Bed Friend

Bed Friend
Sudah Bertunangan


__ADS_3

Darren dan Shakila bergegas keluar dari mobil dan menghampiri Aini yang tampak sedang merawat bunga di taman miliknya.


"Mama!" panggil Darren.


"Ada apa, Nak? Kenapa kalian tampak tergesa-gesa seperti ini?"


"Mama, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan dengan Mama."


"Apa? Mempercepat pernikahan?" ledek Aini.


"Boleh ma, sekarang juga boleh. Tapi bukan ini yang ingin kami bicarakan," ledek Darren kembali.


"Lalu apa yang ingin kalian bicarakan?"


"Ini tentang Dea."


"Sachi maksudmu?"


"Mama, apa Mama juga yakin jika Sachi adalah Dea?"


"Kenapa kau bicara seperti itu, Darren?"


"Mama, bukankah semua kemungkinan bisa saja terjadi?"


"Apa maksudmu? Mama benar-benar tidak mengerti."


"Begi Ma, Kak Darren mengambil kesimpulan jika Mama Delia dan Papa Dimas terlalu cepat mengambil kesimpulan jika Dea adalah Sachi," timpal Shakila.


"Jadi, kalian ragu jika Dea adalah Sachi?"


"Bukannya ragu, Ma. Tapi kami hanya ingin sebuah kepastian, kepastian yang didapat dari data yang kebenarannya bisa dipercaya. Bukan hanya mengurut rentet kejadian hal yang sama. Mama, Om Dimas dan Tante Delia telah terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan jika Dea adalah Sachi, tanpa menggunakan kevalidan yang dapat dipercaya, misalanya dengan melakukan tes DNA."


"Astaga, kau benar juga Darren. Memang mereka terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan jika Dea adalah Sachi. Padahal untuk saat ini, tes DNA adalah cara yang paling tepat untuk memastikan kebenaran sebuah hubungan keluarga."


"Iya, Ma. Kalau memang Dea benar-benar adik kandung dari Shakila, itu bukanlah sebuah masalah besar karena mereka telah menemukan orang yang tepat. Lalu, bagaimana jika ternyata Dea bukanlah Sachi?"


"Astaga! Ini menakutkan sekali!" ujar Aini sambil menutup mulutnya.


"Iya, Ma. Karena itulah kami menemui Mama untuk membantu kami."


"Membantu kalian? Memangnya mama bisa apa? Bukankah kalian tahu kalau mama bukanlah seorang dokter?"


"Astaga, mama tentu saja kami tahu itu. Kami hanya ingin mama membantu kami bertemu dengan teman Mama yang dokter itu."


"Vallen?"


"Ya, Dokter Vallen karena kami ingin melakukan tes DNA secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Om Dimas dan Tante Delia."


"Iya Ma, kami ingin melakukan semua ini secara sembunyi-sembunyi karena tidak ingin Mama dan Papa tersinggung jika kami telah meragukan keputusannya," tambah Shakila.


"Baik, mama akan menemani kalian ke rumah Vallen. Bagaimana? Apa kita ke sana sekarang?"

__ADS_1


"Iya Ma!"


"Ayo, mama ambil tas dulu."


"Iya ma, kami tunggu di mobil," ujar Darren.


Hampir setengah jam lamanya mereka melalui perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah milik Vallen.


TETTTT TETTTT


"Bisakah kami bertemu dengan Vallen?" tanya Aini saat pintu rumah itu terbuka.


"Oh iya, silahkan masuk. Saya panggilkan Nyonya Vallen dulu," jawab seorang asisten rumah tangga yang membuka pintu tersebut.


Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu, dan duduk di sofa ruang tamu hingga sebuah suara menyapa mereka.


"Aini!" panggil sebuah suara dari dalam rumah.


"Vallen, maaf mengganggu. Apa kau sedang sibuk?"


"Tidak, hari ini aku libur. Kalian Darren dan Shakila kan?"


"Iya Tante," jawab Darren dan Shakila bersamaan. Vallen lalu tersenyum, dan membelai wajah mereka. "Kalian sudah besar. Aku tidak menyangka jika saat kalian dewasa, kalian jatuh cinta satu sama lain. Hubungan yang kalian tahu selama ini jika kalian adalah kakak beradik, tentu sangat menyiksa kan?"


Darren dan Shakila lalu tersenyum. "Ya, dan akhirnya semua sudah berlalu, Tante. Kami bahagia karena akhirnya kami bisa segera menikah."


"Ya, tante juga ikut bahagia. Lalu, apa kalian sengaja datang ke sini untuk mengundang tante ke pesta pernikahan kalian?"


"Bukan itu yang ingin kalian bicarakan? Lalu?"


"Emh begini Aini. Ini tentang Dea."


"Tentang Dea?"


"Ya, kami merasa jika tindakan Dimas dan Delia mengambil kesimpulan jika Dea adalah anak mereka itu terlalu terburu-buru."


"Terlalu terburu-buru? Astaga, sepertinya kita punya pemikiran yang sama," jawab Vallen.


"Jadi, kau berpikiran hal yang sama dengan kami?"


"Tentu saja, menarik kesimpulan seketika tanpa data yang jelas itu adalah bentuk suatu kecerobohan, Aini."


"Maksudmu, dengan tes DNA kan?"


"Iya, tentu saja. Delia dan Dimas langsung menganggap jika Dea adalah putri mereka tanpa adanya sebuah data yang jelas adalah sebuah kecerobohan besar. Aku bahkan sudah mengatakan itu pada Kenzo dan Cleo saat sedang dalam perjalanan pulang dari panti."


"Iya benar Tante, ini adalah sebuah kecerobohan besar yang dilakukan oleh Papa dan Mama. Lalu, apakah Tante mau membantu kami?" tanya Shakila.


"Tentu saja, aku akan membantu kalian melakukan tes DNA secara sembunyi-sembunyi, kan?"


"Iya kami memang ingin melakukan tes DNA secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh Papa dan Mama," jawab Shakila.

__ADS_1


"Baik, Shakila. Besok datanglah ke rumah sakit dengan membawa sampel dari bagian tubuh dari Dimas dan Dea. Apa kau bisa?"


"Tentu saja, Tante. Aku akan berusaha mengambil sampel bagian tubuh mereka agar bisa dilakukan tes DNA secepatnya."


"Iya, Shakila."


'Ternyata, apa yang ada di dalam pikiranku sama seperti apa yang ada di dalam pikiran mereka. Dea, kita lihat, kau memang Sachi yang sebenarnya, atau bukan,' batin Vallen.


****


TOK TOK TOK


Sebuah ketukan pintu kamar, membuyarkan lamunan Dea yang saat ini sedang berbaring di atas ranjang sambil menatap wajah Kenzo yang dia lihat di akun media sosial miliknya.


"Sachi, ini mama. Apa mama mengganggumu?"


"Tidak, ma. Masuk saja!" jawab Dea.


Delia kemudian membuka pintu kamar itu, lalu mendekat ke arah Dea yang kini sedang berbaring di atas tempat tidur.


"Ada apa Ma?" tanya Dea saat Delia sudah duduk di atas ranjangnya.


"Sachi, apa mama mengganggumu?"


"Oh tidak, Ma. Ada apa? Aku juga sedang bersantai."


"Sachi, sebaiknya kau keluar dari perusahaan Kenzo secepatnya, Nak."


"Tapi kenapa, Ma? Jujur saja, aku nyaman bekerja sebagai seorang sekretaris."


"Sachi sayang, tolong maafkan Mama. Maaf jika mama membicarakan hal ini terlalu cepat denganmu."


"Memangnya, ada apa Ma?"


"Sachi, sekali lagi maaf. Sebenarnya kau sudah ditunangkan dengan seorang lelaki, Nak."


DEG


Jantung Dea pun seketika terhenti mendengar perkataan Delia. Hatinya kini terasa begitu hancur.


"Astaga! A-Aku su, sudah bertunangan?" jawab Dea yang begitu syok mendengar penjelasan Delia.


"Iya Sachi, maafkan kami. Sejak dulu, orang tua dari Papamu sudah berjanji dengan teman lama mereka jika akan menjodohkan salah satu keluarga kami."


"Ta, tapi kenapa bukan Kak Shakila saja, Ma? Bukankan Kak Shakila juga putri sulung dari keluarga kita?"


"Sachi, Shakila dan Darren saling mencintai. Dan kami juga punya banyak hutang budi pada keluarga Aini dan Roy, yang sudah banyak membantu. Kami tentu tidak ingin mengecewakan Aini dan Roy dengan membuat Darren terluka, jadi kami sepakat untuk menjodohkanmu dengan keluarga dari Tante Viona, Nak. Tapi, kau tenang saja, suamimu adalah laki-laki yang baik, dia laki-laki mapan yang bertanggung jawab. Dia juga sangat tampan, mama yakin kau pasti akan menyukainya, Nak."


"Laki-laki mapan dan bertanggung jawab? Si-siapa?"


"Devano, namanya Devano, Nak."

__ADS_1


"Devano?" ucap Dea lirih.


__ADS_2