Bed Friend

Bed Friend
Darah Segar


__ADS_3

Aini yang duduk bersama Roy beserta Dimas dan Delia tampak menatap Darren dan Shakila yang kini sedang berjalan masuk ke dalam mobil mereka.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika mereka saling mencintai satu sama lain. Kenapa aku tidak peka sama sekali jika mereka saling mencintai? Orang tua macam apa aku ini?" ujar Aini sambil melirik orang-orang yang ada di samping mereka.


Delia kemudian tersenyum dan menggenggam tangan Aini. "Tidak Aini, ini semua bukan salahmu, tidak ada yang bersalah dalam hal ini. Hanya saja mereka terlalu pintar menyembunyikan perasaan mereka pada kita."


"Kau benar, Delia. Mereka yang terlalu pintar dan kita yang terlalu bodoh," sambung Aini sambil terkekeh.


"Aku juga tidak menyangka jika anak-anak yang dulu kubesarkan bersama-sama ternyata saling mencintai. Ternyata mereka saling memendam perasaan satu sama lain. Aku benar-benar merasa bersalah telah begitu lama menyembunyikan semua ini pada mereka," tambah Roy.


"Tidak apa-apa Kak Roy, jika ada yang patut disalahkan itu adalah aku karena akulah yang membuat semua masalah ini terjadi. Aku yang sudah menitipkan Shakila di sini hingga mereka menganggap jika mereka adalah kakak beradik. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya memendam rasa cinta selama bertahun-tahun karena terhalang oleh sebuah status."


"Tapi Delia, jika kau tidak menitipkan Shakila bersama kami mungkin saja mereka tidak jatuh cinta seperti ini."


Mereka semua pun tersenyum. "Dimas, terima kasih kau telah membatalkan pertunangan Shakila dan Devano. Jika kau tidak membatalkan pertunangan itu, entah bagaimana nasib putraku. Mungkin dia akan patah hati seumur hidupnya."


"Kak Roy, jika aku tidak melakukan semua itu mungkin aku akan menyesal seumur hidupku. Aku banyak berhutang budi pada kalian. Lalu apakah aku akan tega memisahkan dua orang yang saling mencintai hanya untuk memenuhi ego orang tuaku saja? Tidak Kak Roy, aku tidak akan tega melakukan semua itu. Apapun akan kulakukan agar mereka dapat bersatu."


"Terima kasih banyak, Dimas. Lalu bagaimana dengan Sachi?"


"Itulah alasan kedatangan kami ke Jakarta. Kami ingin mencari keberadaan Sachi sampai menemukannya."


"Tapi itu tidak mudah. Sudah dua puluh tahun dia hilang, dan sama sekali tidak ada jejak karena saat itu Delia juga tidak mengingat dengan jelas dimana dia meninggalkan Sachi. "

__ADS_1


"Aini kau jangan bicara seperti itu. Kita tidak boleh menutup semua kemungkinan yang terjadi," sambung Roy.


"Maaf Delia, kalian tenang saja. Kami juga pasti akan membantu kalian mencari Sachi."


"Terima kasih."


"Lalu bagaimana jika Sachi tidak ditemukan? Bukankah Shakila harus tetap menikah dengan Devano jika Sachi juga bisa ditemukan?"


"Kalian tenang saja, aku akan melakukan apapun agar Shakila tidak menikah dengan Devano."


"Tapi bagaimana jika Oma Fitri marah, Dimas?"


"Itu urusanku. Kalian tidak usah memikirkan semua itu," jawab Dimas.


***


"Bukankah itu Shakila? Jadi Shakila juga ada di Jakarta?" ujar Devano saat melihat Shakila yang tengah duduk di sebuah rumah makan. Setelah itu, tampak Shakila menyuapkan makanan pada laki-laki itu dan mereka pun tertawa bersama.


"Siapa laki-laki itu!" ujar Devano sambil mengangkat salah satu alisnya.


"Jangan-jangan laki-laki itu yang dimaksud oleh Om Dimas? Laki-laki yang sudah dijodohkan dengannya sejak mereka ada di dalam kandungan? Cih sungguh aneh!"


Devano kemudian mendekat pada Shakila dan Darren. Namun di saat sedang berjalan mendekat ke arah Shakila, karena sedikit tergesa-gesa dia menabrak seseorang yang sedang berdiri sambil membawa setumpuk berkas hingga wanita itu terjatuh.

__ADS_1


"Awwww!" pekik wanita itu saat terjembab ke atas lantai.


Devano pun menghentikan langkahnya. Dia kemudian melihat seorang wanita yang kini terlihat duduk di atas lantai sambil memungut berkas miliknya.


"Maaf, saya tidak sengaja. Saya memang sedang terburu-buru," ujar Devano. Mendengar suara yang tak asing baginya. Wanita itu lalu mengangkat wajahnya.


Betapa terkejutnya Devano saat melihat wanita yang ada di depannya. "Luna!" panggil Devano.


Luna pun terlihat salah tingkah. "Maaf, saya sedang sibuk," ujar Luna.


Setelah selesai memungut berkas-berkas miliknya. Luna pun mencoba berdiri, namun tiba-tiba perutnya terasa amat sakit.


"Awwwwww perutku!" pekik Luna kembali.


"Kau kenapa Luna? Ayo kubantu! Aku juga perlu bicara denganmu," ujar Devano.


"Tidak apa-apa, Tuan Devano! Maaf, saat ini saya sedang sibuk. Saya harus kembali ke kantor," jawab Luna ketus.


Luna yang merasakan rasa sakit di perutnya semakin menjalar ke seluruh bagian tubuhnya kini berjalan dengan begitu tertatih-tatih. Devano pun hanya menatap kepergian Luna sambil tersenyum kecut.


"Sombong sekali!" gerutu Devano sambil menatap kepergian Luna. Namun secara tak sengaja, tiba-tiba dia melihat darah segar yang mengalir di kaki Luna.


"Astaga, apa itu? Kenapa ada darah di kaki Luna?" ujar Devano sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


__ADS_2