
"Mama!" teriak Devano sambil menghampiri Viona, mamanya.
"Ma, bangun Ma!" teriak Devano. Di saat itulah, suara langkah kaki pun terdengar mendekat ke arahnya.
"Ada apa Devano?" tanya sebuah suara laki-laki yang kini berdiri di belakangnya.
"Mama, Pa! Mama!" teriak Devano. Roni, papa Devano pun mendekat lalu memeriksa keadaan Viona. "Tidak apa-apa Devano, dia hanya pingsan. Pasti dia banyak pikiran jadi seperti ini," ujar Roni.
"Lebih baik kita angkat mamamu masuk ke dalam kamar!"
"Iya Pa."
Mereka kemudian mengangkat tubuh Viona ke dalam kamarnya. Setelah membaringkan tubuh itu di atas ranjang, Devano lalu menggosok-gosokan minyak aromatherapy yang dia ambil di laci nakas di bawah hidung dan di pelipis Viona.
Beberapa saat kemudian, mata Viona pun tampak bergerak. "Mama!" panggil Devano dan Roni.
Perlahan, mata Viona pun terbuka. Dia tampak bingung dan memandang ke arah sekeliling ruangan itu.
"Mama, mama sudah sadar?" tanya Roni yamg kini duduk di tepi ranjang. Dia kemudian memijit pelipis Viona.
"Mama, Mama kenapa? Apa ada sesuatu yang mama pikirkan?"
Viona kemudian menatap ke arah sekeliling lalu menatap sosok Devano yang kini diam terpaku dan terlihat salah tingkah. "Papa! Itu semua gara-gara dia Pa!" bentak Viona.
Devano pun hanya bisa menundukkan wajahnya. '"Maaf," sahut Devano lirih.
Roni kemudian mengalihkan pandangannya pada Devano. "Devano! Apa sebenarna yang telah kau lakukan?"
"Papa.... Maaf."
Viona pun tampak terisak. "Ma, kenapa Ma? Apa yang sebenarnya diperbuat oleh Devano?"
"Devanoooo Pa, Devano... Dia menghamili seorang wanita, Pa!"
Roni pun begitu terkejut mendengar perkataan Viona. "Astaga! Kau memang benar-benar memalukan, Devano! Mau ditaruh dimana muka kami jika Tante Fitri tahu semua ini?" ucap Roni sambil menatap Devano dengan tatapan tajam.
Viona pun menggelengkan kepalanya. "Entahlah Pa, dia memang benar-benar bodoh dan memalukan!" bentak Viona.
"Mama, Devano, lebih baik kita temui wanita itu dan keluarganya. Kita selesaikan semua ini dengan jalan kekeluargaan. Bagaiman?"
"Tidak mungkin Pa! Tidak mungkin!" isak Viona.
"Tidak mungkin bagaimana Ma? Kita masih bisa melakukan jalan damai dengan memberikan uang yang cukup untuk mereka, dan juga membiayai anak itu, anak Devano. Bagaimana? Papa yakin, mereka pasti mau, Ma."
"Tidak Pa! Keputusannya sudah final! Besok Devano akan menikah dengan gadis itu!"
"Kenapa, kenapa harus seperti ini Ma? Kenapa Devano mengambil keputusan sepihak seperti ini?"
Roni lalu mengalihkan pandangannya pada Devano. "Kenapa kau ceroboh sekali, Devano? Kenapa kau ceroboh sekali?" ujar Roni.
"Maaf Pa, sebenarnya bukan aku yang membuat keputusan seperti ini tapi aku juga dipaksa!"
"Kau dipaksa? Siapa yang berani memaksamu? Apa dari pihak keluarga wanita itu? Lancang sekali merela melakukan semua itu padamu!"
Devano lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan Pa, bukan dari pihak wanita itu."
"Lalu siapa yang sudah berani memaksamu seperti itu, Devano? Mau-maunya kau tunduk pada perintah orang lain! Kau seperti tidak punya harga diri saja!"
"Masalahnya tidak sesederhana itu Pa!"
__ADS_1
"Tidak sederhana bagaimana Devano? Memangnya siapa yang memaksamu?"
"Dokter kandungan Luna."
"Apa dokter kandungan? Kau tunduk pada seorang dokter kandungan? Bodoh sekali kau, Devano!"
"Dokter kandungan itu bukan dokter kandungan biasa Pa, karena dia adalah mertua dari Kenzo Mahendrata. Dia mengancam akan menyuruh Kenzo untuk mencabut investasinya di perusahaan kita jika aku tidak mau menikahi Luna, Pa! Bahkan dia juga sudah menamparku sebanyak tiga kali! Dia sungguh wanita paruh baya yang sagat berbahaya!" omel Devano.
Sementara Roni yang mendengar penjelasan Devano hanya bisa terdiam sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Astaga! Kita bagaikan memakan buah simalakama, jika kau tidak menikah dengan Luna maka kita akan gulung tikar, jika aku membatalkan pertunangan ini maka harga diriku yang akan hancur," ucap Roni sambil memijit kepalanya.
"Papa, Devano! Usahakan jangan sampai ada yang tahu pernikahan Devano dan Luna!" pekik Viona.
"Bagaimana caranya Ma?"
"Bukankah pernikahanmu besok akan dilakukan secara sederhana?"
"Tentu saja Ma, yang terpenting aku menikahi Luna, itu sudah cukup!"
"Bagus sekali, Devano. Setelah kalian menikah, kalian tidak boleh tinggal di rumah ini. Hal ini untuk menghindari agar tidak ada yang tahu dan mengenal siapa Luna sebenarnya. Bagaimana?"
"Lalu aku harus tinggal dimana? Di apartemen kita?"
"Tidak Devano! Itu juga terlalu berbahaya!"
"Lalu dimana aku harus tinggal?"
"Kau tenang saja, Mama akan membelikan rumah baru di komplek perumahan untuk kalian. Setelah Luna keluar dari rumah sakit, kalian langsung menempati rumah itu. Mama yakin rahasia pernikahan ini akan aman. Bagaimana?"
"Baik sepertinya itu ide yang bagus, Ma."
"Aku juga setuju," jawab Devano.
****
Keesokan Harinya...
Matahari tampak masih malu-malu dan belum seutuhnya menampakkan cahayanya, saat seorang wanita baru saja selesai dirias oleh seorang MUA. Wanita itu tampak telah berdandan begitu cantik, dengan mengenakan kebaya berpayet sederhana yang melekat pada tubuh indahnya. Rambutnya pun tertata rapi dengan tatanan sanggul modern disertai sebuah mahkota minimalis di puncak kepalanya. Meskipun saat ini dia hanya bisa duduk di atas brankar yang ada di ruang perawatan rumah sakit, tak menyurutkan rasa bahagia di dalam hatinya.
CEKLEK
Pintu kamar perawatan itu pun terbuka, seorang wanita paruh baya, dan sepasang pasangan suami istri yang masih muda tampak memasuki kamar perawatan tersebut.
"Mama, Arka, Kayla," ucap Luna sambil menyunggingkan senyumnya. Rahma kemudian memeluk Luna. "Selamat Luna, akhirnya kau menikah dengan Devano."
"Terima kasih, Ma."
Saat masih asyik bercengkrama dengan keluarganya, tiba-tiba Devano dan kedua orang tuanya pun datang. Melihat Luna yang sudah berdandan begitu cantik, Devano kemudian mendekat ke arah Luna, dan membelai wajahnya.
"Luna, kau cantik sekali," ucap Devano. Luna hanya tersenyum, sambil tersipu malu akan sikap Devano, karena di ruang itu ada keluarga inti dari kedua pengantin dan penghulu yang akan menikahkan mereka.
"Sabar Devano!" teriak Viona.
"Kita mulai sekarang?" tanya penghulu tersebut.
"Ya, kita mulai sekarang, Pak!" ucap Devano bersemangat. Acara ijab qabul pun dimulai, Devano mengucapkan ijab qabul dengan begitu lancar dalam sekali tarikan nafas. "Bagaimana saksi?"tanya penghulu.
"SAHHHH," jawab beberapa orang yang ada di ruangan tersebut bersama-sama. Devano dan Luna kemudian saling bertatapan sambil tersenyum. Sedangkan Viona menatap mereka dengan begitu sinis. 'Dasar wanita jallang! Jangan merasa kau sudah menang, Luna. Lihat saja, tidak akan kubiarkan pernikahan ini berjalan lama! Devano harus menceraikanmu secepatnya karena aku tidak sudi memiliki menantu miskin sepertimu. Hanya satu wanita yang berhak menjadi menantuku, yaitu Sachi!' batin Viona.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Viona dan Roni pun berpamitan. "Kami pulang dulu," ujar Roni pada Devano dan Luna.
"Iya," jawab mereka bersamaan. Viona lalu mendekat ke arah Luna, kemudian memeluknya sambil mencium pipinya. "Jangan pikir kau menang, dasar wanita jallang! Bersiaplah menghadapi kejutan dariku, karena kalian tidak akan kubiarkan hidup bahagia! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi memiliki menantu seperti dirimu! Tidak ada tempat bagi dirimu di keluarga kami!" bisik Viona yang membuat wajah Luna seketika pucat pasi.
Viona lalu melepaskan pelukannya. "Jaga kandunganmu baik-baik Luna," ucap Viona, berpura-pura baik di hadapan semua orang, terutama di depan Devano agar dia tidak curiga.
Viona dan Roni kemudian keluar dari ruang perawatan itu tanpa berpamitan sama sekali dengan keluarga Luna. Devano yang melihat tingkah kedua orang tuanya, hanya bisa berdecak sebal.
"Mama, Arka, Kayla. Maafkan sikap kedua orang tuaku," ucap Devano.
"Tidak apa-apa, Devano," jawab Rahma menutupi rasa sedihnya. Apalagi, saat melihat Luna. Raut kesedihan begitu tergambar di wajahnya, meskipun sejak tadi dia menutupi raut sedih itu dengan senyuman di bibirnya.
'Maafkan aku Luna, jika saja dulu aku memilih untuk mengembalikanmu pada keluargamu, tentu kau tidak akan mengalami nasib seperti ini, disepelekan oleh keluarga Devano. Aku tahu, kau sebenarnya pasti dari kalangan berada. Saat aku menemukanmu saja, semua yang kau kenakan bukanlah barang-barang bayi murahan seperti yang kukenakan pada putri kandungku,' batin Rahma.
***
Satu Minggu Kemudian.
Rahma tampak sedang membereskan pakaian milik Luna di ruang perawatannya, hari ini Luna memang sudah diijinkan pulang. Pulang ke rumah barunya dengan Devano, dan memulai kehidupan rumah tangga yang sebenarnya.
Setelah mengemasi barang-barang milik Luna, Rahma kemudian mendekat pada Luna lalu memeluknya. "Baik-baik, Sayang. Semoga kau bahagia hidup dengan suamimu."
"Iya, Ma. Emhhh..., Mama, sekali lagi maafkan Luna. Luna sudah mengecewakan Mama."
"Kenapa kau harus berkata seperti itu, Luna? Mama memang awalnya kecewa padamu saat mama tahu selama ini ternyata kau sering membohongi mama, tapi setelah tahu yang sebenarnya kau melakukan semua itu untuk mempertahankan pekerjaanmu dan membayar hutang-hutang Arka, Mama bisa apa? Mama yang seharusnya minta maaf karena kau pasti beberapa bulan ini merasa sangat tertekan akan semua keadaan ini. Tertekan oleh sikap adikmu, sikap orang tua Devano, dan hubunganmu dengan Devano yang tak mudah, lalu kau juga harus menanggung kehamilan ini. Seharusnya Mama yang minta maaf. Maafkan Mama, Nak."
"Tidak apa-apa, Ma."
"Untuk saat ini, yang terpenting Devano sudah mau bertanggung jawab atas kehamilanmu, menjadi suami yang bertanggung jawab dan ayah yang baik bagi anak yang ada di dalam kandunganmu, itu sudah cukup bagi Mama."
'Mama, andai saja kau tau, pernikahan ini mungkin juga sebenarnya tidak mudah bagiku. Pernikahan ini berdiri di atas sebuah ancaman dan berjalan bersamaan dengan perjodohan yang masih membelenggu Devano. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya padamu Ma,' batin Luna.
"Kau kenapa Luna? Apa kau memikirkan sikap orang tua Devano? Sebaiknya kau tidak usah memikirkan dia lagi! Devano sangat mencintaimu, pasti dia bisa melindungimu dan mempertahankanmu, Nak."
Luna pun menganggukan kepalanya. "Iya Ma."
"Luna, Mama masih ingat saat kau ada di dalam kandungan Mama, kau bayi yang tenang dan tidak pernah merepotkan, sangat berbeda dengan adikmu, dan entah kebetulan semata atau sebuah pertanda jika saat kalian dewasa menjadi sosok yang berbeda."
"Sudah Ma, jangan diungkit bukankah setiap anak itu berbeda-beda, memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing."
'Mama, kenapa kau harus mengatakan semua ini? Kenapa kau harus berpura-pura padaku, Ma? Aku tahu, aku bukanlah anak kandungmu, dan bayi yang kau kandung, itu bukanlah aku," batin Luna.
"Emh.., iya Luna."
TOK TOK TOK
"Luna apa kau sudah siap? Ayo kita pulang sekarang?" ujar Devano yang kini berdiri di ambang pintu.
"Sudah," jawab Luna.
"Aku pulang dulu."
"Iya Luna," jawab Mamanya. Dia kemudian keluar dari ruang perawatan Luna.
Setelah Mamanya pulang, Devano lalu menuntun tangan Luna keluar dari rumah sakit itu berjalan ke arah mobilnya. Luna lalu melirik Devano sambil tersenyum kecut saat menggengam erat tangannya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah komplek perumahan mewah yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut.
Namun, baru saja mereka turun dari mobil, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka berdua. "Halooo Luna, haiiii Devano, ternyata kalian tetangga baruku? Aku sangat bahagia bisa bertetangga dengan kalian berdua!" sapa sebuah suara seorang wanita.
__ADS_1
'Astaga, dia lagi! Kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi? Bahkan menjadi tetangga kami?' batin Devano sambil menelan ludahnya dengan kasar.