Bed Friend

Bed Friend
Menutupi Kesalahan


__ADS_3

Rahma kemudian mengangkat kepalanya sambil menatap Dea. "Membantumu? Membantu apa Nak?" tanya Rahma.


Dea lalu menarik salah satu sudut bibirnya dan menatap Rahma dengan tatapan tajam. "Tolong bantu aku besok."


"Bantu apa Dea? Mama benar-benar tak mengerti, Nak."


"Shakila pernah menemuimu kan?"


"Ya, Shakila memang pernah menemuiku."


"Memangnya kenapa?"


"Dan anda mengatakan yang sebenarnya kalau aku adalah anak kandung anda?"


"Ya, memang seperti itu kan? Bukankah kenyataannya kau adalah anak kandung ku? Dan kenyataan ini tidak bisa ditutupi terus-menerus, Dea. Aku harus mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Mereka berhak tahu semua kebenaran ini."


"Tapi aku tidak mau, aku tidak mau mengakuimu sebagai ibu kandungku! Aku tidak mau mengakuimu sebagai ibu kandungku! Kau dengar kan?"


DEGGGG


Perasaan Rahma pun begitu hancur mendengar perkataan Dea. Dia kemudian bersimpuh kembali sambil memegang kaki Dea.


"Maafkan Mama, maafkan Mama, tolong maafkan Mama Dea. Tolong jangan bersikap seperti itu, kau boleh marah padaku. Tapi, bagaimanapun juga aku adalah Ibu kandungmu. Kau adalah darah dagingku, Dea."


"Cuihhhh, Ibu kandung? Maksudmu, ibu kandung yang membuangku?"


"Dea tolong mengertilah, mama melakukan semua agar kau mendapatkan yang terbaik. Kalau kau hidup bersama mama, mama pasti tidak akan mampu mengobatimu."


"Jangan banyak alasan untuk menutupi kesalahanmu, dan keegoisan dalam dirimu."


"Mama tidak beralasan, Nak. Memang itulah yang sebenarnya terjadi, mama hanya ingin yang terbaik untukmu."

__ADS_1


"Terbaik untukmu, tapi tidak untukku dan wanita itu yang sekarang yang kau anggap sebagai anak kandung. Kami adalah korban keegoisanmu dan sekarang sudah seharusnya kau bertanggung jawab atas semua kesalahpahaman yang telah kau perbuat dengan cara tetap menutupi kesalahanmu ini. Kau harus tetap melanjutkan kesalahpahaman ini karena kaulah biang kerok dari semua masalah ini."


"Melanjutkan kesalah pahaman? Apa maksudmu, Nak?"


"Shakila pernah datang padamu kan, dan kau mengatakan semua kebenaran ini pada Shakila. Sekarang kau harus bertanggung jawab untuk mengklarifikasi semua masalah ini. Besok Shakila akan datang kesini lagi, dan meminta keteranganmu agar kau menjelaskan pada keluarga orang yang sudah bertunangan denganku jika aku bukanlah Sachi. Kau harus menebus kesalahanmu padaku dengan mengatakan kalau aku adalah Sachi yang sebenarnya bukan Luna."


Rahma tampak menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Dengarkan aku, Nyonya Rahma! Aku ingin rencana pernikahanku dengan laki-laki itu tetap berjalan, dan semua kuncinya ada di tanganmu."


"Apa maksudmu Dea?"


"Apa kau tidak mendengar semua yang kukatakan? Aku hanya ingin perjodohanku dengan laki-laki itu berjalan lancar, karena dua hari lagi aku akan menikah dengannya, dan tidak boleh yang ada membatalkan rencanaku.


"Itu tidak mungkin Dea, tidak mungkin. Kau akan menikah, dan saat melakukan ijab qabul bukan nama ayah kandungmu yang disebut? Itu tidak sah, Dea. Itu tidak sah dimata agama."


"Aku tidak peduli, aku tidak peduli semua itu karena yang terpenting bagiku dimata semua orang, aku adalah Sachi yang sebenarnya."


"Tapi suatu saat, rahasia itu juga bisa terbongkar. Kita tidak bisa menutupi rahasia ini terus-menerus, Dea."


"Tapi bagaimana kalau dia menyadarinya kalau kau ternyata bukan Sachi?"


"Itu bukan urusanku karena saat itu dia pasti sudah menggauliku dan dia wajib untuk melaksanakan tugasnya itu sebagai seorang suami."


"Tapi dalam pernikahan itu yang disebut bukan namamu dan nama kedua orang tuamu."


"Bukankah sudah kukatakan aku tidak peduli hal itu, yang terpenting dia dan semua orang tahu kalau aku adalah istrinya. Aku adalah istrinya dan dia harus melakukan kewajibannya sebagai seorang suami padaku, dan saat dia tahu semua kebenaran ini dan ingin menceraikanku, aku bisa menuntut pertanggung jawaban karena dia sudah merenggut kesucianku, agar dia mengurungkan niatnya untuk menceraikanku."


"Astaga, Dea."


"Kenapa? Apa ada yang salah? Bukankah aku bisa menolak perceraian karena dia telah menyentuhku? Dia sudah menyentuhku dan dia bertanggung jawab untuk tetap menjadikanku sebagai istrinya meskipun kami harus menikah ulang," ucap Dea sambil tersenyum kecut.


"Astaga kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu?"

__ADS_1


"Bukankah sudah kukatakan ini adalah salahmu, dan kau harus bertanggung jawab atas semua kesalahpahaman ini."


"Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu Dea. Kalaupun aku harus bertanggung jawab bukan dengan menutupi tapi meluruskan kesalahpahaman ini. Mama tidak mau menutupi kesalah pahaman ini terus-menerus, mama tidak mau Dea. Mama tidak mau menambah dosa yang telah Mama lakukan dulu."


Dea kemudian menatap Rahma dengan tatapan tajam. "Jadi kau tidak mau membantuku? Kau memang tidak pernah menyayangi putrimu, kan?Kenapa? Kenapa kau selalu melakukan itu padaku? Sejak kecil kau selalu menyakitiku, sejak kecil kau memilih wanita itu sebagai putrimu dan sekarang kau pun akan membela dia."


"Aku tidak membelanya, tapi memang itu adalah kenyataannya. Itu kenyataan yang harus diketahui oleh semua orang. Aku sudah terlalu lama berbuat salah dan aku tidak mau menambah daftar dosa dan kesalahanku lagi dengan menutup-nutupi sebuah kebenaran."


"Kau memang kejam, kau memang wanita yang kejam."


"Dea sadarlah! Kau yang sebenarnya kejam Dea! Menutupi kebenaran adalah sebuah dosa!"


"Jangan pernah mengatakan dosa kalau dirimu ternyata lebih berdosa Nyonya Rahma. Kau sangat kejam, kau adalah wanita yang sangat kejam karena kau telah membuang anakmu sendiri dan memilih anak orang lain sebagai anak kandungmu hanya untuk menutupi kepentingan pribadimu, tidak ada orang yang lebih kejam dibandingkan dirimu Nyonya Rahma yang terhormat!"


"Memang, memang aku sangat kejam tapi aku tidak mau melanjutkan kesalahan yang telah kulakukan. Aku harus bertanggung jawab menebus semua kesalahanku dengan meluruskan semua kesalahpahaman ini, tidak dengan menutupi kesalahpahaman ini terus-menerus seperti yang kau minta.


"Baiklah kalau begitu aku akan memaksamu!"


Dea kemudian mengambil sesuatu dari tasnya. "Dea, tolong jangan lakukan itu. Jangan bertindak bodoh Dea!" teriak Rahma saat Dea mengambil sebuah pisau dari tasnya.


"Bukankah ini yang kau inginkan? Kau selalu menyakitiku kan? Kalau begini lebih baik aku mati saja, aku memang tidak pantas hidup di dunia ini. Aku tidak mau memiliki orang tua sepertimu!"


"Dea tolong jangan bertindak bodoh lagi, tolong jangan lakukan itu!"


"Aku melakukan semua ini karenamu! Aku bertindak seperti ini karenamu, jadi jangan berani coba-coba untuk menghalangiku!"


"Tolong jangan lakukan itu! Jangan lakukan itu Dea, sadarlah kau harus kembali ke jalan yang benar!"


"Kau yang sudah memilih, dan kau lebih memilih wanita itu dibandingkan diriku. Jadi, lebih baik aku mengakhiri hidupku saja." ujar Dea sambil mengayunkan tangannya ke arah perutnya.


"Dea!" teriak Rahma. Dia kemudian berlari ke arah Dea dan detik selanjutnya, tubuh wanita itu pun terjatuh ke atas lantai. Bersamaan dengan darah yang kini juga membasahi lantai itu.

__ADS_1


"DEA!" teriak sebuah suara dari arah pintu.


__ADS_2