
Sepuluh Hari Kemudian...
Shakila tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. "Sudah sepuluh hari, sudah sepuluh hari aku masih belum juga mendapatkan jawaban darimu. Apa kau tidak membaca semua pesanku, Kak?" keluh Shakila sambil menggigit bibir bawahnya.
Dia kemudian menempelkan ponselnya kembali ke samping telinganya, namun hanya sebuah tanda panggilan tanpa jawaban yang didengarnya.
"Kak Darren, haruskah aku menyusulmu dan menjelaskan yang sebenarnya tentang hubungan kita berdua? Kenapa hatimu begitu keras sampai menjawab panggilan ataupun membuka pesanku saja pun kau tak mau, Kak!" gerutu Shakila kembali. Dia kemudian duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Lalu membuka galeri ponselnya dan melihat foto-foto kebersamaannya dengan Darren.
Sebuah foto terakhir yang begitu dia sukai adalah saat foto kebersamaan mereka sebelum Darren pergi ke Australia. Beberapa jam sebelum Darren pergi ke Australia, saat mereka sedang duduk di balkon kamar Shakila.
Dalam foto itu, tampak Shakila tengah duduk dalam dekapan Darren. Di foto yang lain, tampak mereka sedang menempelkan bibir mereka satu sama lain.
"Kak Darren, ternyata cinta kita tidak pernah salah, Kak. Benar dugaanku jika hati tidak akan pernah berbohong. Hati tidak akan pernah salah menentukan dimana tempat dia akan berlabuh. Bertemu denganmu, adalah sebuah takdir. Jatuh cinta padamu adalah sebuah pilihan, dan bukan hanya sebuah kebetulan. Tapi mengapa, rasanya aku seperti berjuang sendiri? Apakah saat ini aku sudah tidak berarti lagi bagimu, Kak?" ujar Shakila.
Tanpa dia sadari, air mata kini menetes membasahi pipinya. "Kak, kenapa kau begitu kejam padaku? Apakah di sana kau benar-benar sudah melupakan aku, dan sudah ada penggantiku di dalam hatimu? Oh Tuhan, jika dia benar-benar sudah menemukan penggantiku, ajarkan aku untuk bisa ikhlas. Meskipun kata ikhlas itu hanya terucap di bibir saja, sedangkan hati ini? Tidak usah ditanya rasa sakitnya seperti apa. Hati ini tidak akan pernah bisa ikhlas karena kisah ini terlalu kejam bagiku. Dulu, cinta ini selalu terhalang oleh status, namun saat status itu tidak lagi menjadi penghalang, lagi-lagi aku harus bertemu dengan kekecewaan karena mungkin hatimu bukan lagi milikku. Tapi aku bisa apa? Berkali-kali aku dikecewakan hati ini tetap saja memilihmu, meskipun memilihmu itu artinya bersahabat dengan luka," ucap Shakila diiringi isak tangis.
CEKLEK
Tiba-tiba pintu kamar itu pun terbuka. Shakila kemudian bergegas menghapus air matanya dengan kasar lalu merapikan penampilannya.
Senyum pun tersungging di bibirnya saat melihat Fitri masuk ke dalam kamarnya. "Oma," sapa Shakila.
Fitri kemudian duduk di sofa, di samping Shakila. Dia kemudian membelai wajah Shakila yang saat ini terlihat begitu sendu.
"Kau kenapa Shakila sayang?" tanya Fitri dengan begitu lembut.
"Tidak apa-apa, Oma. Aku tidak apa-apa."
"Jangan berbohong, matamu tidak bisa berbohong. Pasti ada yang sedang kau sembunyikan."
"Tidak Oma, percaya padaku. Matamu tidak bisa berbohong jika ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan, Shakila."
Mendengar perkataan Fitri, Shakila pun hanya menarik sudut bibirnya. "Kakakmu?" tanya Fitri sambil mengerutkan keningnya.
"Apa maksud Oma?"
"Apa kau masih menyukai laki-laki itu? Kakakmu? Yang membuatmu hampir tidak memiliki harapan untuk hidup?"
"Oma?" sahut Shakila sambil mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Kau pikir Oma tidak tahu jika kau menyukai laki-laki itu? Dia Darren, kakakmu itu kan? Shakila, Oma juga pernah muda. Oma bisa melihat kapan kau jatuh cinta."
__ADS_1
Shakila pun hanya tertunduk sambil meneteskan air matanya kembali. Melihat Shakila yang kembali menagis, Fitri kemudian mengangkat dagu Shakila kemudian menyeka air matanya.
"Jangan menangis, Sayang. Jangan menangis. Cucuku tidak boleh seperti ini. Cucuku tidak boleh bersedih."
"Oma," ucap Shakila lirih.
"Shakila, dengarkan aku. Sekarang Oma tanya padamu, apa kau yakin dengan cintamu itu?"
Shakila kemudian menganggukan kepalanya. "Sangat yakin, Oma. Aku sangat mencintai Kak Darren."
"Kau sangat mencintainya tapi bagaimana dengan kakakmu itu? Bagaimana dengan Darren? Apa kau yakin dia memiliki perasaan yang sama denganmu?"
"Ya, kami saling mencintai satu sama lain, Oma. Bahkan Kak Darren yang terlebih dulu mengutarakan perasaannya padaku. Sedangkan awalnya, aku selalu menolak rasa ini karena kupikir kami masih ada ikatan saudara. Namun, ternyata hati tidak pernah bisa berbohong, Oma. Aku semakin tidak bisa menyangkal perasaanku padanya. Kami saling mencintai satu sama lain."
"Jika kalian saling mencintai, tapi kenapa dia harus pergi meninggalkanmu?"
"Bukankah Oma tahu, jika dulu cinta kami terhalang oleh status? Kami berfikir jika kami adalah seorang kakak beradik, dan itulah alasannya dia pergi meninggalkanku. Dia pergi menjauh dariku untuk mengubur semua rasa di dalam hatinya untukku, dia menjauh dariku untuk menghapus semua rasa cintanya padaku. Dia pergi dan menjauh untuk mengubur dan menghapus rasa cinta di dalam hati kami, Oma. Namun bagiku, rasanya semua itu terasa begitu sulit. Aku sangat mencintainya dan tidak pernah bisa berhenti melupakannya, aku sangat mencintainya, Oma!" isak Shakila.
Fitri kemudian mendekap Shakila ke dalam pelukannya. "Tenangkan dirimu, Shakila. Tenangkan dirimu," ucap Fitri sambil mengelus punggung Shakila.
Saat melihat Shakila yang sudah terlihat lebih tenang, Fitri kemudian membuka suaranya kembali. "Oma tahu, Oma tahu kau begitu mencintainya. Tapi, coba kau berfikir secara jernih, Shakila. Sekarang, coba pikir dengan logikamu, Shakila. Kau memang masih mencintainya, tapi bagaimana dengan dirinya? Apa dia juga masih mencintaimu sama seperti cintamu padanya? Apa kau tidak sadar jika saat ini kau sedang berjuang sendiri, Shakila."
Shakila kemudian menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Tidak Oma," jawab Shakila lirih.
"Shakila, apa kau tidak lelah mengejar cinta dari orang yang saat ini sudah tidak mempedulikanmu? Apa kau tidak lelah, Shakila?"
"Apa maksud, Oma?"
"Shakila, jika dia masih mencintaimu. Dia tidak mungkin bersikap dingin seperti ini padamu. Paling tidak, dia masih meluangkan waktu untuk sekedar memberi kabar padamu ataupun membalas pesanmu. Tapi dia tidak pernah melakukan itu kan?"
Shakila kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. Fitri kemudian tersenyum kecut saat melihat Shakila yang kini mulai terlihat bimbang.
"Shakila, tahukah kau jika Oma sangat menyayangimu? Oma ingin kau bahagia, Oma ingin kau mendapatkan semua yang terbaik dalam hidupmu, dan Oma tidak ingin kau terpuruk dalam kisah cinta yang tiada ujungnya seperti ini, Oma."
Shakila kini tampak mengerutkan keningnya.
"Begini Shakila, Oma hanya ingin kau bahagia, Oma hanya ingin kau tidak lagi merasakan lagi luka. Oma tidak ingin kau kembali tersakiti, karena itulah Oma minta padamu, cobalah lupakan Darren dan buka lembaran baru. Oma yakin kau pasti bisa membuka lembaran baru, Sayang. Kau cantik, pasti banyak laki-laki yang mau denganmu, jangan sia-siakan hidupmu untuk memikirkan laki-laki yang sudah tidak lagi mencintaimu, Shakila."
"Aku benar-benar tidak mengerti, Oma."
"Shakila, nanti malam kau akan kuperkenalkan dengan seorang laki-laki, dia juga cucu dari teman bisnis Opa mu dulu, namanya Devano."
__ADS_1
"Tidak Oma, aku tidak mau."
"Tapi Shakila, apa kau mau seumur hidupmu kau habiskan untuk mencintai laki-laki yang sudah tidak mencintaimu lagi? Tolong pikirkan ini baik-baik Shakila. Kau tidak bisa terus-terus seperti ini."
"Tapiiii, Omaaa."
"Tolong Shakila, tolong jangan kecewakan Oma. Hanya ini yang Oma minta darimu, Oma tidak meminta apapun darimu, kecuali hal ini, Shakila."
Shakila pun hanya terdiam, tiba-tiba di saat itulah ponselnya berbunyi. Shakila kemudian menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat sebuah nama di layar ponselnya.
NOTE:
mampir juga ya ke karya Kak Yunita Yanti dijamin ceritanya keren abis deh.
Eps. 06. Kesalahan Satu Malam
#TerjebakDalamPerselingkuhan
"Terima kasih banyak atas pelayananmu yang sangat luar biasa malam ini, Nona! Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi antara kita malam ini," ucap pria itu sambil mendekat ke ranjang serta mengecup bibir ranum Sherina yang sudah tidak sadar dan tertidur dengan lelapnya.
"Selamat tinggal, Cantik. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi," lirih pria itu di telinga Sherina.
Dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh bugil Sherina dan segera keluar dari kamar hotel itu meninggalkan Sherina seorang diri disana.
Beberapa menit tertidur pulas, Sherina sedikit demi sedikit mulai sadar. Dia mengerjapkan matanya yang sedikit silau oleh cahaya lampu di kamar itu.
"Aku ada dimana? Kenapa kepalaku rasanya pusing sekali?" Perlahan Sherina bangun dari tempat tidur. Namun, ia merasa sangat linglung.
"Hah ... apa yang terjadi denganku?" Sherina terlonjak kaget ketika menyadari tubuhnya sedang tidak mengenakan sehelai benangpun saat itu.
"Aaww!" ringisnya seraya menyentuh bagian kewanitaanya yang terasa perih. Bisa dibayangkan betapa ganasnya seseorang telah menjamahnya malam itu.
"Siapa yang membawaku ke tempat ini dan apa yang tadi sudah terjadi?" Sherina memukul-mukul kepalanya, mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi terhadap dirinya.
"Apa mungkin pria yang aku temui di club itu yang membawaku kesini? Tapi siapa dia? Aahh, aku tidak ingat sama sekali," sesal Sherin. Meski berusaha keras mengingat siapa pria yang sudah bersamanya, tetapi karena saat itu dia dalam pengaruh alkohol, dia tidak bisa mengingatnya sama sekali.
Gadis itu kemudian mengendus bantal di sebelahnya, walau hanya samar-samar, dia bisa mencium aroma maskulin tubuh seorang pria masih menempel di bantal itu.
"Dasar laki-laki pengecut. Setelah melampiaskan hasratnya padaku, dia langsung kabur begitu saja!" sungutnya kecewa dan merasa frustasi. Namun, dia tidak tahu harus meluapkan amarahnya kepada siapa. Dia sama sekali tidak mengingat siapa laki-laki yang tadi sudah melewatkan malam bersamanya. Bahkan, ini pertama kali dalam hidupnya ada seorang pria yang meninggalkannya tanpa jejak, bahkan setelah laki-laki itu puas menikmati tubuhnya.
__ADS_1