
"Laurie, ayo kita pergi sekarang!" ucap Alvaro. Laurie menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Laurie, nanti saat di jalan kau istirahat saja. Kalau sudah sampai aku bangunkan," ucap Alvaro saat mereka berjalan menyusuri koridor hotel.
"Aku sudah lama tidak bepergian, aku ingin melihat pemandangan sekitar. Bukankah kau juga tahu sebelumnya aku tinggal di Australia, jadi aku tidak terlalu mengenal daerah yang ada di Indonesia."
"Baiklah kalau begitu Laurie, terserah kau saja."
"Iya Alvaro."
Mereka kemudian keluar dari hotel itu, lalu masuk ke dalam mobil Alvaro, namun saat duduk di dalam mobil itu. Raut wajah cemas begitu tergambar di wajah Laurie. Alvaro yang melihat sikap aneh Laurie, lalu mengelus pundaknya yang membuat Laurie sedikit terkejut.
"Ada apa Laurie? Apa ada yang kau pikirkan?"
"Tidak Alvaro, bukan apa-apa."
"Apa kau mencemaskan tentang Zack?"
Laurie pun tersenyum tipis. "Kau tenang saja Laurie, Zack tidak akan pernah tahu tengang kepergian kita. Kau aman Laurie, apapun yang terjadi, aku akan selalu melindungimu."
__ADS_1
"Terima kasih."
"Kalau begitu kita pergi sekarang?"
"Ya, kita pergi sekarang."
Alvaro kemudian mengemudikan mobilnya keluar dari hotel itu untuk melanjutkan perjalanan mereka. Sedangkan Laurie menatap pemandangan yang mereka lewati dengan perasaan yang begitu berkecamuk, dia sebenarnya merasa sangat sedih sudah membohongi Olivia dan Alvaro, tapi apakah dia tidak boleh egois sebentar saja?
'Mama, maafkan aku. Alvaro, maafkan aku. Aku telah membohongi kalian berdua untuk keegoisanku sendiri. Sekali lagi maafkan aku, aku janji suatu saat aku akan jujur pada kalian,' batin Laurie sambil melirik Alvaro yang sedang mengendarai mobilnya.
Selang 2 jam kemudian mereka pun sudah sampai di rumah lama milik Firman di sebuah desa di pinggiran kota Jogja. Laurie dan Alvaro kemudian keluar dari mobil.
"Memangnya kenapa kalau dia melihatku?"
"Karena kalau di desa ini ada yang melihatmu urusannya bisa gawat. Mungkin kita bisa digerebek, dan disuruh nikah paksa. Hahahaha.."
"Memangnya kau tidak mau menikah denganku?" ucap Laurie yang membuat Alvaro menghentikan tawanya.
"Kau bicara apa Laurie? Kau masih jadi istri orang. Apa kau mau aku dianggap pebinor?"
__ADS_1
Laurie pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Alvaro tampaknya papamu sangat menyayangi rumah ini, meskipun rumah ini sudah lama tidak dipakai, rumah ini begitu terawat. Bahkan cat tembok rumah ini pun tidak ada yang memudar."
"Ya, karena rumah ini begitu bersejarah bagi Papa dan Mama."
"Apa bersejarah bagi kedua orang tuamu?"
"Ya, asal kau tahu Laurie, kisah percintaan Papa dan Mama itu dulu juga sedikit rumit. Awalnya Mamaku menyatakan perasaannya pada papa, tapi papa menolak dan mama akhirnya marah. Tapi setelah menolak mama, papa baru menyadari jika dia ternyata sangat mencintai Mama. Lalu papa tidak berhenti berjuang untuk mendapatkan mama, bahkan setiap malam papa sampai tidur di depan rumah mama. Tapi mama tetap mengabaikannya karena masih merasa begitu marah padanya. Hingga namun pada suatu hari papa tidak lagi terlihat di depan rumah mama. Akhirnya mama pun merasa cemas lalu dia menyusul papa sampai ke rumah ini. Dan setelah itu mereka mulai menjalin hubungan yang indah."
"Kisah yang sangat manis. Mamamu sangat beruntung dicintai oleh laki-laki seperti papamu. Jadi, boleh dibilang sebenarnya rumah ini saksi cinta kedua orang tuamu, Alvaro?"
"Iya Laurie, rumah ini adalah saksi kisah cinta mereka."
"Lalu apakah setelah ini rumah ini juga bisa jadi saksi cinta yang selanjutnya?"
Mendengar perkataan Laurie, Alvaro pun mengurutkan keningnya. "Apa maksudmu Laurie?"
"Tidak apa-apa, anggap saja aku tidak pernah bicara apapun," jawab Lauri sambil tersenyum kecut. Hatinya sebenarnya sedikit kesal pada sikap Alvaro, dia benar-benar tidak mengerti apa yang ada di hati Alvaro semua sikap Alvaro seakan menunjukkan kalau dia memiliki perhatian lebih pada Laurie, tapi nyatanya Alvaro tidak pernah mengatakan apapun padanya. "
"Laurie, kenapa kau diam? Ayo kita masuk?" ucap Alvaro yang membuyarkan lamunan Laurie. Laurie menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti langkah Alvaro masuk ke dalam rumah itu, meskipun dengan perasaan yang sedikit kesal.
__ADS_1