diri saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Maya.
__ADS_1
"Apa?"
"Kenapa tadi pagi, anda tiba-tiba sudah ada di dekat rumahku? Apakah anda mau memarahiku karena perkataanku tadi malam pada anda? Maaf jika saya sudah lancang pada anda. Sebenarnya saya tidak sengaja mengatakan seperti itu, hanya saja saya melihat raut sendu di wajah anda yang tampak seperti sedang kehilangan seseorang," ujar Maya sambil meringis.
"Ya, kau memang benar-benar lancang padaku! Kita belum saling mengenal tapi kau sudah berani berkata seperti itu padaku!"
"Astaga, jadi benar tadi pagi sebenarnya anda berniat memarahiku? Sekali lagi maafkan saya Tuan Vansh," kata Maya sambil meringis.
Vansh pun tersenyum kecut. "Jadi seharusnya aku harus bersyukur tadi pagi aku dikepung oleh preman," gerutu Maya sambil mengigit bibirnya.
"Bersyukur?"
"Ya, karena jika tidak ada preman itu tentu anda sudah habis-habisan memarahi saya, iya kan?"
"Seburuk itukah aku di matamu?" tanya Vansh yang membuat Maya semakin gugup.
"Oh... O.., oh tentu saja tidak Tuan. Bukankah tadi saya mengatakan jika anda orang yang baik dan suka menolong. Jadi maksud kedatangan anda bukan untuk memarahiku kan?" tanya Maya sambil menautkan alisnya dan melihat Vansh dengan tatapan penuh tanda tanya. Vansh pun menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin mengembalikan ini, ini milikmu kan?" tanya Vansh sambil memberikan sebuah kalung berliontin hati. Melihat liontin di tangan Vansh, raut wajah Maya pun berubah. Dia kemudian mengambil liontin itu lalu menempelkan liontin itu di dadanya.
"Syukurlah! Kupikir liontin ini sudah hilang!" teriak Maya.
"Apa liontin itu sangat berharga bagimu?" tanya Vansh yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Maya.
"Apa itu pemberian kekasihmu?" tanya Vansh lagi. Mendengar perkataan Vansh, Maya pun tertawa.
"Tuan bisa saja, saya belum pernah berpacaran Tuan," sahut Maya.
"Pantas."
"Kenapa anda tidak menanyakan kenapa liontin ini sangat berharga bagi saya?"
__ADS_1
"Tidak penting!"
"Baik kalau begitu saya yang akan menceritakannya sendiri pada anda."
"Tidak usah, kau benar-benar lancang! Lihat kita sudah sampai, cepat kembali ke rumah dan beristirahatlah!"
"Terimakasih banyak, Tuan."
"Ya."
Maya pun tersenyum pada Vansh kemudian membalikkan tubuhnya bersiap untuk membuka pintu mobil. Namun tiba-tiba Maya membalikkan tubuhnya kembali.
"Ada apa?" tanya Vansh.
"Tuan, bolehkah saya meminta nomor ponsel anda?"
"Untuk apa? Apa kau ingin pendekatan denganku?"
"Astaga Tuan, saya cukup tau diri siapa saya dan siapa anda! Saya hanya ingin menghubungi anda untuk mengembalikan jaket milik anda jika saya sudah membersihkannya."
"Berikan ponselmu!" perintah Vansh. Maya kemudian memberikan ponselnya pada Vansh.
"Ini nomor ponselku," kata Vansh sambil memberikan ponsel milik Maya kembali.
"Terimakasih Tuan, terimakasih banyak. Semoga kebaikan anda dibalas oleh Tuhan."
Vansh pun hanya menganggukkan kepalanya dengan begitu datar. Setelah Maya turun dari mobilnya, dia kemudian menatap Maya yang sedang berjalan di gang sempit menuju rumahnya.
'Liontin itu, sebenarnya aku juga tidak asing dengan liontin itu. Sepertinya sebelumnya aku juga pernah melihat liontin itu, tapi dimana?' gumam Vansh sambil mengerutkan keningnya.
Sementara Maya berjalan sambil tersenyum saat menatap liontin di tangannya. 'Ksatriaku, kupikir kau sudah hilang, tapi ternyata aku masih diberi kesempatan untuk memilikimu, meskipun hanya sebuah liontin tapi rasanya aku seperti memiliki dirimu, ksatriaku. Ksatria masa lalu yang tidak pernah bisa kumiliki.'
__ADS_1