
"Maaf, saya sedang terburu-buru. Mungkin kita bisa bicara di lain kesempatan," ucap Clarissa tanpa memalingkan wajahnya lalu setengah berlari meninggalkan Sharen yang kini masih terpaku menatapnya. Saat Sharen mengejarnya, Clarissa sudah terlebih dulu masuk ke dalam lift apartemen.
"Sial!" gerutu Sharen.
Clarissa yang kini ada di dalam lift tampak menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menetralkan degup jantungnya yang membuat nafasnya begitu tersengal-sengal.
"Maafkan aku, Kak. Aku belum siap menjelaskan semuanya padamu," ujar Clarissa. Beberapa saat kemudian, dia pun bergegas keluar dari lift lalu masuk ke dalam apartemennya dan mengganti pakaian yang dia kenakan agar Sharen tak curiga. Setelah mengganti pakaiannya, Clarissa pun keluar dari kamar dan melihat Sharen yang sudah memasuki apartemen tersebut. Clarissa lalu tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya.
"Kak Sharen!" sapa Clarissa sambil tersenyum dan sedikit berteriak berpura-pura terkejut melihat kedatangan Sharen. Sharen lalu mendekat ke arah Clarissa lalu memeluknya.
"Apa kabar adik kecilku," ujar Sharen sambil memeluk dan membelai rambut Clarissa.
"Baik, Kak. Kenapa Kakak tidak memberitahuku kalau kakak mau datang ke sini?"
"Clarissa, tadi malam aku menelponmu, tapi kau malah mematikan ponselmu, dasar anak nakal!" gerutu Sharen sambil mencubit pipi Clarissa.
"Maaf Kak, aku tidak tahu kalau kau meneleponku. Mungkin aku sudah tidur dan tidak sengaja mematikan panggilan darimu."
'Pasti Kak Nathan yang mematikan panggilan dari Kak Sharen, awas kau Kak, nanti saat kau pulang akan kuberi pelajaran,' gumam Clarissa.
"Ya, aku juga berfikir seperti itu. Clarissa, apa kau tidak sibuk?"
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Maukah kau menemaniku pergi ke mall? mungkin aku membutuhkan sedikit healing, akhir-akhir ini aku mengalami hal yang sedikit tidak menyenangkan," gerutu Sharen disertai raut wajah sedih.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja, Kak?"
"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya membutuhkan sedikit hiburan."
"Oh, baiklah. Aku bersiap dulu," ucap Clarissa.
"Jangan terlalu lama berdandan, Clarissa. Kau sudah cantik, tidak perlu mengoleskan bedak dan lipstik lagi di wajahmu, aku sedang malas menunggumu, kau lama sekali kalau berdandan," gerutu Sharen.
"Hahahaha, tidak. Aku hanya mengganti pakaianku saja," jawab Clarissa kemudian memasuki kamarnya. Setelah Clarissa masuk ke dalam kamar, Sharen lalu berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Namun, saat melewati meja makan, dia terlihat mengerutkan keningnya saat melihat dua buah piring beserta dua cangkir kopi di atas meja makan tersebut.
'Ada dua buah cangkir kopi? Siapa yang menemani Clarissa di apartemen ini? Apakah Clarissa sudah memiliki kekasih? Ini tidak bisa kubiarkan, dia tidak boleh menyembunyikan seorang lelaki di apartemen milik Papa,' gumam Sharen. Saat sedang asyik mengamati meja makan tersebut, terdengar suara Clarissa yang memanggilnya.
"Kak aku sudah siap, ayo kita pergi sekarang," teriak Clarissa. Sharen pun berjalan mendekat ke arah Clarissa yang kini tampak sedang merapikan riasannya pada sebuah kaca kecil yang ada di tangannya. Saat sedang mengamati Clarissa, tiba-tiba netra Sharen pun tertuju pada sebuah cincin berlian berhiaskan diamond putih di jari manis Clarissa.
'Apa Clarissa sudah bertunangan dengan seseorang? Kenapa tidak ada yang memberitahu padaku?' gumam Sharen.
"Kak, ayo kita pergi sekarang!"
"Oh iya sebentar, Clarissa. Bolehkah aku masuk ke kamarmu? Aku ingin melihat penampilanku di cermin, tadi ada kancing bajuku yang terlepas."
"Oh masuk saja Kak, aku tunggu di sini," jawab Clarissa. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.
Sharen pun menganggukan kepalanya lalu memasuki kamar Clarissa. Netranya kemudian terlihat jeli memandang seluruh sudut kamar lalu membuka kamar mandi dan walk in closet di dalam kamar tersebut, namun tidak ada siapapun di dalam kamar itu. Hanya ada satu hal yang membuat berbagai tanda tanya muncul di dalam benak Sharen.
"Bau maskulin ini, bau maskulin seperti yang ada di dalam kamar Nathan. Apakah ini parfum yang sama seperti yang Nathan pakai?" ujar Sharen sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ah, bukankah banyak yang memakai parfum seperti ini? Mungkin saja Clarissa sedang menyukai aroma maskulin seperti ini? Aku terlalu curiga berlebihan pada Clarissa. Dia tidak mungkin menyembunyikan laki-laki di apartemen ini. Ah sebaiknya aku merapikan penampilanku saja agar Clarissa tidak curiga saat aku keluar dari kamarnya," ucap Sharen.
Dia kemudian berjalan ke arah meja rias lalu duduk di depan meja rias tersebut. Namun belum sempat Sharen bercermin, dia melihat sebuah kotak cincin berwarna merah yang ada di atas meja rias tersebut. Sharen yang dihinggapi berbagai tanda tanya akan keberadaan laki-laki di apartemen itu dan teka-teki tentang cincin berlian yang dikenakan oleh Clarissa lalu perlahan mengambil kotak cincin itu lalu membukanya.
Kotak cincin itu tampak kosong, yang ada hanya sebuah selembar kertas surat di dalamnya. Sharen pun membuka surat itu lalu membacanya. Jantung Sharen pun seakan berhenti berdetak, sekujur tubuhnya terasa bergetar dan pikirannya pun kini terasa begitu kacau saat selesai membaca surat itu. Kini, butiran-butiran bening pun keluar dari matanya lalu membanjiri hampir seluruh wajahnya.
"Jadi pelangi itu adalah, Clarissa?"
NOTE
Recommended banget nih karya dari Kak Eni Pua judulnya Istri Titipan Talak 3
Blurb:
Dimas Darmawan, seorang dokter muda yang terpaksa menikahi mantan istri sahabatnya yang bernama Winda Alicia.
mantan suami Winda, Bayu merencanakan pernikahan Dimas dan Winda agar Bayu bisa rujuk kembali dengan Winda setelah jatuh talak 3.
Hanya 6 bulan pernikahan, dan mereka harus bercerai.
Apa yang membuat Bayu begitu gigih berusaha rujuk dengan Winda?
Dapatkah Dimas menjaga istri titipan talak 3 sahabatnya?
__ADS_1
Ataukah cinta akan tumbuh diantara mereka dan menjadi dilema bagi Dimas?