Bed Friend

Bed Friend
Masalah Hati


__ADS_3

NOTE: Tolong disimak baik-baik ya, karena di episode atas banyak yang gagal paham. Kenan itu TIDAK PERNAH menjodohkan Laurie dengan Zack. Percakapan di episode atas itu menggambarkan Kenan yang diancam Zack untuk menikahkan Laurie karena Zack akan membunuh Vansh dan seluruh keluarga mereka, dan akhirnya Laurie lah yang menyerahkan dirinya sendiri untuk dinikahi Zack, karena tidak ingin seluruh keluarganya terancam. Jadi pernikahan Laurie dan Zack itu inisiatif Laurie sendiri, bukan Kenan. Itu inti percakapan di episode atas, Okay 🤗


***


Pertengkaran Kenan dan Zack terhenti saat seorang dokter memasuki ruang perawatan tersebut untuk memeriksa keadaan Laurie.


"Permisi tuan-tuan, bisakah anda keluar sebentar? Saya mau mengecek keadaan Nyonya Laurie."


"Iya dokter," jawab Zack sambil tersenyum manis. Kenan dan Zack kemudian keluar dari ruang perawatan itu sambil saling menatap dengan tatapan mata tajam.


Kenan lalu duduk di samping Olivia yang saat ini duduk di kursi yang ada di depan ruang perawatan tersebut, sedangkan Zack tampak berlalu begitu saja meninggalkan kamar perawatan itu.


Olivia kemudian menatap wajah suaminya dengan tatapan begitu dalam, namun Kenan mengalihkan pandangannya dari Olivia


"Tatap mataku Kenan!" pinta Olivia. Namun Kenan tampak menundukkan kepalanya.


"Tatap mataku, Kenan!" pinta Olivia kembali.


Kenan yang awalnya mengalihkan pandangannya dari Olivia kemudian balas menatap Olivia. "Jadi selama ini tidak pernah ada perjodohan antara Laurie dan Zack? "


Kenan hanya terdiam. "Kenan, aku butuh jawaban darimu! Jadi selama ini tidak pernah ada perjodohan antara Laurie dan Zack? Kau tidak pernah menjodohkan Laurie dengan iblis itu kan, Kenan? Kenapa kau berbohong padaku?"


"Olivia, maafkan aku."


"Kenapa kau menutupi semua ini dariku, Kenan?"


"Olive, tolong maafkan. Aku hanya ingin menyelamatkan keluarga kita."


"Lalu kau anggap aku ini apa? Aku ini istrimu! Aku berhak tahu semua masalah yang kau alami. Kenapa kau harus memendam masalah ini sendiri?"


"Olive tolong maafkan aku, aku hanya ingin menyelamatkan keluarga kita. Aku hanya tidak ingin seluruh keluarga kita dibunuh oleh Zack. Apa kau tahu siapa Zack yang sebenarnya? Dia mafia berdarah dingin, Olive! Aku tidak ingin keluarga kita terkena dampak dari masalah ini."


"Tapi tidak seperti ini, Kenan. Kenapa kau menyimpan semua masalah ini sendiri? Ini bukanlah masalah kecil, Kenan."


"Olivia tolong mengertilah, aku hanya ingin menyelamatkan keluarga kita. Aku hanya tidak ingin menyakiti Vansh dan Laurie. Meskipun pada akhirnya Laurie yang terkena imbas masalah ini. Olive, sebenarnya aku tidak pernah mengizinkan Laurie untuk menikah dengan Zack. Tapi, Laurie lah yang menyerahkan dirinya sendiri untuk menikah dengan Zack karena dia tidak mau semua nyawa keluarganya menjadi taruhannya."


"Jadi kau dan Laurie menutupi semua ini?"


"Mafkan aku, aku hanya ingin melindungi keluarga kita."


"Aku mengerti Kenan, lalu bagaimana dengan Laurie?"


"Olive, saat ini kejadiannya begitu cepat. Aku bahkan tidak sempat berfikir saat tahu Zack mencoba membunuh Vansh dengan menaruh bom di mobil milik Vansh, Laurie akhirnya terpaksa menyetujui keinginan Zack untuk menikahinya."


"Astaga kejam sekali, lalu bagaimana nasib putri kita Kenan?"


"Olive, sebenarnya saat itu aku sudah memiliki jalan keluar saat akan menikahkan Vansh dengan putra dari Bram, karena Zack hanya tunduk pada Bram, tapi Vansh lebih memilih Maya, aku tidak bisa mengelak permintaan kalian semua."


"Astaga, maafkan aku."


"Olive, aku janji. Aku pasti akan memisahkan Laurie dan Zack. Aku tidak akan pernah membiarkan putriku hidup menderita, dan aku pasti akan melakukan cara apapun untuk melepaskan Laurie dari Zack."


"Kenapa kau tidak membicarakan ini dengan Leo?"


"Itu terlalu berbahaya, kalau Leo tahu apa yang terjadi, Zack bisa langsung menghabisi seluruh keluarga kita, Olive. Ingat dia mafia yang dilindungi di negeri ini."


"Astaga, menakutkan sekali. Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Olivia. Namun, saat Olivia baru saja menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara alat elektrokardiograf dari ruang perawatan Laurie.

__ADS_1


TUTTTTTTTTTTTTT


***


Saat Luna sedang duduk sendiri, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara yang menyapanya. "Luna bolehkah aku bicara sebentar denganmu?"


Mendengar sebuah suara dari arah samping, Luna lalu mengangkat wajahnya, dan melihat Alvaro yang saat ini tengah berdiri di sampingnya. Ya Alvaro, yang saat ini menjadi tetangganya, teman masa kecilnya, sekaligus putra dari Vallen yang baru saja menyelesaikan study di Singapore sudah menyukai Luna sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Namun, ungkapan cinta yang berulang kali terucap, selalu ditolak oleh Luna. Laki-laki yang beberapa hari ini selalu mengamati kehidupannya dengan Devano, harus kembali merasakan patah hati, patah hati berulang kali pada wanita yang sama.


"Oh Alvaro."


"Luna, apa aku boleh bicara sebentar denganmu?" tanya Alvaro. Luna kemudian menganggukkan kepalanya.


"Iya Alvaro, duduklah!" jawab Luna. Alvaro kemudian duduk di samping Luna. "Apa kabarmu Alvaro? Kemarin kita memang sudah bertemu tapi kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Luna.


"Aku baik, seperti yang kau lihat. Aku sehat, aku baik-baik saja."


"Syukurlah."


"Tapi tidak dengan hatiku," balas Alvaro lirih. Mendengar jawaban Alvaro, Luna kemudian menatap Alvaro dengan tatapan yang begitu dalam.


"Apa rasa itu masih ada, Alvaro? Bukankah semua sudah lama berlalu?"


"Iya Luna aku tahu itu, hari ini aku akan berhenti. Aku akan menghapus semua tentangmu, mengubur semua kenangan masa lalu, dan aku akan mengikhlaskan semua rasa ini. Semua rasa yang pernah kusimpan dan kuberikan padamu."


"Terima kasih Alvaro, maaf jika aku tidak pernah membalas rasa yang kau berikan padaku. Alvaro, kau berhak bahagia. Tapi, maaf bukan aku yang akan mengisi kebahagiaan di dalam hatimu, aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan menemukan cinta sejatimu."


"Iya Luna, aku tahu itu. Luna, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"


"Tentu saja, memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"


"Luna, tolong berikan alasanmu. Apa yang membuat kau jatuh cinta pada Devano?"


"Luna, tolong jawab aku. Tolong jawab pertanyaanku sebelum aku menghapus rasa dan mengubur semua tentangmu. Berikan alasanmu kenapa kau bisa mencintai Devano dan tidak pernah bisa mencintaiku?"


"Alvaro, ini masalah hati."


"Masalah hati? Luna, tolong berikan alasanmu, ada apa dengan hatimu? Tolong berikan jawabanmu pada laki-laki yang sudah sepuluh tahun jatuh cinta padamu tapi tak pernah mendapatkan hatimu."


"Alvaro, ini masalah hati dan sulit untuk dimengerti, yang aku tahu, semua yang ada pada Devano begitu merasuk dan membekas ke dalam kalbu. Entah mengapa, aku merasa tidak bisa hidup tanpa dirinya, semua sikap Devano membuatku merasa ingin selalu bersamanya, meskipun itu sifat manjanya ataupun sikap anehnya."


"Dan semua itu tidak pernah kau rasakan saat bersamaku kan Luna?"


Luna hanya bisa tersenyum. "Terima kasih atas jawabanmu, Luna. Semoga kau hidup bahagia bersama Devano."


"Iya Alvaro, terima kasih."


Baru saja Luna selesai berbicara, tiba-tiba Vallen mendekat ke arah mereka. "Alvaro! Ayo cepat ke rumah sakit sekarang!"


"Aku pamit Luna, terima kasih atas semua jawabanmu. Semoga kau bisa hidup bahagia dengan Devano."


"Terima kasih, dan sekali lagi aku minta maaf."


Alvaro lalu tersenyum, kemudian bergegas mengikuti langkah Vallen keluar dari pesta itu. Sementara itu Devano yang sejak tadi mengamati perbincangan antara Luna dan Alvaro, kini tampak mendekat ke arah Luna.


"Sayang..."


"Devano."

__ADS_1


"Laki-laki itu? Anak Dokter Vallen, dulu dia dekat denganmu?"


"Ya, karena kita sudah saling mengenal sejak di bangku sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai SMA."


"Oh, jadi kalian selalu satu sekolah yang sama?"


"Ya, memangnya kenapa?"


"Apa dia pernah menyukaimu?"


"Hahhahaha, memangnya kenapa Devano? Kau cemburu? Apa kau lupa saat ini aku sudah menjadi istrimu?"


"Aku sangat cemburu dengan semua laki-laki di masa lalumu. Aku ingin menggantikan posisi Alvaro saat menjadi temanmu dulu. Aku ingin lihat unyu-unyunya istriku, bermain dengan Luna yang unyu-unyu dan menggemaskan pasti menyenangkan sekali."


"Devano, usia kita saja berbeda. Bagaimana kau mau jadi teman sekolahku. Lalu kalau kau jadi Alvaro, aku tidak akan pernah menikah denganmu karena aku tidak pernah menyukai Alvaro."


"Jadi Neng cuma jatuh cinta sama Abang nih? Ya udah abang jadi Devano aja ya Neng, ga usah jadi Alvaro, Alvaroan."


"Ga usah, cukup jadi Devano."


"Neng..."


"Apa? Cium? Malu Devano!"


"Bukan."


"Terus apa?"


"Mulai saat ini Neng ga boleh liat cowok lain ya selain Abang."


"Apa maksudmu?"


"Ya pokoknya ga liat cowok lain, kalo lagi ngomong sama cowok lain kamu liatnya wajah abang aja yang ganteng ya, Neng."


"Laki-laki yang boleh Neng tatap cuma abang sama Papa Dimas, Kak Darren juga boleh. Selain itu ga boleh ya Neng."


"Astaga, Devano. Itu gimana konsepnya? Ngomong sama orang lain tapi cuma liat wajah kamu?"


"Iya..."


"Susah, Devano. Masa ngomong sama orang liatnya wajah kamu sih?"


"Pasti Neng bisa kok, yang penting semangat."


"Astaga, ini benar-benar dagelan."


"Dagelan akun instagram, Neng?"


"Bukan Devano..."


"Ya ampun, ngegemesin banget sih Neng. Pulang yuk, kangen."


"Pestanya belum selesai Devano, ini masih siang."


"Ijin pulang aja Neng, pura-pura sakit kaya pas jaman sekolah dulu. Bilang aja kamu cape, Devano kecil yang ada di perut pengen istirahat. Aku ijin dulu ya."


"Dasar kau!" gerutu Luna sambil melihat Devano yang berjalan mendekat ke arah orang tua mereka.

__ADS_1


Luna tersenyum saat melihat Devano. "Alvaro, kalau kau bertanya padaku apa alasan yang membuatku jatuh cinta pada Devano, aku pun tak tahu. Terlalu sulit untuk kujelaskan. Aku mencinta Devano di setiap lapis waktu, di setiap gores takdir, dan di setiap jalan hidupku, karena hati tidak perlu memiliki banyak alasan untuk jatuh cinta."


__ADS_2