
"Ada apa Vansh?" tanya Reni saat melihat Vansh yang termenung sambil menatap sekotak kue pemberian dari Maya. Namun Vansh tetap terdiam dan terlihat sibuk dengan lamunannya.
Reni kemudian menepuk pundak Vansh. "Vansh, apa kau mengingat kue itu?"
"Apa maksud Mama?"
"Coba kau makan kue itu Vansh!"
Mendengar perkataan Reni. Vansh pun tersenyum. "Mama, sebenarnya tadi aku sudah memakan kue itu saat pertama kali datang ke rumah ini, saat itu Mama sedang pergi dengan salah seorang teman Queen ke makam."
"Oh, jadi kau sudah makan kue itu Vansh?"
"Iya Ma, aku sudah makan kue itu."
"Lalu bagaimana? Apakah kau merasakan sesuatu?"
"Apa maksud Mama?"
"Vansh, bukankah tadi mama sudah mengatakan padamu jika dulu ada seorang wanita yang jatuh cinta padamu dan selalu memberikan kue cokelat untukumu?"
"Ya, apa ada hubungannya dengan kue cokelat itu?"
Reni pun menganggukkan kepalanya. "Iya Vansh, wanita yang membawa kue cokelat itu adalah wanita yang dulu selalu memberikan kue cokelat untukmu, dia adalah sahabat dari Queen, dulu mereka bersekolah di sekolah dasar yang sama," jawab Reni sambil menatap Vansh dengan tatapan nanar.
"Be... Benarkah Ma? Ja... Jadi wanita yang memberikan kue cokelat ini yang dulu pernah menyukaiku?"
"Bukan hanya dulu tapi mungkin sampai saat ini, dia juga sepertinya masih menyimpan perasaan cinta yang begitu besar untukmu Vansh," ucap Reni dengan bibir bergetar. Vansh lalu menatap Reni yang kini menghapus air mata yang ada di pipinya. Raut wajah kecewa begitu tergambar jelas di wajahnya.
"Mama sungguh merasa sangat bersalah padanya. Pasti bukan hal yang mudah baginya menjalani semua ini. Belasan tahun dia hidup dengan menahan rasa sakit karena perbuatan Queen, dia menahan rasa sakit yang tiada bertepi sedangkan Queen, hidup begitu bahagia dengan mendapatkan cinta dan kasih sayang yang begitu besar darimu, Vansh. Mama sungguh merasa bersalah padanya!"
Reni pun kian terisak, sedangkan Vansh hanya bisa diam sambil menahan perasaannya yang begitu berkecamuk. Berbagai pikiran pun kini menari di dalam benaknya.
'Queen, kupikir kehilangan dirimu untuk selama-lamanya adalah hal paling menyakitkan yang pernah kurasakan di dunia ini, tapi ternyata bukan itu, bukan itu tapi kebohongan yang kau lakukan padaku. Aku sangat kecewa padamu, Queen. Aku sangat kecewa padamu kenapa kau sampai berbuat seculas itu?' gumam Vansh.
__ADS_1
"Mama, sudahlah Ma. Sudah jangan menyesali semua ini. Ini sudah lama berlalu, Ma. Sebenarnya aku pun merasa sangat kecewa pada Queen, tapi untuk saat ini Queen sudah meninggal. Sebaiknya, kita tidak boleh membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal," ucap Vansh sambil menggenggam tangan Reni.
"Jadi kau mau memaafkan Queen?" tanya Reni yang hanya dijawab senyuman oleh Vansh, hingga perlahan dia pun menganggukkan kepalanya meskipun dengan penuh keraguan.
"Terima kasih banyak, Vansh. Mama tahu ini pasti bukan hal yang mudah bagimu, kebersamaanmu dengan Queen itu bukanlah waktu yang singkat dan kau harus mendapatkan kenyataan seperti ini. Mama yakin, hatimu pasti sangat hancur, iya kan Vansh?"
"Mama, sudahlah. Aku sudah tahu tentang semua kebenaran yang selama ini telah Queen tutupi, ini sudah cukup bagiku. Satu bulan terakhir ini, hidupku terasa begitu penuh misteri. Tanda tanya besar selalu hadir di dalam benakku. Dan sekarang, tanda tanya besar itu sudah terjawab, itu sudah cukup bagiku Ma."
"Mama tau kau pasti merasa sangat hancur. Iya kan? Raut wajahmu begitu menyiratkan jika untuk saat ini kau benar-benar merasa sangat hancur."
"Mama..."
"Vansh, sebenarnya Mama memanggilmu datang ke rumah ini bukan hanya untuk menceritakan tentang rahasia itu, tapi ada hal lain yang ingin Mama bicarakan denganmu."
"Hal lain?" tanya Vansh sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, apa kau tidak ingin tahu siapa wanita yang selalu mengirimkan kue cokelat itu untukmu?"
Vansh pun termenung, degup jantungnya kini terasa begitu kencang. 'Aku tidak menyangka jika selama ini aku dicintai oleh seorang wanita dengan begitu tulus. Aku memang benar-benar bodoh! Kenapa setelah kecelakaan itu aku tidak pernah menanyakan tentang semua yang pernah terjadi pada teman-temanku ataupun Daddy dan Mommy. Setelah kecelakaan itu, aku seperti hidup dalam bayang-bayang Queen, kupikir Queen sering membatasiku melakukan segala hal agar aku mengingat semua masa laluku tapi ternyata dia melakukan semua itu hanya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Oh Queen, aku benar-benar tidak menyangka jika kau tega berbuat seperti itu padaku, lalu siapa sebenarnya wanita itu?' gumam Vansh sambil tersenyum getir.
"Oh, e iya ma. Ada apa?"
"Vansh, mama tahu kau di dalam hati kau pasti bertanya-tanya tentang wanita itu kan! Kau pasti ingin tahu wanita itu kan Vansh?"
"Apa aku mengenalnya, Ma?"
"Entahlah, mama tidak tahu kau mengenalnya atau tidak. Wanita itu memiliki paras yang cukup cantik, namanya Maya," ucap Reni yang membuat jantung Vansh seakan berhenti berdetak mendengar nama itu disebut.
"Ma.. Maya?" ucap Vansh lirih dengan bibir bergetar dan suara yang terbata-bata.
"Iya Vansh namanya Maya, apakah kau mengenalnya?"
"Aku mengenal seseorang yang bernama Maya, tapi aku tidak tahu Maya yang kukenal itu sama seperti yang Mama maksud atau bukan."
__ADS_1
"Sebentar, aku punya fotonya Vansh."
Reni lalu mengambil ponselnya dan memperlihatkan seorang wanita berwajah oval dengan potong rambut sebahu dan berponi.
"Astaga!" pekik Vansh.
"Apa kau mengenalnya Vansh?"
Vansh pun hanya termenung lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa kau mengenalnya, Vansh?" tanya Reni kembali.
"Iya Ma, beberapa hari ini aku sempat berurusan dengan dia karena beberapa hari yang lalu dia berseteru dengan sepupuku, Nathan."
"Ja.. Jadi, kau sudah mengenal Maya?"
Vansh pun menganggukkan kepalanya. "Ya, aku sudah mengenal Maya."
Reni lalu menggenggam tangan Vansh. "Vansh, lebih baik aku cepat temui dia, temui Maya," ucap Reni. Namun, Vansh hanya terdiam.
"Entahlah, Ma. Akan kupikirkan lagi," jawab Vansh.
"Itu terserah padamu, coba kau tanyakan pada hatimu. Kau tidak bisa selamanya hidup dengan masa lalumu, Vansh. Apalagi masa lalu yang telah menyakitimu."
Vansh pun kembali tersenyum. "Terima kasih banyak, Ma. Aku pulang dulu," sahut Vansh. Reni pun menganggukkan kepalanya. Vansh lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Ma."
"Iya Vansh, hati-hati di jalan."
Vansh lalu mengangguk, dia kemudian membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah mobilnya dengan perasaan yang begitu tak menentu. Sementara Reni tampak mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang.
'Maya?' gumam Vansh.
'Haruskah aku menemui wanita itu dan berbicara dengannya dari hati ke hati? Tapi untuk apa? Aku pun tidak yakin dengan perasaanku sendiri karena meskipun Queen telah mengecewakan aku, itu bukan berarti aku bisa dengan mudah mencintai yang lain dan melupakan Queen begitu saja,' gumam Vansh sambil termenung di dalam mobilnya.
__ADS_1
Di saat itulah, tiba-tiba ponsel Vansh pun berbunyi.