Bed Friend

Bed Friend
Menunggu Jawaban


__ADS_3

Sementara itu, Olivia yang kini begitu terkejut saat melihat Laurie yang ternyata telah sadarkan diri, perlahan mendekat ke arahnya.


"Laurie!" panggil Olivia lirih diiringi isak tangis.


"Mama...," jawab Laurie. Olivia kemudian memeluk Laurie dengan begitu erat sambil menangis tersedu-sedu. Sebuah pemandangan yang begitu mengharukan bagi Alvaro karena dia tahu sejak menikah dengan Zack, Laurie memang tidak pernah diijinkan untuk bertemu dengan keluarganya, termasuk kedua orang tuanya


"Kau sudah sadarkan diri Laurie?" Laurie kemudian menganggukkan kepalanya.


"Iya ma, aku sudah sadar."


"Sejak kapan kau sadarkan diri? Bukankah tadi saat mama meninggalkanmu bersama Zack, belum ada tanda-tanda kalau keadaanmu membaik."


"Se.., sebenarnya aku sadar sejak beberapa hari yang lalu."


"Apa? Jadi kau sudah membohongiku?"


"Maafkan aku ma, ini semua salahku, dan tolong mama jangan marah pada Dokter Alvaro karena aku yang memintanya untuk menyembunyikan semua ini. Aku yang meminta pada Dokter Alvaro untuk menyembunyikan kondisiku yang sebenarnya pada kalian, karena aku tidak ingin kalian semua dalam bahaya."


"Astaga Laurie, apapun yang terjadi kami tetap akan melindungimu. Tolong jangan berpikiran seperti itu, kita adalah satu keluarga. Tentu saja mama dan papa akan melindungimu begitu pula Vans, Om Leo, dan Tante Calista. Kami semua akan melindungimu semampu yang kami bisa, Laurie."


"Maafkan aku ma, aku hanya tidak ingin merepotkan kalian semua kalau Zack tahu aku sudah sadarkan diri, karena dia pasti akan membawaku berpisah dari kalian semua, dan memberikan ancaman lagi kalau kalian tidak mau menuruti permintaan Zack. Bagiku, sudah cukup Zack menyakiti orang terdekatku. Sudah cukup Derick yang menjadi korban kejahatan dari Zack."


"Iya Laurie, mama mengerti Nak. Jadi tadi kau dengar apa yang dikatakan Zack padamu? Apa dia benar-benar ingin meninggalkanmu?"


"Iya ma, tapi hanya untuk sementara saja. Tadi malam, aku dan Alvaro memang sudah merencanakan semua ini. Alvaro sengaja berpura-pura melakukan observasi padaku dan mengatakan kalau hasil observasi itu jika separuh tubuhku sudah lumpuh. Kami beranggapan Zack mau meninggalkan aku kalau dia tahu aku lumpuh, tapi kenyataannya tidak. Dia hanya pergi sementara karena merasa berdosa padaku. Kalau aku sudah sembuh, dia akan kembali lagi padaku."


"Astaga, Zack memang sangat sulit untuk melepasmu, Laurie."


Laurie pun menganggukkan kepalanya. "Tante Olivia, karena itulah sebelum Zack kembali kita harus bertindak cepat. Laurie harus berpisah dengan Zack, Tante. Mereka harus segera bercerai."


"Tapi itu juga bukan jaminan Alvaro, Zack bisa saja menculik putriku, sama seperti dulu. Lalu menikahinya secara paksa kembali."


"Karena itulah setelah masa idah Laurie selesai, Laurie harus menikah dengan laki-laki lain, agar dia tidak mengganggu Laurie. Aku tahu, rencana itu tidak sepenuhnya bisa membuat Laurie terlepas daru Zack, tapi setidaknya Zack memiliki batasan untuk tidak mencampuri hidup Laurie."

__ADS_1


"Kau benar, Alvaro. Lalu, apakah kita juga harus mencari calon suami untuk Laurie? Bukankah itu tidak mudah, Alvaro?"


Alvaro kemudian tersenyum kecut. "Tante Olivia, kalau diijinkan bolehkah aku menikahi Laurie?" tanya Alvaro yang membuat Olivia begitu terkejut mendengarnya.


***


Beberapa saat kemudian, Alvaro tampak tersenyum simpul sambil berjalan ke ruangannya. Entah mendapat keberanian darimana tiba-tiba dia mengatakan pada Laurie dan Olivia kalau dia ingin menikahi Laurie. Bisa dibilang itu sebuah kata hati yang spontan terucap dari bibirnya. Laurie dan Olivia memang belum menjawab permintaannya, mereka meminta waktu karena tidak mau membahayakan nyawa Alvaro.


Alvaro pun tak tahu apa yang ada di dalam hatinya, dia memang tertarik pada kecantikan Laurie. Tapi, Alvaro belum mau menyebut itu sebagai cinta. Karena ketertarikan pada fisik tidak sama dengan cinta. Cinta adalah sebuah rasa yang mengalir indah di dalam hatinya, dan bukan hanya berdasar pada fisik semata. Meskipun tak dapat dipungkiri kalau Alvaro tidak hanya tertarik pada fisik tapi juga ada sebuah dorongan dari dalam hati untuk bisa melindungi Laurie. Lalu kalau sudah sejauh ini, apa masih belum layak disebut dengan cinta? Bagi Alvaro, ini rasanya masih terlalu naif.


Saat sedang asyik melamun sambil menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangannya. Tiba-tiba sebuah panggilan mengagetkan dirinya.


"Dokter Alvaro!" panggil sebuah suara dari arah belakangnya. Alvaro kemudian membalikkan tubuhnya, dan di saat itu pula seorang wanita berlari ke arahnya lalu memeluk tubuhnya begitu saja.


"Alvaro!"


"Nala, jangan memelukku di sini. Malu..,"


Nala kemudian melepaskan pelukannya, lalu tersenyum dengan begitu ceria pada Alvaro.


Alvaro pun tersenyum mendengar perkataan Nala. "Ada apa kau datang ke sini, Nala? Apa kau ingin bertemu dengan Laurie? Ada kabar baik, Laurie sudah sadarkan diri."


"Apa? Laurie sudah sadarkan diri?"


"Iya Nala."


"Syukurlah! Aku sangat bahagia, Alvaro!" pekik Nala yang saat ini begitu girang mendengar kabar tersebut.


"Ya, silahkan kau temui Laurie, Nala."


"Iya, nanti aku akan menemuinya. Tapiii, aku ingin bertemu denganmu dulu, Alvaro. Karena waktuku tak banyak, sebentar lagi aku mau pergi Alvaro."


"Pergi? Kau mau pergi kemana, Nala?"

__ADS_1


"Aku ada urusan bisnis ke Macau, Alvaro. Karena itulah aku datang ke sini dan menemuimu untuk mengatakan sesuatu padamu."


Nala memainkan telunjuk jarinya sambil melirik Alvaro. "Ada apa Nala? Apa yang ingin kau katakan?"


Nala kemudian menggengam tangan Alvaro. "Alvaro liat aku."


Alvaro kemudian balas menatap Nala. "Alvaro, apa aku cantik?"


"Sangat cantik."


"Apa aku menarik?"


Belum sempat Alvaro membuka suaranya Nala sudah terlebih dulu menjawab pertanyaannya. "Sangat cantik dan menarik, itu yang ingin kau katakan padaku kan Alvaro?"


Alvaro kemudian menganggukkan kepalanya sambil terkekeh. "Karena di matamu kau menganggapku cantik dan menarik, apa itu artinya kau menyukaiku?"


"Ya, aku menyukaiumu. Kau gadis yang sangat menyenangkan."


"Lalu kalau kau menyukaiku, apakah kau juga mencintaiku? Kau juga mencintaiku kan Alvaro? Tolong katakan kau mencintaiku dan mau menungguku sampai aku pulang dari Macau."


Mendengar perkataan Nala, Alvaro pun tersenyum simpul. Dia kemudian menatap Nala dengan tatapan yang begitu hangat dan membuat jantung Nala berdegup begitu kencang.


"Nala dengarkan aku, kau memang cantik dan menarik, aku juga menyukaimu. Tapi terlalu naif kalau aku mengatakan itu sebuah cinta. Nala, maafkan aku, aku belum bisa mengatakan kalau aku mencintaimu, maafkan aku Nala."


Mendengar jawaban Alvaro, Nala pun terlihat begitu sedih, perlahan air mata mulai keluar dari sudut matanya, seketika Alvaro pun merasa bersalah melihat Nala yang saat ini begitu terisak.


"Nala, tolong maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukaimu. Tapi bukankah lebih baik aku jujur padamu, karena saat ini aku belum mencintaimu."


"Kau belum mencintaiku, apakah itu artinya suatu saat kau juga bisa saja jatuh cinta padaku. Aku akan menunggu saat itu, Alvaro."


Alvaro kembali tersenyum. "Nala, tolong jangan menungguku. Aku tidak mau membuatmu kecewa padaku."


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh menunggu?"

__ADS_1


"Karena aku juga sedang menunggu jawaban seseorang, Nala. Aku juga sedang menunggu jawaban..."


__ADS_2