
"Ayo cepat kita turun!" perintah Kenan pada semua orang yang ada di dalam mobil. Mereka kemudian turun dari mobil tersebut lalu berjalan mendekat ke arah Leo.
Tampak beberapa tamu yang datang dan melihat kedatangan Kenan dan Olivia pun tersenyum sambil mengucapkan selamat. "Apa-apaan ini Olive? Kenapa mereka semua mengucapkan selamat pada kita? Ada apa ini sebenarnya? Sungguh aku memiliki firasat yang buruk, apalagi melihat senyuman di wajah Leo itu! Senyuman yang sangat menyebalkan," gerutu Kenan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, Kenan. Aku juga tidak mengerti apa arti dari semua ini," jawab Olivia disertai dengan perasaan yang begitu tak menentu, berbagai tanda tanya pun menari di benaknya.
Kini mereka pun sudah sampai di hadapan Leo yang sedang tersenyum pada mereka semua. "Apa-apaan ini, Leo?" gerutu Kenan dengan nada kesal.
"Lebih baik kau simpan rasa kesalmu dan tersenyumlah, kau harus terlihat bahagia di hari pernikahan putramu," jawab Leo sambil tersenyum menyeringai.
"Pernikahan? Pernikahan apa? Apa kau sudah gila? Berani-beraninya kau mengambil keputusan tanpa sepengetahuanku, Leo!" bisik Kenan dengan nada membentak.
"Ini bukan keputusanku tapi kau!"
"Aku? Apa kau sudah bercanda? Aku bahkan tidak tahu hari ini adalah hari pernikahan putraku! Bukankah kau sudah tahu jika aku akan menjodohkan Vansh dengan Alexa, anak dari Bram! Kenapa kau malah menikahkannya dengan wanita lain? Apa-apaan ini Leo!"
"Kenan, bukankah aku sudah mengatakan jika kau yang mengambil keputusan ini? Bukan aku."
"Jangan bercanda, kau Leo! Aku benar-benar tidak mengerti!"
"Kenan, apakah kau sudah lupa jika saat itu kau berjanji akan menikahkan putramu dengan wanita yang menjadi cinta pertamanya? Agar kisahnya sama seperti Olivia yang penuh pengorbanan sampai akhirnya dia menikah dengan cinta pertamanya? Bagimu, Vansh adalah perwujudan dari cinta pertama Olivia kan?"
"Ya, kau memang benar. Vansh adalah seorang anak yang menemani hari-hari sedih Olivia demi mendapatkan cinta pertamanya, karena itulah aku juga ingin Vansh bisa menikah dengan cinta pertamanya. Aku memang mengatakan seperti itu. Tapi, bukankah Vansh sudah menikah dengan wanita yang menjadi cinta pertamanya? Meskipun wanita itu sudah meninggal, tapi aku sudah mewujudkan keinginan Vansh sekaligus mewujudkan keinginanku untuk menikahkannya dengan cinta pertamanya kan?"
__ADS_1
"Kau salah, Kenan."
"Apanya yang salah? Bukankah cinta pertama Vansh adalah Queen? Dan Vansh sudah menikah dengan Queen dulu? Lalu dimana letak kesalahanku Leo?" keluh Kenan dengan begitu kesal. Sementara Olivia, hanya menatap Leo dan Kenan dengan begitu bingung. Netranya pun mencari sosok Calista, Vansh, ataupun calon menantunya. Tapi dia tidak menemukan mereka. Di ruang tamu rumah miliknya, hanya ada beberapa tamu yang merupakan sanak saudara dari mereka. Sebuah meja akad yang sudah berhiaskan bunga warna putih untuk melangsungkan ijab qabul pun sudah ada di tengah ruang tamu tersebut.
Leo pun tersenyum. "Leo, aku tidak ingin melihat senyumanmu. Sekarang cepat katakan padaku, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Namun, Leo dengan santainya malah mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jasnya, kemudian mengambil sebatang rokok dan menyalakannya tepat di depan wajah Kenan.
"LEO!" bentak Kenan dengan setengah berbisik sambil menatap Leo dengan tatapan tajam yang dibalas hembusan asap sambil tersenyum kecut.
"Kenan, apa kau sudah lupa, dulu putramu mengalami amnesia akibat dari kecelakaan yang dialaminya saat SMA dulu. Kecelakaan yang Vansh alami, membuatnya mengalami amnesia, dan kehilangan memori karena dia mengalami trauma akibat kecelakaan itu. Namun, setelah bertemu dengan wanita di masa lalunya yang menjadi cinta pertamanya, dia berangsur-angsur pulih dan bisa mengingat semuanya karena berhasil menyingkirkan rasa trauma itu."
"Memang, siapa wanita di masa lalunya itu?" Lalu bagaimana dengan Queen? Bukankah Queen sudah menjadi pacar Vansh sebelum Vansh mengalami kecelakaan itu?"
"Queen hanyalah seseorang yang memanfaatkan keadaan saat Vansh mengalami amnesia, dan dia bukanlah cinta pertama bagi Vansh."
"Siapa wanita itu, Kak Leo? tanya Olivia.
"Namanya Maya. Vansh sudah mencintai gadis itu sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Namun, karena amnesia itu Vansh melupakan semua masa lalunya kemudian Queen masuk ke dalam hidupnya dengan memanfaatkan amnesia yang dialami oleh Vansh."
"Oh, jadi Vansh sudah mencintai gadis itu sejak dulu?"
"Ya, tolong biarkan Vansh bahagia. Bukankah dia juga berhak bahagia setelah kisah cinta tragis yang dialami olehnya? Lihat itu Kenan, kau juga lihat itu, Olive!" perintah Leo sambil menunjuk pada Vansh yang kini tersenyum saat keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Lihat raut wajah Vansh, lihatlah raut wajah bahagia di wajahnya. Apa kalian pernah melihat senyum setulus itu sebelumnya yang keluar dari wajahnya? Tidak kan? Ini adalah takdir, bagian dari takdir kisah cinta yang dialami oleh Vansh. Kemanapun cinta itu pergi, cinta itu akan kembali. Hati itu akan kembali pada pemiliknya. Dan kau sebaiknya tidak usah memaksakan kehendakmu dengan menyuruh Vansh menikah dengan wanita yang tidak pernah dia cintai, karena jika kau menyayangi Vansh, kau pasti akan memikirkan kebahagiaan Vansh, bukan keinginan dan ambisimu? Bukankah begitu, Kenan?"
Kenan pun hanya bisa termenung mendengar perkataan Leo. Dia kemudian menatap ke arah Vansh yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Daddy, Mommy," sapa Vansh. Olivia yang melihat Vansh sudah rapi dengan pakaian kemeja putih dan jas hitam pun merasa begitu terharu. Dia kemudian memeluk Vansh dengan begitu erat.
"Vansh!" ucap Olivia sambil memeluk Vansh disertai air mata yang membasahi wajahnya.
"Mommy, maafkan aku. Aku tidak memberitahu semua ini pada kalian. Maafkan aku sudah lancang, Mom."
"Tidak apa-apa, Vansh. Tidak apa-apa, yang terpenting adalah kebahagiaanmu. Mommy sangat bahagia akhirnya kau bisa bertemu dan menikah dengan cinta pertamamu, mommy sangat bahagia Vansh."
"Jadi Mommy merestui pernikahan kami?" tanya Vansh. Olivia lalu melepaskan pelukannya.
"Tentu, Mommy selalu mendukung semua keputusanmu, apapun yang menurutmu baik untuk dirimu, kau sudah dewasa Vansh. Kau sudah dewasa, mommy yakin kau pasti bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk hidupmu."
"Terima kasih, Mommy."
Vansh lalu mengalihkan pandangannya pada Kenan. "Daddy!"
"Daddy, apa Daddy juga bersedia merestui hubungan kami?" tanya Vansh pada Kenan yang kini masih terlihat begitu kesal. Olivia lalu menatap Kenan dengan tatapan sendu disertai isyarat mengiba. Namun Kenan mengabaikan Vansh dan Olivia lalu mendekat pada Maya yang kini sedang dituntun oleh Calista keluar dari kamar dengan menggunakan kebaya modern warna putih.
Kenan lalu menghentikan langkahnya di depan Calista dan Maya kemudian menatap Maya dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Kau?" ucap Kenan sambil mengerutkan keningnya.
"Ka..kau wanita itu kan?"