Bed Friend

Bed Friend
Bukan Sekarang


__ADS_3

"Shakila!" panggil Aini dan Fitri saat melihat Shakila yang saat ini pingsan dalam dekapan Aini. Mendengar teriakkan Aini dan Fitri, Dimas dan Delia kemudian melepaskan pelukannya lalu mendekat ke arah Shakila.


"Dimas! Cepat angkat tubuh Shakila ke dalam rumah!" perintah Fitri.


Dimas lalu menganggukkan kepalanya kemudian mengangkat tubuh Shakila ke dalam kamar yang diperuntukkan olehnya.


"Shakila!" ucap Delia lirih saat melihat tubuh putrinya yang saat ini tergolek lemas di atas ranjang.


"Pasti sangat sulit menerima kenyataan ini. Aku tahu, ini bukan hal yang mudah bagi Shakila. Seharusnya aku tidak egois dengan memintamu membawa Shakila sekarang juga, Aini."


"Tidak Delia, dia sudah dewasa. Dia juga berhak mengetahui kenyataan yang sebenarnya! Kita tidak bisa menyembunyikan hal ini terus menerus selama dua puluh tahun."


"Tapi Ma, lihat Shakila. Lihat kondisinya jadi seperti ini, Ma. Aku tidak tega melihat dia seperti ini."


"Delia, ini adalah sebuah proses yang harus dilalui oleh Shakila. Hal ini adalah sebuah kenyataan yang harus diketahui oleh Shakila karena dia berhak tahu jati dirinya yang sebenarnya!"


"Benar Delia, ini adalah bagian dari sebuah proses. Proses yang harus dilalui oleh Shakila. Terkadang kebenaran itu memang pahit, tapi kita tidak bisa selamanya menyembunyikan kebenaran ini, Delia."


Delia kemudian tampak mengambil sesuatu dari tasnya. "Ini minyak angin. Tolong kau usapkan minyak angin ini di bawah hidung Shakila, agar dia cepat sadar."


"Iya benar kata Aini. Lebih baik kau usapkan minyak angin ini, dan pijit kepala Shakila. Aku akan ke belakang sebentar untuk membuatkan teh hangat untuknya!"


Delia pun menganggukan kepalanya lalu mulai berjalan mendekat ke arah Shakila dan duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Sejenak, Delia menatap wajah putrinya. Air mata kemudian kembali menetes membasahi wajahnya. Dia lalu membelai rambut dan wajahnya, memanjatkan sebuah doa saat menyentuh pucuk kepalanya, baru menggosokkan minyak angin di bawah hidung lalu mengoleskannya di keningnya sambil memijit kening Shakila.


'Putriku, sudah lama aku menanti saat-saat seperti ini. Meskipun aku tahu, setiap kemungkinan masih bisa terjadi. Dan kemungkinan terbesar dari kemungkinan yang akan terjadi adalah penolakkan darimu, dan aku siap jika kau menolakku karena aku sadar, aku sangat kotor dan tidak pantas kau anggap sebagai orang tuamu,' gumam Delia sambil menahan sesak di dadanya.


Tak berapa lama, mata Shakila pun terbuka. Saat mata itu terbuka, Delia pun mencoba untuk bangkit dari tepi ranjang. Namun langkahnya dicegah oleh Aini. Delia kemudian menatap wajah Aini yang sedang menggelengkan menggelengkan kepalanya.


"Tetap di sini, Delia. Tetap di sini karena dia adalah putrimu!" pinta Aini.


Fitri yang melihat Shakila sudah terbangun lalu mendekat padanya dan memberikan teh manis hangat padanya.


"Ini Shakila, minum dulu!"


Shakila lalu duduk di ranjang sambil meminum teh hangat yang diberikan oleh Fitri. "Terima kasih, Oma," ucap Shakila.


"Aku tidak apa-apa, mungkin tadi sedikit terkejut karena aku tidak menyangka akan jati diriku yang sebenarnya."


"Maaf," ucap Delia pelan.


"Maaf jika kenyataan ini mengganggu hidupmu dan merusak kebahagiaanmu. Maaf jika kau harus memiliki orang tua seperti diriku. Aku tidak akan memaksamu untuk mau mengakuiku jika aku adalah ibu kandungmu. Aku tidak mau memaksamu, karena kenyataan ini begitu pahit bagimu."


Dimas kemudian mendekat pada Delia dan Shakila. "Benar apa yang ibumu katakan, Shakila. Kami tidak ingin memaksamu untuk mengakui kami sebagai orang tuamu. Kami cukup tahu diri, ini pasti hal yang begitu berat bagimu saat tahu kenyataan jika kami adalah orang tua kandungmu," sambung Dimas.


"Delia, sebaiknya kita keluar sekarang. Biarkan Shakila menenangkan pikirannya."

__ADS_1


Delia kemudian mengangguk. Namun, saat dia dan Dimas akan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu tiba-tiba dia mendengar panggilan dari Shakila.


"Tunggu dulu!"


Delia dan Dimas lalu membalikkan tubuhnya. "Tolong ceritakan padaku apa yang sebenarnya telah kalian lakukan hingga dipenjara selama puluhan tahun lamanya?" ucap Shakila sambil menundukkan kepalanya.


Delia dan Dimas lalu saling berpandangan dan menatap Aini dan Fitri yang kemudian menganggukan kepala mereka.


"Shakila, Dimas dulu adalah mantan suami Mama," ucap Aini mendahului.


"Lalu kami bercerai, namun saat itu Dimas masih sering menggoda Mama hingga kesabaran Papa Roy habis dan memenjarakan Dimas ke dalam penjara."


Aini lalu menganggukan kepalanya pada Delia untuk meminta melanjutkan kisah mereka. "Saat itu, Dimas memiliki masa muda yang sedikit kelam dan nakal. Kehidupan penjara yang keras akhirnya membuatnya terlibat dalam sebuah perkelahian besar yang mengakibatkan salah satu terbunuhnya tahanan oleh Dimas, dan akibat kejadian itu Dimas mendapatkan perpanjangan masa tahanan menjadi dua puluh tahun. Sedangkan salah satu tahanan yang juga menjadi biang kerok dari permasalahan tersebut tidak mendapatkan perpanjangan masa tahanan. Aku merasa sakit, apalagi saat itu aku baru menikah dengan Dimas di dalam penjara beberapa hari menjelang kejadian bentrokan tersebut."


Delia kemudian mengambil nafas dalam-dalam lalu mengehembuskannya sambil menyeka air mata yang membasahi wajahnya.


"Satu tahun setelah kejadian itu, salah satu biang kerok dari kericuhan yang terjadi di dalam penjara akhirnya bebas. Aku kemudian menemui salah satu biang kerok yang sudah bebas tersebut untuk mengakui kejahatannya jika dialah yang menjerumuskan Dimas hingga terjadi perkelahian berdarah itu. Namun dia menolak, bukan hanya menolak tapi dia juga hampir memerkosa diriku. Saat itu aku begitu terpojok, dan saat aku melihat pisau yang ada di dekat kami. Aku tanpa berfikir panjang menusukkan pisau itu begitu saja pada laki-laki itu. Dia akhirnya mati seketika. Saat itu aku begitu panik. Aku kemudian lari untuk mengambil anakku dan membawanya ke Jakarta, lalu menitipkannya pada Aini. Setelah itu, aku kembali ke Jogja dan menyerahkan diri pada yang berwajib. Itulah masa lalu kami yang begitu kelam, Shakila. Itulah alasannya aku mengambil keputusan untuk menitipkanmu pada Aini, karena kami tidak ingin kau tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat yang sewaktu-waktu bisa saja mencemoohmu. Kami tidak ingin kau tertekan, kami tidak ingin kau hidup dalam tekanan mental dan psikologis. Kami hanya ingin kau hidup bahagia, sebagaimana anak-anak lainnya yang hidup dalam kasih sayang dari orang tua yang lengkap, dan bukan orang tua yang bermasalah seperti kami, sungguh kami tidak ingin melihat kau terluka, Shakila," ucap Delia diiringi isak tangis setelah menutup kalimatnya.


"Shakila, maafkan kami. Maaf jika kau harus memiliki orang tua seperti kami. Kami terima apapun keputusan mu, termasuk jika kau tidak mau menganggap kami sebagai orang tua kandungmu," tambah Dimas sambil menatap Shakila yang saat ini terlihat begitu hancur. Wajahnya bahkan terlihat begitu berantakan dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya.


Dimas lalu memandang Delia sambil menghapus air mata yang mengalir di wajah istrinya. "Ayo Delia! Biarkan dia tenang."


Delia kemudian mengangguk kepalanya, lalu sepintas melirik pada Shakila yang saat ini masih duduk di atas ranjang, menangis dalam dekapan Fitri sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


'Mungkin bukan sekarang, tapi di masa depan aku bisa merasakan jawaban dari doa yang selalu kuulang di setiap sujudku,' gumam Delia sambil berjalan meninggalkan Shakila.


__ADS_2