
Deru suara mobil yang berhenti sedikit mengagetkan Leo dan Calista yang kini sedang berdiri di depan rumah mereka. Calista yang sedang merapikan dasi yang dikenakan oleh Leo pun melepaskan tangannya lalu melihat seseorang yang kini sedang berjalan menghampiri mereka.
"Putramu sudah datang, Leo," ujar Calista yang membuat Leo mengalihkan pandangannya pada Nathan yang kini sedang berjalan menghampiri mereka. Calista kemudian tersenyum melihat Nathan yang kini sudah berdiri di hadapan mereka sedangkan Leo tersenyum kecut sambil mengangkat salah satu alisnya. Nathan pun membalas senyum Calista lalu menatap Leo dengan perasaan takut. "Nathan," panggil Calista.
"Selamat Pagi Pa, Selamat Pagi Ma," sapa Nathan sambil tersenyum dengan sedikit canggung, perasaan cemas kini mulai merasuk ke dalam hatinya, apalagi melihat tatapan Leo yang masih tidak bersahabat padanya.
"Selamat pagi, Nathan," jawab Calista.
"Papa, Mama. Maafkan Nathan, maaf atas sikap burukku pada kalian berdua. Aku menyesal, tidak sepantasnya aku berbuat seperti itu."
"Kau benar-benar menyesali perbuatanmu atau itu hanya alasanmu untuk mendapatkan hak mu kembali sebagai putraku?" tanya Leo sambil menatap Nathan dengan tatapan matanya yang tajam.
"Tidak Pa, aku benar-benar menyesali semua yang telah kulakukan. Aku memang sangat bodoh, aku baru menyadari semua yang kulakukan hanyalah untuk ambisiku semata, selama ini kupikir semua hal yang ada di dunia ini bisa kubeli dan kuatur dengan uang tapi aku lupa, ada sesuatu hal yang tidak bisa kubeli, yaitu cinta."
"Bagus sekali kata-katamu, Nathan. Kuharap kata-kata yang kau ucapkan juga berasal dari lubuk hatimu, tidak hanya sekedar kata-kata di mulutmu saja."
"Jadi Papa tidak mempercayai kata-kataku?"
"Buktikan dulu semua kebenaran kata-katamu itu, baru aku bisa percaya padamu dan memaafkanmu."
"Lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan agar Papa percaya padaku?"
"Sekarang kutanyakan padamu, siapa yang telah kau sakiti? Apa aku? Ataukah Mamamu? Bukan Nathan, bukan kami."
__ADS_1
"Aku tahu Pa, aku telah melakukan kesalahan pada Kenzo dan Cleo. Aku telah melakukan tipu daya pada Cleo selama bertahun-tahun, aku juga telah menyakiti hati Kenzo, tidak hanya itu saja, aku bahkan telah menghinanya dan menjatuhkan mentalnya."
"Oh bagus jika kau telah menyadari itu. Lalu kenapa kau masih berdiri di sini? Minta maaflah pada mereka setelah itu baru temui aku," sahut Leo sambil menatap tajam pada Nathan.
"Baik Pa, Ma. Aku pergi sekarang," jawab Nathan.
Dia kemudian pamit pada kedua orang tuanya lalu bergegas memacu mobilnya menuju ke rumah Kenzo. Tapi saat dia sudah ada di rumah tersebut, seorang pembantu rumah tangga mereka mengatakan jika Kenzo dan Cleo sedang pergi ke pemakaman salah seorang teman dekat mereka.
"Lebih baik nanti malam atau besok aku ke sini lagi, sekarang aku sebaiknya pergi ke apartemen Clarissa terlebih dulu, mungkin dia membutuhkan sesuatu," ujar Nathan sambil berjalan menuju ke arah mobilnya.
Nathan kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi ke apartemen Clarissa. Dia kemudian mengetuk pintu apartemen itu. Clarissa yang sedang bersantai sambil meregangkan tangannya pun terkejut mendengar ketukan pintu di apartemennya.
"Jangan-jangan itu Kak Nathan, aku harus memakai gips palsu ini lagi," ujar Clarissa sambil memasuki tangannya kembali ke dalam gips. Setelah itu dia pun berjalan ke arah pintu apartemen dan melihat Nathan yang sudah berdiri di depannya.
"Sudah, aku sudah bertemu dengan mereka," jawab Nathan saat menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.
"Lalu mereka sudah memaafkanmu?"
Nathan kemudian menggelengkan kepalanya. "Mereka menyuruhku untuk menemui adik angkatku tapi dia dan keluarganya tidak sedang ada di rumah."
"Oh."
"Nanti malam aku berencana pergi ke rumah mereka tapi sepertinya aku tidak tega meninggalkanmu sendirian."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Kak. Lebih baik nanti malam kau temui mereka saja."
"Besok saja, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu, aku sangat menghawatirkan keadaanmu, jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."
"Kenapa?"
"Karena kau sangat berarti bagiku," jawab Nathan tanpa disengaja yang membuat Clarissa tersipu malu. Setelah menyadari kata-katanya, Nathan pun terlihat salah tingkah.
"Maaf, sepertinya aku salah bicara padamu."
"Tidak apa-apa, terimakasih banyak."
"Untuk?"
"Karena sudah menganggapku sebagai orang yang berarti di hidupmu, aku benar-benar merasa tersanjung."
"Kupikir kau akan keberatan."
Clarissa pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu tiba-tiba Clarissa mendaratkan sebuah kecupan di pipi Nathan.
CUP
"Maaf jika aku sudah lancang, boleh kan aku menciummu?"
__ADS_1