Bed Friend

Bed Friend
Tes DNA


__ADS_3

"Delia dan Dimas benar-benar ceroboh!" gerutu Vallen saat perjalanan pulang.


"Apa maksud Mama?"


"Kau juga sama saja! Hal seperti itu masih saja kau tanyakan!"


"Mama, aku benar-benar tidak mengerti apa maksud Mama. Ceroboh bagaimana?"


"Cleo, coba kau pikir. Mereka sudah berpisah dengan anak kandung mereka selama dua puluh tahun lebih dan saat bertemu dengan sosok yang mereka pikir anak kandung mereka, mereka langsung menganggap anak itu benar-benar anak kandungnya tanpa melakukan tes DNA terlebih dulu. Itu adalah sebuah bentuk kebodohan, Cleo!"


"Jadi Mama pikir, Dea itu bukan anak kandung mereka? Kenapa aku bisa memiliki orang tua kejam sepertimu, Ma!"


"Mulutmu itu memang sepertinya harus Mama lakban, Cleo. Huh berani sekali berkata seperti itu pada mamamu!"


"Hahahaaha, lagian Mama. Kenapa Mama bicara seperti itu?"


"Memangnya ada yang salah dengan kata-kata Mama?"


"Cleo, apa yang dikatakan oleh Mama ada benarnya. Mereka terlalu ceroboh. Om Dimas dan Tante Delia mungkin terlalu hanyut dalam keadaan dan rasa rindu yang dalam, hingga dia tidak berfikir sampai sejauh itu," timpal Kenzo.


"Jadi kau juga curiga pada Dea, Kenzo?"


"Aku tidak curiga, Cleo. Hanya saja untuk memastikan kebenaran, mereka seharusnya tidak mengambil kesimpulan secepat itu sebelum benar-benar menganggap jika Dea adalah anak kandung mereka. Coba kau pikir, jika mereka sampai salah, bagaimana jika ternyata Dea bukan anak kandung mereka. Jika ternyata anak kandung mereka yang sebenarnya sedang hidup menderita di luar sana? Semua kemungkinan bisa terjadi, Cleo. Jika belum bisa dipastikan secara jelas mereka benar-benar memiliki hubungan darah. Karena pasti akan ada yang tersakiti jika mereka mengambil keputusan secara sepihak seperti ini."


"Maksudmu jika ternyata Dea bukan anak kandung mereka kan?"


"Ya."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Aku akan coba bicara pelan-pelan pada Delia agar mau melakukan tes DNA," sahut Vallen.


"Ide yang bagus, Ma."


"Mama memang pintar, Cleo."

__ADS_1


"Dan aku juga akan mencari tahu tentang latar belakang Dea pada data yang ada di kantorku."


"Itu juga bagus Kenzo, kau memang suamiku yang sangat pintar dan menggairahkan, hahahaha."


"Dasar, hanya itu saja yang kau bisa!" gerutu Vallen.


'Maafkan aku Dea, aku harus melakukan ini. Bukannya aku curiga padamu, hanya saja aku memiliki firasat buruk tentang semua ini. Ahhhh, sekali lagi, maaf,' batin Vallen.


****


Dea tampak masih canggung dengan suasana yang dia rasakan. Sebuah keluarga baru, yang entah mengapa terasa begitu asing baginya. Hangatnya sikap Delia yang penuh dengan kasih sayang, serta keramahan sikap kakaknya, Shakila masih saja membuat dirinya merasa tak nyaman.


Apalagi, saat melihat kemesraan Darren dan Shakila yang ada di hadapannya. Semuanya, terasa begitu menyakitkan baginya. Rasanya begitu sakit saat mengingat masa lalu saat dia hidup di panti dengan segala kekurangan, sedangkan Shakila hidup dengan segala kemewahan, serta bertemu dengan Darren.


'Ah ini benar-benar tidak adil. Kenapa kakakku bisa begitu beruntung sedangkan aku? Hidupku begitu menyedihkan dua puluh tahun terakhir ini. Bahkan status yang kusandang selama ini hanyalah sebagai anak panti asuhan yang dibuang dan tidak memiliki orang tua,' batin Dea.


"Permisi, bisakah aku ke kamar sekarang? Aku ingin beristirahat," ucap Dea.


"Tentu saja, Sachi sayang. Kamarmu ada di atas, di samping kamar kakakmu."


"Iya Ma."


Dea menganggukkan kepalanya lalu bangkit dari atas sofa dan naik ke lantai atas, ditemani oleh Delia.


"Shakila, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."


"Apa, Kak?"


"Sepertinya orang tuamu terlalu ceroboh dalam mengambil keputusan."


"Ceroboh dalam mengambil keputusan? Apa maksudmu, Kak?"


"Shakila, tolong berfikirlah secara jernih. Mereka menarik kesimpulan jika Dea adalah Sachi hanya berdasarkan latar belakang cerita yang mirip dengan apa yang mereka alami saja. Tidak berdasarkan data yang bisa dipercaya, misalnya dengan tes DNA. Shakila sayang, coba kau pikir, bagaimana jika ternyata di hari yang sama ada seorang bayi lain yang mengalami kejadian yang sama seperti yang Sachi alami? Meskipun kemungkinannya itu juga sangat kecil, tapi tidak seharusnya orang tuamu cepat berkesimpulan seperti itu. Lalu, bagaimana jika kesimpulan orang tuamu salah, sedangkan Sachi yang asli masih ada di luar sana?"


"Kau benar juga, Kak. Papa dan Mama memang terlalu cepat mengambil kesimpulan jika Dea adalah Sachi."

__ADS_1


"Iya Sayang. Yang aku khawatirkan jika ternyata Dea itu bukanlah Sachi."


"Lalu, kita harus bagaimana Kak?"


"Kita harus mengambil tindakan, Shakila. Tapi, sebaiknya jangan bilang dulu pada kedua orang tuamu. Biar, kita lakukan ini di belakang mereka agar mereka tidak tersinggung jika kita meragukan tindakan mereka."


"Iya benar, Kak. Jadi kita akan melakukan tes DNA itu secara diam-diam?"


"Ya, kita akan melakukan tes DNA secara diam-diam. Tolong kau ambil sampel dari tubuh orang tuamu, dan juga dari Dea."


"Kak Darren, mengambil salah satu bagian tubuh dari Papa dan Mama itu mudah, aku bisa mengambil rambut yang rontok di sisir mereka, tapi bagaimana dengan Dea? Sepertinya akan sulit mengambil bagian rambut Dea, Kak."


"Shakila, mengambil bagian tubuh itu bukan hanya dari rambut saja, Sayang."


"Lalu?"


"Air liurnya. Kau bisa berpura-pura membuatkan minuman untuk Dea. Lalu setelah dia meminum minuman itu, kita bawa cangkir bekas itu ke rumah sakit."


"Astaga, ke rumah sakit? Bagaimana kalau pihak rumah sakit juga minta persetujuan dari kedua orang tuaku, Kak? Kita tidak mungkin mendapatkan tanda tangan mereka untuk melakukan tes DNA karena kita saja melakukan ini secara sembunyi-sembunyi."


"Kau benar juga, Shakila."


"Lalu kita harus bagaimana?"


"Lebih baik kita bicarakan hal ini dengan Mamaku. Setahuku, Mama Aini punya seorang teman baik yang bekerja di rumah sakit. Namanya Dokter Vallen."


"Oh iya, aku ingat Kak. Dia memang berteman baik dengan orang tua kita."


"Kalau begitu, kita temui Mama Aini sekarang?"


"Ya, kita temui Mama Aini sekarang, aku ingin kita melakukan tes DNA pada Dea secepatnya."


***


Dea yang kini berdiri di balkon kamar, menatap Shakila dan Darren yang masuk ke dalam mobil sambil tersenyum kecut. "Hidupku kini sudah berubah, aku bukan lagi seorang wanita miskin yang bisa dicemooh oleh semua orang. Aku sekarang memiliki kelas, dan kasta yang sama seperti mereka."

__ADS_1


Dia kemudian menatap layar ponsel yang ada di tangannya. Lalu mengusap sebuah foto yang ada di layar ponsel tersebut. "Dulu, kau seperti mimpi bagiku. Aku bagaikan pungguk yang merindukan bulan, tapi aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu. Bukankah strata sosial kita sama? Bagaimana jika aku berharap kembali padamu, Kenzo?


Bukankah aku masih berhak jatuh cinta padamu?"


__ADS_2