
"Ke rumah sakit? Memangnya ada apa, Ma?"
"Keadaan Laurie memburuk."
"Baiklah, Ma. Luna aku pergi dulu," ujar Alvaro pada Luna.
"Iya Alvaro," jawab Luna.
"Luna kami pergi dulu ya!" sambung Vallen.
"Iya Tante Vallen. Terima kasih banyak sudah menyempatkan diri datang ke pesta pernikahan kami."
"Iya Luna sayang, semoga bahagia," jawab Vallen. Vallen dan Alvaro kemudian pergi dari pesta pernikahan itu, menuju ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit dan bergegas menuju ke ruang perawatan Laurie. Di depan ruang perawatan tersebut, tampak Kenan dan Olivia yang terlihat begitu cemas. Kenan tampak memeluk Olivia yang saat ini sedang menangis.
"Vallen, tolong selamatkan putriku!" pinta Olivia.
"Iya Kak Olive, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Laurie," jawab Vallen.
"Ayo Alvaro!" perintah Vallen. Mereka kemudian masuk ke ruang perawatan Laurie. Di dalam ruang perawatan itu, tampak seorang dokter baru saja meletakkan alat pacu jantung. Jantung Laurie memang sempat terhenti. Namun, jantung itu sudah kembali berdetak.
"Bagaimana dokter?" tanya Vallen pada pada dokter yang menangani Laurie.
"Jantungnya sudah berdetak kembali, Dokter Vallen."
"Syukurlah."
"Iya dokter, nyawanya masih bisa diselamatkan."
"Iya, sekali lagi terima kasih banyak."
"Iya Dokter Vallen, emh permisi saya tinggal dulu karena ada pasien gawat darurat lain yang harus saya tangani."
"Iya Dok, anda tenang saja, sudah ada Alvaro disini yang akan membantu anda menangani Laurie."
"Iya, selamat datang Dokter Alvaro."
"Iya Dokter."
__ADS_1
Dokter yang menangani Laurie kemudian keluar dari ruang perawatan itu. Valen kemudian memanggil Alvaro, yang masih berdiri di dekat pintu.
"Alvaro mendekatlah! Ini pasienmu, namanya Laurie."
Alvaro kemudian mendekat ke arah brankar Laurie, seketika Alvaro terdiam sejenak, tertegun saat melihat wajah cantik yang kini dipenuhi oleh berbagai selang di atas tubuhnya.
Alvaro kemudian memandang wajah cantik itu, wanita itu memang tampak beberapa tahun lebih tua darinya, tapi wajahnya masih terlihat muda.
'Wanita ini, cantik sekali,' batin Alvaro saat melihat wanita cantik yang ada di atas brankar. Alvaro mengagumi wajah cantik itu kembali, wajah cantik itu memang tampak seperti barbie. Meskipun matanya terpejam, dapat terlihat dengan jelas bulu matanya begitu lentik, hidung yang mancung serta bibir mungil yang merekah.
"Alvaro!" panggil Vallen.
"Oh iya ma."
"Dia Laurie, pasien barumu. Coba kau cek kembali kondisinya," ujar Vallen.
Alvaro kemudian mulai mengecek kondisi Laurie, meskipun sebenarnya sangat sulit sekali berkonsentrasi saat memeriksa kondisinya. Tak dapat dipungkiri jika wajah Laurie yang begitu cantik sangat menarik perhatian Alvaro.
'Cantik, tapi sayangnya sudah memiliki suami. Oh Tuhan, apa stok wanita cantik di dunia ini sudah memiliki suami semua?' batin Alvaro sambil terkekeh.
Beberapa kali, Alvaro terlihat salah tingkah saat melirik wajah cantik Laurie. Padahal, wajah cantik itu hanya diam dan tertidur.
"Oh tidak apa-apa, Ma. Aku hanya belum terbiasa berhadapan dengan Laurie."
"Belum terbiasa melihat wajah cantiknya maksudmu?" ledek Vallen. Alvaro pun terlihat salah tingkah, dia kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hati-hati Alvaro, dia sudah memiliki suami!"
"Mama kenapa berkata seperti itu? Aku tidak mungkin tertarik pada wanita yang sudah bersuami."
"Bagus Alvaro, jangan pernah merusak pernikahan orang lain apalagi suami Laurie bukanlah orang sembarangan."
"Bukan orang sembarangan? Apa maksud Mama? Memangnya apa pekerjaan suaminya, Ma?"
"Sangat sulit untuk dijelaskan, Alvaro. Yang jelas dia bukanlah orang main-main, dia benar-benar bukan orang sembarangan, dan kita sebagai orang biasa, jangan pernah coba-coba sampai memiliki urusan dengan mereka."
"Apa maksud Mama? Apa suaminya seorang pejabat atau seorang petinggi di salah satu lembaga penting di negeri ini?"
"Hahaha..." Vallen tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kenapa Mama tertawa seperti itu?"
"Bukan Alvaro, suaminya bukan seperti itu. Dia bahkan tidak ada hubungannya dengan sebuah lembaga. Pekerjaannya sangat sulit untuk dijelaskan."
"Mama, memang sebenarnya siapa suami Laurie?"
"Yang jelas, dia bukanlah orang sembarangan. Dan sebaiknya, kita menghindar saja dari orang-orang seperti mereka. Bahkan, mungkin hampir semua orang di negeri ini bisa saja takut padanya."
"Apa maksud Mama? Aku benar-benar tidak mengerti."
"Alvaro, coba kau pikir pekerjaan apa yang paling ditakuti di oleh semua orang?"
"Pekerjaan yang ditakuti oleh semua orang? Apakah pekerjaan itu yang berhubungan dengan kejahatan? Apakah pekerjaan dia berkecimpung di dunia gelap?"
"Iya Alvaro, bisa dibilang seperti itu. Pekerjaan ini memang berkecimpung di dunia seperti itu."
"Apakah suami Laurie seorang mafia?" tanya Alvaro. Vallen hanya terdiam dan memulaskan senyum tipis di bibirnya.
***
Di tengah rintik gerimis malam, sebuah mobil tampak melaju di atas jalanan yang begitu lengang menuju ke arah sebuah pelabuhan.
Jarum jam yang sudah menunjukkan hampir pukul dua dinihari, serta dinginnya udara yang terasa begitu menusuk tulang, tak menyurutkan beberapa orang yang menunggu kedatangan sebuah mobil di dekat sebuah pelabuhan.
Tak berapa lama, sebuah mobil pun berhenti di depan mereka. Seorang sopir lalu keluar dari mobil tersebut lalu membuka pintu belakang mobil itu, seraya membawa sebuah di tangannya. Setelah pintu belakang mobil itu terbuka, tampak seorang laki-laki mengenakan pakaian formal keluar dari mobil tersebut, dia kemudian berjalan sambil mengambil rokok, lalu menyalakannya.
Dia kemudian mendekat pada beberapa orang anak buahnya yang sudah menunggunya. Saat dia berhenti di dekat orang-orang tersebut, tampak salah seorang anak buahnya menghempaskan tubuh seorang laki-laki yang sejak tadi dia cengkram ke hadapan laki-laki yang baru saja turun dari mobil tersebut.
"Ini dia orangnya, Tuan Zack. Dia yang ternyata sudah menghianati kita!" ujar salah seorang anak buah Zack.
Zack kemudian melihat laki-laki yang terkapar tidak berdaya di depannya, sekujur tubuh laki-laki itu terlihat penuh luka, bahkan wajahnya pun mungkin sudah tak lagi bisa dikenali. Zack menginjak tubuh laki-laki itu lalu melemparkan rokok yang dia pegang ke wajahnya.
"Berani sekali kau bermain-main denganku? Siapa dirimu sebenarnya?" tanya Zack, namun laki-laki itu hanya diam.
"Hai kau tuli apa bisu hah? Siapa dirimu sebenarnya? tanya Zack yang saat ini menatapnya dengan tatapan nanar. Namun, laki-laki itu tetap diam dan hanya balas menatap dengan tatapan sinis.
"Oh jadi kau tidak mau mengatakan padaku siapa dirimu sebenarnya? Baik, itu artinya kau tidak sayang dengan nyawamu! Sekarang akan kuhitung sampai sepuluh, kalau kau tidak mengatakan siapa dirimu yang sebenarnya, kau akan kubunuh sekarang juga!"
Zack kemudian mulai menghitung mundur, namun laki-laki itu tetap diam. Hingga detik berikutnya, suara letusan pistol pun mulai terdengar.
__ADS_1
DORRRRRRR DORRRRR DORRRR