Bed Friend

Bed Friend
Bicara Denganmu


__ADS_3

Zack kemudian membalikkan tubuhnya, dan melihat seorang laki-laki yang kini berdiri di ambang pintu ruang perawatan tersebut. Raut wajah laki-laki itu terlihat memerah dipenuhi dengan amarah.


Melihat kedatangan laki-laki itu, Zack kemudian menarik sudut bibirnya, mengukir sebuah senyuman manis di bibir itu.


"Apa kabar Papa Kenan?"


"Zack, tidak usah bersikap baik di depanku! Aku sudah sangat muak melihatmu! Lebih baik sekarang kau ceraikan putriku secepatnya! Kembalikan dia padaku! Aku tidak mau dia semakin menderita karena harus hidup denganmu!"


"Apa? Menceraikan putrimu? Yang benar saja Pa! Jangan pernah bermimpi karena itu hal yang tidak akan pernah terjadi! Apa kau sudah lupa bagaimana sulitnya aku mendapatkan putrimu? Bukankah kau tahu mendapatkan putrimu itu bukan hal yang mudah? Aku harus berulang kali mengancammu, mengancam putrimu, dan hampir saja menghilangkan nyawa putra pertamamu itu. Bahkan, juga harus menghilangkan nyawa kekasih dari Laurie. Itu bukan hal yang mudah untuk bisa menaklukan keluarga keras kepala seperti kalian! Sampai putrimu akhirnya menyerahkan dirinya sendiri agar tidak mau orang terdekatnya terluka. Itu bukan hal yang mudah, Papa!"


"Dan aku sudah sangat menyesal telah memberikan putriku padamu! Lebih baik kau membunuhku saja daripada aku harus melihat putriku menderita seperti ini!"


"Apa? Membunuhmu? Aku sama sekali tidak pernah berniat membunuhmu Pa, karena saat ini aku juga membutuhkan membutuhkanmu untuk menutupi semua bisnis haramku. Hahahhaha!"


"Dasar gila! Dasar kau manusia brengsekk! Kau tidak pantas disebut manusia! Kau lebih layak disebut iblis, Zack!"


"Hati-hati menyebutku seperti itu, Pa. Orang yang kau sebut manusia gila dan iblis adalah menantumu sendiri."


"Cuihhhhh! Bengsek! Aku tidak pernah menganggapmu sebagai menantu karena putriku pun terpaksa mau menikah denganmu! Dan sekarang, tidak akan kubiarkan kau terus-menerus menyakiti keluargaku!"


"Menyakiti keluargamu? Apa maksudmu? Aku tidak pernah menyakiti keluargamu!"


"Dasar laki-laki biadab! Tak tahu diri! Jadi kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan pada putriku? Kau sudah membuat putriku mengalami penderitaan seperti itu! Dia sudah mengalami penyiksaan fisik dan batin karenamu!"


"Ck, ck, ck. Papa Kenan, bukankah kau tahu aku sangat mencintai putrimu? Kenapa kau bisa berkata seperti itu padaku?"


"Cinta katamu? Itu bukan cinta tapi hanya sebuah obsesi dan egomu semata! Kalau kau mencintai putriku kau tidak akan pernah membuat hidupnya menderita!"


"Papa, aku tidak pernah membuat Laurie menderita. Kau tahu kan aku sangat mencintainya? Semua kulakukan untuk Laurie, untuk kebahagiaan Laurie."


"Kebahagiaan Laurie katamu? Jika kau ingin melihat Laurie bahagia, lepaskan Laurie sekarang juga karena kau seharusnya bisa paham apa arti itu cinta! Cinta adalah keikhlasan untuk melihat orang yang kita cintai hidup bahagia meskipun dia hidup bersama laki-laki lain. Apa mengerti, Zack?"


"Tidak Pa! Karena cinta harus memiliki! Bukan melepaskan!"


"Dasar manusia gila!"

__ADS_1


"Terserah kau mau berkata apa yang jelas aku tidak akan melepaskan Laurie!"


Pertengkaran mereka terhenti saat seorang dokter memasuki ruang perawatan tersebut untuk memeriksa keadaan Laurie.


"Permisi tuan-tuan, bisakah anda keluar sebentar? Saya mau mengecek keadaan Nyonya Laurie."


"Iya dokter," jawab Zack sambil tersenyum manis. Kenan dan Zack kemudian keluar dari ruang perawatan itu sambil saling menatap dengan tatapan tajam.


***


Alvaro turun dari lantai atas mendekat pada Firman dan Vallen yang sudah menunggunya untuk pergi ke pesta pernikahan Luna dan Devano, sedangkan Kenzo dan Cleo sudah terlebih dulu pergi ke pesta pernikahan tersebut.


"Kau tampan sekali Alvaro!" ucap Vallen pada putranya itu.


"Terima kasih Ma!" jawab Alvaro.


'Percuma saja tampan karena bukan aku yang memenangkan hati wanita yang menjadi pengantin di hari ini,' batin Alvaro sambil tersenyum kecut.


"Biar aku saja yang bawa mobilnya Pa!"


"Yes, I'm okay. Believe me!"


"Baik! Itu namanya pria jantan, Nak!"


Alvaro kemudian tersenyum. "Apa sebenarnya yang sedang kalian bicarakan?"


"Bukan apa-apa! Ayo cepat kita sudah terlambat!" perintah Firman.


"Iya nih nunggu Alvaro lama banget, kaya nunggu anak perawan!"


"Mama jangan bicara seperti itu!" tegur Firman.


"Iya deh, maaf."


'Maafkan aku, karena ini bukan hal yang mudah, dan aku perlu menata hatiku,' batin Alvaro.

__ADS_1


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil menuju ke rumah Dimas, tempat pesta pernikahan itu berlangsung.


"Oh ya Alvaro ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan padamu!" kata Vallen saat mereka dalam perjalanan.


"Bicara tentang apa Ma?"


"Tentang seorang pasien di rumah sakit kita Alvaro, bukankah kau dokter spesialis saraf. Maukah kau menangani salah satu pasien yang sedang koma di rumah sakit kita?"


"Kenapa harus aku? Bukankah banyak dokter lain yang jauh lebih berpengalaman, Ma?"


"Karena pasien itu memiliki hubungan yang cukup dekat dengan kita Alvaro, jadi Mama minta padamu untuk menangani dia agar keluarga dari pasien tersebut merasa nyaman ditangani oleh keluarga kita."


"Oh baiklah kalau itu yang mama mau. Emh, Mama memangnya dia siapa, Ma?"


"Pasien itu namanya Laurie."


"Laurie? Bukankah Laurie anak dari Tante Olivia?"


"Darimana kau tahu Alvaro? Bukankah mama belum bercerita apapun padamu?"


"Oh itu tadi malam Papa yang bercerita padaku. Papa mengatakan kalau tadi malam Mama menemani Tante Olivia untuk menunggu putrinya yang saat ini sedang koma."


"Iya tadi malam mama menemani Tante Olivia dan Laurie. Bagaimana? Kau mau kan, menangani Laurie?"


"Baiklah Ma, besok aku akan mulai bekerja di rumah sakit."


"Iya terima kasih banyak Alvaro."


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di tempat pesta pernikahan tersebut berlangsung. Saat masuk ke dalam area pernikahan tersebut, akad nikah baru saja selesai. Saat Alvaro dan keluarganya memasuki pesta pernikahan itu, tampak mempelai pengantin baru saja selesai melangsungkan ijab qabul diiringi sorak-sorai tamu undangan. Namun, yang membuat Alvaro semakin merasa sakit adalah saat melihat Devano yang sedang mencium bibir Luna setelah acara ijab qabul itu berlangsung. Tanpa terasa air mata keluar dari kedua sudut mata Alvaro, namun dia bergegas menghapus air mata itu sebelum ada yang melihatnya, dan menata hatinya yang kini kembali porak poranda, padahal di rumah dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menata hatinya.


Alvaro kemudian mendekat pada mempelai pengantin tersebut, memberi ucapan selamat pada mereka beserta keluarganya, meskipun sambil menahan rasa sakit yang begitu menyesakkan dadanya.


Setelah cukup lama berada di pesta pernikahan itu, perlahan Alvaro mendekat pada Luna yang saat ini tengah duduk sendiri. Devano tampak sedang berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya, sedangkan orang tuanya pun sibuk menemui tamu mereka.


"Luna! Bolehkan aku bicara denganmu sebentar?"

__ADS_1


__ADS_2