Bed Friend

Bed Friend
Pergi


__ADS_3

Leo dan Calista keluar dari rumah dengan begitu tergesa-gesa kemudian memasuki mobilnya. Sharen yang masih menonton televisi melihat kepergian Leo dan Calista hanya bisa menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa ada teriakkan tadi di dalam kamar lalu mereka pergi dengan begitu tergesa-gesa?" ujar Sharen sambil saat melihat Leo dan Calista keluar rumah.


Sementara Calista yang ada di dalam mobil melirik Leo disertai perasaan yang begitu tak menentu. "Leo, apa sebenarnya yang telah terjadi? Apa mereka sudah tahu mengenai musibah yang dialami oleh Nathan?"


"LEBIH BAIK KAU DIAM CALISTA! KAU HARUS MENEBUS KESALAHANMU DAN AKU BELUM MAU MEMAAFKANMU JIKA MASALAH INI BELUM SELESAI!" bentak Leo. Calista pun kini menutup mulutnya sambil menundukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah Rayhan. Saat Leo memarkirkan mobilnya, tampak mobil milik Nathan sudah ada di rumah tersebut. Dia kemudian menarik tangan Calista memasuki rumah itu.


"Selamat malam!" sapa Leo saat memasuki ruang tamu keluarga tersebut. Amanda dan Rayhan pun tersenyum melihat kedatangannya, meskipun di balik senyum itu, raut wajah sedih begitu tergambar di wajah mereka. Di depan Amanda dan Rayhan, tampak Clarissa dan Nathan, wajah mereka terlihat sangat sayu, butiran-butiran bening pun sesekali masih mengalir dari mata Clarissa.

__ADS_1


"Silahkan duduk, Kak Leo, Kak Calista."


"Terimakasih, apakah anak manja ini sudah menceritakan semua yang terjadi pada kalian berdua?" tanya Leo pada Amanda dan Rayhan.


Rayhan dan Amanda pun mengangguk. "Rayhan, Amanda, maafkan aku. Jika saat itu aku tidak sedang berada di Jepang, tentu aku bisa mencegah kejadian tersebut. Tolong maafkan putraku, ini benar-benar sebuah ketidaksengajaan. Nathan hanya bermaksud menolong Sharen, tidak lebih. Tapi dia malah mendapatkan musibah besar seperti ini, ini benar-benar jebakan."


"Kami mengerti, kami sebenarnya turut prihatin dengan apa yang telah dialami oleh Nathan, meskipun tak bisa kami sangkal jika kami pun merasa sangat kecewa, pernikahan mereka tinggal menghitung hari tapi tiba-tiba mereka harus mengalami musibah seperti ini."


Leo pun menganggukan kepalanya, dia kemudian memandang Nathan yang saat ini juga tengah melihat ke arahnya.


"Aku ingin menikahi Clarissa sekarang juga!" jawab Nathan. Leo pun tersenyum kecut mendengar perkataan Nathan.

__ADS_1


"Ternyata kau punya nyali yang cukup besar." jawab Leo.


"Papa mengertilah, semua yang terjadi di dalam hidupku adalah sebuah musibah, aku pun tidak ingin mendapatkan musibah yang begitu besar seperti itu, fitnah dan paksaan menikah itu sudah sangat kejam bagiku, Pa. Dan aku tidak mau kehilangan orang yang kucintai karena kejadian itu!"


"Aku mengerti, aku mengerti Nathan. Tapi apa Clarissa masih mau menerimamu? Apa keluarganya masih mau menerima dirimu? Itu yang harus kau pikirkan."


Calista kemudian mendekat pada Amanda dan Rayhan lalu berlutut di hadapan mereka. "Amanda, Rayhan, tolong terima putraku, kejadian ini adalah sebuah musibah yang menimpaku putraku, tolong jangan hukum lagi putraku dengan memisahkannya dengan Clarissa, hidup putraku setelah kejadian itu bahkan terasah begitu berat, dia difitnah dan dipaksa untuk menikahi wanita yang tidak dia cintai, sedangkan kalian tahu putraku sangat mencintai putri kalian, saat itu aku berada di tempat kejadian itu, dan memang kami tidak ada pilihan selain menikahkan mereka. Amanda, Rayhan, ini benar-benar kesalahanku!" isak Calista sambil berlutut di depan Amanda dan Rayhan.


Amanda lalu mengangkat tubuh Calista. "Kak Calista, tolong jangan bersikap seperti ini, kami mengerti posisi kalian, dan kami juga ikut prihatin dengan musibah yang dialami oleh Nathan, tapi kami juga tidak bisa memutuskan dan menjawab semua ini karena semuanya ada di tangan Clarissa, dia yang berhak memutuskan nasibnya sendiri, apakah dia mau menerima Nathan kembali atau tidak."


Calista pun mengalihkan pandangannya pada Clarissa dengan tatapan memelas. "Clarissa, aku tahu bagaimana hancurnya perasaanmu, jika kau ingin menyalahkan seseorang, akulah yang pantas disalahkan karena aku yang memaksa Nathan untuk menikahi Sharen padahal dia bersikeras tidak mau melakukan hal itu, tapi kupikir saat itu menikahkan adalah jalan terbaik agar mereka bisa keluar dari masalah tersebut. Maafkan aku Clarissa, maafkan aku yang sudah begitu bodoh mengambil semua keputusan itu, aku terlalu panik sampai tidak bisa berfikir dengan jernih. Kau boleh membenciku Clarissa, tapi tolong jangan hukum putraku, dia sangat mencintaimu. Dia bahkan tidak mau tinggal satu atap bahkan menyentuh Sharen sedikitpun untuk tetep menjaga perasaanmu. Setelah satu bulan, dia akan menceraikan Sharen karena kami memiliki perjanjian hanya menjalani pernikahan ini selama satu bulan saja, tidak lebih. Tolong Clarissa, terimalah Nathan kembali."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Calista, Clarissa pun menggelengkan kepalanya. Melihat gelengan di kepala Clarissa, Calista pun bangkit lalu berlutut di depannya. "Tolong Clarissa, tolong," ucap Calista sambil menangis tersedu-sedu.


"Mama hentikan tangismu! Sudahlah, sudah cukup kita mengiba! Sudah cukup penjelasan yang kuberikan pada Clarissa! Berdiri Ma, tidak pantas Mama memohon seperti itu terus-menerus apalagi pada yang lebih muda, kita pergi dari sini, aku juga tidak akan memilih siapapun diantara mereka karena aku akan pergi sekarang juga dari kehidupan mereka berdua!" teriak Nathan kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu keluar dari rumah itu.


__ADS_2