Bed Friend

Bed Friend
Sebuah Cerita Konyol


__ADS_3

"Ada apa Tuan?"


"Ceritakan saja! Coba kau ceritakan padaku tentang liontin itu."


"Benarkah Tuan ingin mendengar cerita saya?"


"Apa aku harus mengulang perkataaanku untuk kedua kali?"


Maya pun tersenyum. 'Dulu sebelum aku tahu kau adalah ksatriaku, aku merasa sangat tidak nyaman mendengar dengusan kasar darimu. Dulu saat aku belum tahu kau adalah ksatriaku, aku selalu merasa kesal saat mendengar perkataan yang menyakitkan darimu. Tapi sekarang, entah kenapa semuanya terasa begitu menyenangkan. Apakah ini sebuah kebodohan? Atau rasa cinta di ujung penantian yang akhirnya tersampaikan? Ah, benarkah ini adalah sebuah ujung dari penantian? Kupikir bukan, karena aku masih harus banyak berjuang, dan sebuah pertanyaan besar pun menanti, apakah aku pantas bersanding dengan dirinya?' gumam Maya sambil menatap Vansh diiringi air mata yang mengalir di wajah sendunya.


"Gadis lancang! Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kau menangis?" tanya Vansh saat melihat air mata yang mulai berlinang.


"Oh... E... Tidak, mata saya hanya kemasukan sedikit debu."


"Oh," jawab Vansh datar. Maya lalu menghapus air matanya.


"Cepat ceritakan padaku!"


'Aku juga sebenarnya merasa sangat penasaran dengan liontin itu, aku seperti pernah melihatnya. Bahkan sepertinya aku pernah memegangnya, tapi dimana? Apakah ini ada hubungannya dengan masa laluku?' gumam Vansh sambil menatap liontin yang ada di tangan Maya.


"Baik Tuan!" jawab Maya yang membuat lamunan Vansh buyar.

__ADS_1


"Iya."


Maya pun mengusap liontin itu sambil tersenyum. "Liontin ini, bagi saya adalah sebuah kenangan, sebuah pengharapan, dan sebuah mimpi yang tidak pernah ingin saya gapai karena saya sadar, mimpi itu terlalu tinggi bagi saya, mungkin terdengar konyol tapi inilah yang disebut dengan cinta. Saat saya masih bersekolah dengan seragam putih biru, saya menyukai seorang laki-laki, tapi saya merasa sangat malu dan tidak pantas untuk mendapatkan dirinya. Lalu setiap hari saya mengirimkan sekotak kue cokelat untuk dirinya lewat teman saya. Dan, pada suatu hari saat saya hendak mengantarkan kue cokelat itu, saya hampir saja tertabrak mobil, untungnya saya berhasil diselamatkan oleh seseorang. Tapi orang itu mendapatkan luka yang sangat parah, dan nahasnya, yang menyelamatkan saya adalah cinta pertama saya itu, cinta pertama yang selalu saya kirimkan sekotak kue cokelat," ucap Maya sambil terisak.


Mendengar perkataan Maya, perasaan Vansh pun terasa begitu tak menentu, ingin rasanya dia menggenggam tangan Maya yang ataupun merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya, tapi dia menapik semua perasaan itu.


"Lalu apa hubungannya dengan liontin itu?"


"Saat kejadian kecelakaan itu, situasinya begitu kacau. Semua orang yang ada di lokasi kejadian lalu bergegas menolong pria itu, sedangkan saya? Saya hanya bisa terpaku, sungguh hati ini terasa begitu sakit saat melihat orang yang sangat saya cintai terkapar tidak berdaya antara hidup dan mati. Hati ini rasanya begitu hancur, saya pun tidak sanggup untuk melihatnya. Dan liontin itu, liontin itu adalah milik laki-laki itu yang terjatuh dari saku kemeja sekolahnya. Saya mengambil liontin itu lalu perlahan kaki saya pun berlari meninggalkan tempat kejadian kecelakaan itu dengan jiwa yang begitu pengecut."


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan laki-laki itu?"


"Selama dua belas tahun, saya hidup dengan penuh ketakutan, saya tidak sanggup menerima kenyataan jika laki-laki itu meninggal akibat menyelamatkan saya, Tuan. Jadi, selama itu pula saya memilih untuk tidak mencari tahu keberadaan laki-laki itu dan hidup bersama kenangan dengan menyimpan liontin ini. Selama dua belas tahun, saya tidak tahu dia masih hidup atau sudah meninggal."


"Bukankah saya sudah mengatakan jika ini adalah sebuah cerita yang terdengar sangat konyol? Tapi inilah kenyataannya, inilah kenyataan yang terjadi."


"Lalu apakah laki-laki itu tahu kau yang mengirimkan kue cokelat itu?"


Maya pun menggelengkan kepalanya. "Tidak, sampai sekarang dia tidak tahu hal itu karena saat saya menitipkan kue itu pada teman saya, teman saya itu mengatakan pada pria yang saya sukai jika kue itu dialah yang membuatnya."


"Jadi laki-laki itu menyangka jika temanmu itu yang membuatnya?"

__ADS_1


Maya pun menganggukkan kepalanya. "Picik sekali!" gerutu Vansh.


'Picik? Wanita yang kau sebut picik itu adalah istrimu Tuan, wanita yang selama ini kau cintai,' gumam Maya.


"Maya, bukankah tadi kau mengatakan jika sampai sekarang laki-laki yang kau cintai itu belum tahu kebenaran yang pernah terjadi diantara kalian? Jadi, sekarang laki-laki itu masih hidup? Bukankah tadi kau mengatakan jika kau terlalu pengecut untuk mengetahui keberadaannya?"


"Ya, selama dua belas tahun saya memang tidak tahu bagaimana keadaan dirinya. Tapi sejak hari ini, saya tahu jika ternyata dia masih hidup, saya merasa sangat bahagia, tapi saya juga sedih karena dia tidak mengingat apapun di masa lalunya," ucap Maya sambil tersenyum.


"Apa dia mengalami amnesia?" tanya Vansh.


"Ya, dia mengalami amnesia disosiatif yang menyebabkan beberapa memorinya hilang, memori akibat sebuah trauma yang dialami saat kecelakaan itu."


"Aku juga pernah mengalami sebuah kecelakaan saat aku masih bersekolah di bangku SMA, dan mengalami amnesia disosiatif akibat trauma yang dialami saat kecelakaan, sama seperti cinta pertamamu itu."


'Cinta pertamaku? Cinta pertamaku adalah kau Tuan, dan sampai sejauh ini kau tidak pernah menyadari itu, jika saja kau mengingat sedikit saja tentang masa lalumu, tentu kau tahu jika laki-laki yang kuceritakan adalah dirimu,' gumam Maya sambil tersenyum getir.


Maya pun tersenyum. "Jadi setelah kecelakaan itu anda tidak mengingat apapun?"


"Tidak, aku hanya mengingat tentang masa kecilku, aku hanya mengingat kejadian beberapa bulan sebelum kecelakaan itu. Dan, ingatanku terhenti saat aku mengalami kecelakaan itu, bahkan aku pun tidak mengingat wanita yang selalu menjagaku yang ternyata adalah kekasihku, dialah Queen. Almarhum istriku," ucap Vansh sambil tersenyum yang membuat perasaan Maya begitu teriris.


"Jadi anda tidak pernah mengingat kue cokelat yang pernah saya berikan pada anda?"

__ADS_1


"Hei, apa maksudmu? Memangnya kue cokelat apa yang pernah kau berikan padaku?" gerutu Vansh sambil mengerutkan keningnya.


__ADS_2