
"Oh Tante Inara. Nanti kusampaikan salam pada mama."
"Iya Cleo, terimakasih banyak."
"Sama-sama, aku pulang dulu" ucap Cleo sambil melambaikan tangannya pada Inara dan Kenzo. Inara lalu tersenyum pada Kenzo. "Dia gadis yang sangat cantik dan periang, sama seperti mamanya."
"Tapi dia juga sangat menyebalkan," gerutu Kenzo.
"Jangan seperti itu, dia sangat menyenangkan, suatu saat jika kau berpisah dengannya kau pasti akan kehilangan sosok seperti Cleo."
"Tidak mungkin."
Inara pun tersenyum lalu menatap wajah Kenzo. "Kau sudah besar Nak, sikapmu sedikit jual malah sama seperti ayahmu saat pertama bertemu denganku."
"Papa Rayhan?"
Inara pun hanya menganggukkan kepalanya. 'Bukan Rayhan tapi Abimana, ayah kandungmu adalah Abimana.' gumam Inara.
"Tante, ayo kita masuk ke dalam. Bukankah tante ingin bertemu dengan papa dan mama?"
"Ya. Bagaimana keadaan Sharen?" tanya Inara saat mereka masuk ke dalam rumahnya.
"Dia baik, bulan depan kami akan pergi ke London. Kak Sharen mengambil jurusan desain sedangkan kami mengambil jurusan bisnis."
"Kami?"
"Oh ya, maksudku aku dan Cleo."
__ADS_1
"Sepertinya kalian memang benar-benar berjodoh."
"Tante jangan meledekku terus menerus, kami tidak ada hubungan apa-apa. Sebentar tante aku panggilkan papa dan mama, silahkan tante duduk dulu."
"Ya, terimakasih banyak."
Kenzo lalu berjalan masuk ke dalam rumah memanggil Ananda dan Rayhan, sedangkan Inara duduk di ruang tamu sambil mengamati sekeliling ruangan. Tampak beberapa foto keluarga mereka. Rayhan, Amanda, Sharen, Kenzo, serta anak kandung Amanda dan Rayhan, Clarissa.
"Keluarga yang lengkap dan sempurna, sama seperti Vallen dan Firman yang juga telah memiliki dua orang anak. Mereka sungguh beruntung, tidak seperti diriku. Tujuh belas tahun lalu, aku harus jatuh cinta pada Abimana, seorang tahanan yang sudah di vonis hukuman mati. Mungkin memang benar, cinta memang tidak mengenal logika hingga aku harus jatuh cinta padanya, cinta yang teramat dalam hingga apapun kulakukan untuknya, bahkan rasanya aku seperti kehilangan akal sehat telah jatuh cinta pada seorang tahanan yang entah memiliki masa depan atau tidak," ucap Inara sambil tersenyum kecut.
Beberapa saat kemudian, Amanda dan Rayhan pun keluar dari dalam rumah. Mereka kemudian mendekat ke arah Inara.
"Apa kabar Inara?" sapa Amanda sambil memeluknya.
"Baik, sangat baik."
"Pesan?"
"Ya, dia ingin melihat foto-foto Sharen dan Kenzo. Terakhir aku pergi ke sini, saat mereka masih sekolah dasar setelah itu aku begitu sibuk hingga sangat sulit meluangkan waktuku untuk pergi ke sini. Abimana juga tidak pernah menanyakan Kenzo dan Sharen karena dia pun banyak memiliki kegiatan di lembaga pemasyarakatan. Hingga tadi pagi, dia mengatakan jika dia sudah sangat merindukan Sharen dan Kenzo, saat aku akan menghubungi kalian, aku baru sadar jika aku sudah tidak memiliki nomor ponsel kalian lagi, jadi aku pergi ke sini atas keinginan Abimana untuk meminta foto Kenzo dan Sharen."
"Oh tentu saja, aku akan memberikan foto-foto mereka padamu, Inara," ucap Amanda kemudian masuk ke dalam rumah. Sedangkan Rayhan dan Inara yang duduk di ruang tamu tampak begitu canggung. Inara pun hanya bisa tersenyum pada Rayhan.
"Kenapa kau memilih jalan seperti ini, Inara? Bukankah menunggu itu sangat menyakitkan? Kau cantik dan kaya tapi hidupmu hanya kau habiskan bersama Abimana yang ada di dalam tahanan. Kupikir setelah berpisah denganku, kau bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku."
"Entahlah Mas, aku tidak tahu. Rasa cintaku terlalu besar untuknya."
"Saat kau jatuh cinta kau memang tidak pernah menggunakan akal sehatmu, Inara."
__ADS_1
"Memang cinta tidak pernah menggunakan logika mas, setidaknya hal bodoh yang kulakukan saat ini tidak merugikan orang lain, tidak sama saat bersama denganmu dulu."
"Tapi ini juga merugikan dirimu, Inara. Kau bisa menikah dengan laki-laki lain bukan menunggu Abimana yang tidak memiliki kepastian apapun. Ini sudah tujuh belas tahun Inara, kau tidak bisa seperti ini terus menerus."
"Rayhan, biarkan dia memilih jalan hidupnya," timpal Amanda yang kini sudah ada di dekat mereka.
"Itu adalah pilihan hidup Inara, dan kita tidak berhak menghakiminya. Biarkan Inara memilih jalan hidupnya sesuai kata hatinya, mungkin bagi kita itu adalah tindakan bodoh tapi tidak bagi Inara. Ini adalah sebuah pengorbanan akan ketulusan cintanya, dan menurutku dia adalah wanita terhebat yang pernah kutemui," ucap Amanda sambil memandang Inara.
"Terimakasih Amanda."
"Iya Inara, ini foto-foto Kenzo dan Sharen, kau bawa saja. Kami memiliki duplikatnya, aku juga sudah menuliskan nomor ponselku serta nomor Sharen dan Kenzo, kau hubungi saja kami kapanpun kau mau."
"Terimakasih banyak, Amanda."
"Iya sama-sama."
"Kalian tidak pernah membicarakan tentang Abimana pada Kenzo dan Sharen kan?"
"Tidak kami belum pernah mengatakan itu tapi suatu saat kami pasti akan mengatakannya. Bagaimanapun juga Abimana adalah ayah kandung mereka, mereka berhak tahu itu."
"Aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu, tapi Abimana tidak ingin Kenzo dan Sharen tahu dia adalah ayah kandung mereka, dia tidak ingin mereka tahu jika ayah kandung mereka adalah seorang tahanan."
Tanpa mereka sadari, seseorang berdiri di balik tembok dan mendengarkan pembicaraan mereka.
'Tahanan?' gumam sosok tersebut.
NOTE:
__ADS_1
Bagaimana ya kalau Kenzo dan Sharen tahu kalau ayah mereka adalah seorang tahanan? Nanti juga othor ceritakan ya, kira-kira mereka mau menerima ayah kandung mereka ga ya?