Bed Friend

Bed Friend
Cover Majalah


__ADS_3

Devano pun keluar rumah sambil terkekeh. "Huh, lihat saja Luna. Kau pasti akan kembali takluk padaku! Akan kubuat kau memintaku untuk menyentuhmu lagi," ujar Devano sambil meringis membayangkan bisa kembali menyentuh tubuh Luna yang kini terlihat begitu seksi.


Saat dia akan memasuki mobilnya, tiba-tiba netranya tertuju pada seorang wanita tetangga sebelah rumahnya yang sedang duduk di taman depan rumahnya sambil menikmati secangkir teh.


"Wowww cantik sekali," ujar Devano. Dia pun melongok ke dalam rumahnya dan tidak menemukan Luna.


"Aman, sepertinya Luna sudah masuk ke dalam kamar."


Devano pun tampak tersenyum jahil sambil menyugar rambutnya lalu mendekat ke arah tembok pembatas rumah mereka.


"Haiii!" sapa Devano pada wanita cantik yang sedang duduk, dan sapaan itu hanya dibalas dengan senyuman tipis.


"Hai selamat pagi, saya tetangga baru anda. Perkenalan namaku Devano! Siapa nama anda?" ujar Devano sambil tersenyum begitu manis dan tatapan jahil yang begitu menggoda.


"Selamat pagi Pak Devano! Saya Cleo."


Devano pun terkejut mendengar jawaban Cleo. "Pak? Kenapa anda memanggil saya dengan sebutan Pak? Bukankah kita seumuran? Mungkin lebih akrab kalau anda memanggil saya Devano saja, atau biar lebih akrab anda juga bisa memanggil saya honey, baby, atau juga bestie," kata Devano sambil mengedipkan matanya.


Cleo pun tersenyum. "Bukankah sebentar lagi anda juga akan menjadi menjadi seorang ayah?"


Devano pun berpura-pura terkekeh sambil menautkan alisnya. "Siapa yang mengatakan seperti itu Cleo? Siapa yang mengatakan aku akan memiliki seorang anak? Ada-ada saja, itu pasti gosip. Kau tahu sendiri kan, laki-laki tampan dan sukses sepertiku pasti sering digosipkan, Cleo. Kalau aku bertemu orang itu akan kucubit mulutnya. Berani-beraninya dia berbicara seperti itu."


"Benarkah?"


"Tentu saja, anggap saja itu angin lalu Cleo!" ujar Devano sambil menyunggingkan senyum lebarnya.


Cleo pun tersenyum, namun saat dia akan menjawab perkataan Devano, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka berdua.


"Akkuuu Devanoooo!" teriak Vallen. Dia kemudian mendekat ke arah Devano lalu menjewer telinganya.


"Tante Dokter!" ujar Devano sambil menelan salivanya dengan kasar dan meringis saat mendapat jeweran di telinganya oleh Vallen.


"Aku yang mengatakan pada keluargaku kalau ada spesies aneh yang kurang bermoral tinggal di samping rumahku! Aku juga sudah memperingatkan pada putriku agar berhati-hati pada spesies aneh itu! Kau tadi bicara apa Devano? Mau mencubit mulutku? Sekarang cubit aku! Cubit aku Devano!"


"Ti-tidak Tante Dokter! Tante Dokter tolong maafkan aku!" Vallen kemudian melepaskan jewerannya pada Devano.


"Devano, bukankah sejak pertama kali bertemu sudah kuperingatkan untuk tidak merayu putriku!"


"Maaf Tante, mana aku tahu Cleo itu putri anda?"


"Astagaaaa Devano, bukankah kau tahu ini rumahku? Dan aku sudah pernah mengatakan kalau aku memiliki seorang putri! Seharusnya otakmu berfikir jika ada wanita di rumahku itu artinya dia putriku! Lagipula bukankah sudah pernah kuperingatkan agar kau jangan pernah mengganggu wanita lain! Apa kau sudah lupa pada janjimu untuk membahagiakan dan menjaga Luna! Baru saja sebentar menikah kau sudah seperti ini! Burungmu memang benar-benar meresahkan! Memang sepertinya lebih baik kau kukebiri saja!"


'Oh-tidak,' batin Devano sambil menelan salivanya dengan kasar.


"Tante maafkan aku, maaf aku khilaf! Tolong maafkan aku, Tante. Aku janji tidak akan mengganggumu wanita lain lagi, janji Tante. Jika aku mengingkari janjiku, maka ketampananku dan kekerenanku akan berkurang!"


"Hahahahaha, memangnya kau tampan?"


"Sangat tampan?"

__ADS_1


"Memangnya kau keren?"


"Sangat keren."


"Cuihhhh! Tampan darimana? Keren darimana?"


"Yah, setidaknya semua gadis yang pernah kukencani mengatakan seperti itu."


"Mereka pasti menyesal mengatakan itu, mungkin mereka juga sedang khilaf. Atau saat bertemu denganmu mereka sedang menderita katarak!"


"Tante kenapa berkata seperti itu?" gerutu Devano sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Karena bagiku kau spesies aneh. Lebih baik kau cepat pergi ke kantor sekarang, sebelum aku berubah pikiran dan melaporkan kelakuanmu pada Kenzo karena sudah menggoda istrinya."


"Astaga! Tante! Cleo! Tolong jangan lakukan itu! Maaf, aku lupa jika Cleo itu istri dari Kenzo!"


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu jika kali ini aku memaafkanmu asal kau berjanji ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, tolong jangan berbuat seperti ini lagi! Ingat janjimu untuk membahagiakan Luna!"


"Baik Tante, ini untuk yang terakhir. Aku tidak akan berbuat seperti ini lagi. Mulai hari aku akan selalu membahagiakan Luna. Luna, Luna, Luna, itu yang ada di dalam isi kepala dan hatiku!"


"Baik, kupegang janjimu! Sekarang, kau tanya pada Cleo. Apa dia mau memaafkanmu?"


Devano kemudian menatap Cleo. "Cleo, tolong jangan lakukan itu! Aku tidak mau Kenzo menarik investasinya di perusahaanku! Tolong maafkan aku."


Cleo pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Terima kasih, Cleo."


"I-iya, Tante Dokter, Cleo aku pergi dulu."


"Hemmm!" jawab Vallen. Devano kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobil itu keluar dari rumahnya.


Setelah mobil Devano keluar dari rumah itu, Vallen dan Cleo pun tampak terkekeh. Mereka kemudian melihat ke arah balkon kamar lalu melingkarkan jempol dan jari telunjuknya membentuk sebuah lingkaran sambil mengedipkan mata mereka.


Luna pun tersenyum sambil memberikan kode yang sama. "Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Nyonya Cleo!" ujar Luna sambil setengah berteriak.


Cleo dan Vallen pun tersenyum, sedangkan Luna kini tampak terkekeh. "Rasakan kau, Devano!"


***


08.00 pm


Kenzo tampak menyuruh sopirnya untuk menghentikan mobilnya di depan seorang wanita yang sedang berdiri di depan lobi kantornya. Dia lalu menurunkan kaca jendela mobil itu.


"Pak Kenzo!" sapa wanita itu.


"Kenapa kau belum pulang, Dea? Ini sudah malam."


"Saya sedang memesan ojek online tapi belum juga datang."


"Ikutlah bersama kami, ini sudah malam. Kantor juga sudah sepi, rawan kejahatan."

__ADS_1


"Tidak Tuan, saya tidak mau merepotkan anda."


"Tidak apa-apa, aku juga tidak ingin sesuatu terjadi pada karyawanku. Cepat masuk!" perintah Kenzo.


Dea pun menganggukan kepalanya, dia kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di samping sopir Kenzo.


"Jalan, Pak!" perintah Kenzo.


"Kau tinggal dimana, Dea?"


"Di panti yang ada di dekat stasiun, Pak."


"Pak sopir, antar ke panti asuhan yang ada di dekat stasiun."


"Baik Tuan Kenzo."


Saat dalam perjalanan, tampak Dea yang beberapa kali mengamati Kenzo yang sedang asyik memainkan ponselnya, melalui kaca yang ada di dalam mobil itu.


Beberapa saat kemudian, mobil tersebut pun sudah sampai di sebuah panti yang dekat dengan komplek stasiun.


"Terima kasih, Pak Kenzo."


"Sama-sama."


Mobil milik Kenzo lalu pergi meninggalkan Dea yang saat ini sedang masuk ke dalam panti yang sudah terlihat sepi.


"Mungkin adik-adik sudah tidur," ujar Dea.


Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya lalu mengambil satu buah majalah dari puluhan majalah yang tertumpuk rapi di dalam laci nakas yang ada di dalam kamarnya.


Dia kemudian memandang sosok laki-laki yang menjadi cover majalah tersebut lalu tersenyum dan menaruhnya di atas dadanya.


"Pak Kenzo."


NOTE :


Mampir juga ya ke karya bestie othor novelnya Kak Samy Noer dijamin ceritanya keren dan seru abis.



Blurb :


Blurb


Mempunyai istri yang cantik adalah kebanggaan bagi semua laki-laki. Apalagi jika dirinya yang memiliki tampang pas-pasan. Tapi tidak dengan Kabir, mempunyai istri cantik membuat hidupnya tak tenang. Karena sehari-hari kesabarannya diuji menghadapi tingkah laku istrinya. Akhir-akhir ini istrinya gemar sekali berselancar di media sosial, membuat video kemudian di unggah ke sebuah aplikasi yang sedang melejit saat ini.


Mempunyai suami yang mapan tapi tidak tampan, tidak membuat Sasti berkecil hati. Baginya dengan uang dirinya bisa merombak penampilan suaminya yang minim style menjadi lelaki parlente. Bagi Sasti penampilan adalah nomor satu. Harus paripurna di segala dan setiap kesempatan. Hati tenang nya tiba-tiba terusik oleh kehadiran pria yang bernama Sastra. Awal mula keresahan hatinya yang selalu membanding-bandingkan Kabir dengan Sastra.


Sanggupkah Kabir menjaga Sasti dari gangguan pria lain? Apakah Sasti tetap menjadikan Kabir sebagai pelabuhan pertama dan terakhirnya?

__ADS_1


__ADS_2