
Mendengar perkataanku, Shakila pun terlihat malu. Dia bergegas masuk kembali ke dalam kamar untuk mengenakan pakaian dalamnya.
Beberapa saat kemudian, dia pun kembali ke meja makan untuk menikmati sarapannya. Sebenarnya aku sudah selesai, namun entah mengapa aku masih ingin disini untuk melihat kecantikannya. Astaga, aku memang gila.
"Tugasmu salah semua," ucapku tiba-tiba memberanikan diri setelah tadi malam aku sempat mengecek tugas miliknya.
"Aku memang kesulitan mengerjakan tugas itu, Kak," jawab Shakila yang kini terlihat begitu canggung. Tapi tak dapat kupingkiri jika tersirat raut bahagia di wajah cantiknya yang terlihat begitu menggemaskan. Ah, benarkah dia bahagia jika aku berbicara padanya?
"Setelah selesai sarapan, aku akan membantumu menyelesaikan tugas itu. Lebih baik cepat selesaikan sarapanmu!" perintaku. Sengaja aku berkata dengan begitu datar, padahal saat itu aku sedang menyembunyikan perasaanku yang sedang begitu berkecamuk.
"Iya Kak," jawab Shakila.
"Aku tunggu di kamar!" perintaku padanya setelah melihat dia sudah menyelesaikan sarapannya. Aku kemudian berjalan ke kamarku. Beberapa saat kemudian, Shakila pun sudah masuk ke dalam kamarku sambil membawa beberapa buku dan laptop miliknya.
"Duduk di bawah saja!" ucapku sambil menunjuk ke arah karpet yang ada di dalam kamar.
Aku kemudian duduk di samping Shakila, meskipun kuakui aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Kami bahkan begitu dekat, entah kenapa aku melihat Shakila sangat gugup, bahkan degup jantungnya pun terdengar begitu kencang.
Aku kemudian mengajari mengerjakan tugas miliknya, meskipun sambil menahan perasaan yang begitu campur aduk. Ah, ingin rasanya waktu ini kuhentikan agar aku bisa terus selalu berduaan dengannya.
Akhirnya, setelah dua jam berlalu, aku pun selesai membantunya menyelesaikan tugas. Aku tak bisa mengendalikan hati ini saat melihat raut lega di wajahnya saat dia sudah menyelesaikan tugasnya, hingga refleks bibir ini pun tersenyum padanya. Shakila pun tampak terpaku melihat senyum di bibirku. Mungkin dia terkejut karena tiba-tiba aku tersenyum padanya.
__ADS_1
"Istirahat sebentar Shakila!" ucapku sambil merebahkan tubuhku di atas karpet. Tiba-tiba Shakila pun ikut tidur di sampingku yang membuatku sangat sulit mengendalikan diriku. Aku lalu menatap wajahnya, wajah cantiknya yang terlihat begitu polos. Rasanya ingin sekali aku memeluknya dan menciumi seluruh tubuh dan wajahnya.
Aku pun semakin tak bisa mengendalikan diriku saat melihat dia memejamkan matanya. Aku kemudian mendekatkan wajahku tepat di depan wajahnya lalu memainkan jari-jariku di wajahnya. Dan, ternyata dia terlihat sangat menikmati sentuhanku padanya. Ini benar-benar gila.
"Kakak," ucapnya lirih saat aku melihatnya dengan tatapan yang begitu dalam. Panggilan kakak yang terucap dari bibirnya sebenarnya membuat hatiku begitu berantakan. Entah setan apa yang merasuk ke dalam tubuhku. Tubuh ini rasanya sudah tidak bisa dikendalikan. Perlahan, aku pun mendekat ke arahnya dan mendekap tubuhnya.
Ya, akhirnya aku bisa memeluk tubuh wanita ini. Wanita yang sangat kudambakan, dan gilanya Shakila pun tak menolakku. Argh betapa bodohnya aku, mungkin dia menganggap ini sebagai pelukan antara kakak dengan adiknya. Tapi tidak denganku, aku menganggap ini sebagai pelukan seorang laki-laki yang begitu mencintai wanita yang ada di depannya.
"Cantik, aku sangat merindukanmu," ucapku secara tiba-tiba. Oh Tuhan, ini memang gila. Aku memang sudah sangat gila hingga mengucapkan kata-kata ini dengan begitu spontan. Kulihat, Shakila pun tampak terkejut mendengar perkataanku, namun bukannya menjauh dariku tapi dia malah semakin mengeratkan pelukannya padaku.
"Aku juga sangat merindukanmu, Kak," jawabnya. Tak dapat kupingkiri, aku sangat terkejut mendengar perkataannya. 'Dia juga merindukan aku? Dia membalas pelukannku? Apakah dia juga memiliki perasaan yang sama denganku?' gumamku.
Shakila pun begitu terkejut, reflek dia melepaskan pelukanku padanya. Lalu duduk di atas karpet itu dan mulai mengemasi tugasnya meskipun dengan sedikit canggung dan salah tingkah. Sementara aku hanya bisa menutupi rasa canggungku dengan berpura-pura memainkan ponselku.
'Sial kenapa aku benar-benar bodoh! Shakila pasti takut padaku! Jangan-jangan dia berfikir yang tidak-tidak padaku!' umpatku dalam hati sambil merutuki diriku sendiri.
"Kak Darren, aku ke kamar dulu. Terima kasih sudah mengajariku," ucapnya padaku. Aku pun hanya tersenyum untuk menutupi rasa malu dan kebodohanku sendiri. Dia kemudian bangkit dari atas karpet lalu berjalan keluar dari kamarku lalu masuk ke dalam kamarnya dengan begitu tergesa-gesa.
Aku pun hanya bisa menatap kepergiannya sambil terpaku. Bodoh, itu lah satu kata yang tepat ditujukan bagiku. Aku sudah membuat adikku sendiri ketakutan karena sikapku. Tapi perasaan ini sudah semakin sulit untuk dikendalikan, lalu apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus pergi meninggalkannya untuk mengubur rasa di dalam hati ini yang semakin sulit untuk kukendalikan?
Aku pun memejamkan mataku, rasanya mata ini mulai mengantuk meskipun tidak dapat kupingkiri jika perasaan ini masih terasa begitu berantakan. Ya, semalaman aku memang tidak tidur. Rasanya memang sangat sulit memejamkan mata saat hati sedang berperang dengan pikiran.
__ADS_1
Tanpa kusadari, aku benar-benar tertidur. Entah berapa lama aku tidur hingga saat kubuka mata ini. Matahari tampak sudah bersinar dengan begitu terik.
"Oh sudah pukul dua belas siang," ucapku saat melihat jam di dinding. Aku kemudian bangkit dari atas karpet. Ya, aku memang tidur di atas karpet di samping ranjangku. Pikiranku saat ini terasa diatas normal. Hati dan pikiran begitu tak sinkron, bahkan rasanya hampir gila. Aku kemudian mengambil sebatang rokok dan mengisapnya di balkon kamarku.
Saat aku sedang mengeluarkan kepulan asap rokok, tiba-tiba aku melihat Shakila saat ini juga sedang duduk di balkon kamarnya sambil menikmati cemilan dan memainkan ponselnya.
Beberapa saat kemudian, kulihat Shakila tertidur di atas kursi malas itu. 'Dasar ceroboh sekali, bagaimana kalau dia sampai masuk angin?' gumamku saat melihat Shakila yang kini terlihat begitu pulas.
Aku kemudian melompat dinding pembatas antara kamarku dengan kamarnya. Aku membereskan meja yang penuh cemilan itu, membuang kantong cemilan yang sudah kosong ke kotak sampah lalu meletakkan secangkir bekas cokelat hangat yang sudah habis ke dapur.
Setelah selesai, aku lalu mendekat kembali ke arah balkon kemudian mengangkat tubuh Shakila ke atas ranjang miliknya. Sejenak, aku melihat wajah cantiknya dan tubuh moleknya yang begitu menggoda.
Aku kemudian duduk di sisi ranjang lalu kembali membelai wajahnya yang terlihat begitu indah bagiku. Naluri kelaki-lakianku pun semakin bergejolak, aku semakin tak bisa menahan rasa ini.
'Tuhan, tolong ampuni aku sekali lagi, ampuni aku Tuhan,' gumamku sambil mendekatkan wajahku kemudian mulai mengecup bibir tipisnya sambil sedikit memberi lummatan.
'Argh, rasanya sangat nikmat, sial!' umatku saat menyadari aku yang kini begitu terbuai dengan lummatan di bibirnya. Aku kemudian melepaskan bibirku, dan betapa bodohnya aku saat itu juga aku baru saja menyadari jika aku baru selesai merokok.
'Semoga dia tidak curiga, semoga bekas rokokku tidak membekas di bibirnya,' gumamku sambil berjalan menjauhi Shakila menuju ke arah balkon kamar untuk kembali ke kamarku.
Kini aku masih menatapnya dari ambang pintu balkon kamar, entah kenapa rasanya begitu sulit untuk menjauh darinya. 'Kebersamaan ini adalah luka, bukankah sudah sepantasnya aku pergi untuk tidak semakin menambah luka? Aku akan berusaha untuk ikhlas dengan apa yang Tuhan gariskan dalam hidupku, termasuk kehilanganmu. Karena aku sadar jika aku tidak akan pernah bisa memilikimu. Hubungan ini begitu sulit, karena sulit itu adalah kita.'
__ADS_1