
Zack menatap tubuh yang kini sudah tak bernyawa, tiga buah tembakan tampak menembus kepala, dada, dan perutnya. Sebuah senyuman disertai seringai tipis tercetak di wajahnya.
"Itulah akibatnya kalau kau berani macam-macam denganku. Membuat masalah denganku, artinya menyerahkan nyawa padaku! Dasar bedebah! Selama ini aku sudah menganggapmu sebagai salah satu orang kepercayaanku yang mengendalikan bisnisku, tapi ternyata kau mengkhianatiku dan sialnya kau juga bekerja untuk orang lain. Cih! Pantas saja akhir-akhir ini sering ada beberapa kendala dalam menyelundupkan barang-barang milikku. Bahkan beberapa kotak senjata api ilegalku sempat hilang, itu pasti karena ulahmu!" ujar Zack.
Dia kemudian menginjak dan menekan kepala mayat itu lagi untuk melampiaskan kekesalannya, lalu menendang tubuhnya beberapa kali, dan meludahinya.
"Kalian sayat mayat itu menjadi beberapa bagian, lalu bakar dan buang abunya di beberapa tempat, agar tidak ada yang tahu kalau dia sudah mati!!"
"Baik Tuan," jawab anak buah Zack.
"Tolong berikan ponsel miliknya padaku! Aku akan menyelidiki sendiri siapa dibalik semua ini!" sambung Zack. Dia kemudian meninggalkan anak buahnya lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya.
"Edgar, apa kau sudah menemukan rumah sakit terbaik untuk mengobati Laurie?"
"Sudah Bos, saya baru saja mengirim beberapa daftar rumah sakit yang bisa menangani Nyonya Laurie secara maksimal, agar Nyonya Laurie ditangani oleh dokter yang lebih berkompeten."
Zack kemudian membaca daftar rumah sakit yang dikirimkan oleh Edgar ke ponselnya. "Aku ingin memindahkan Laurie ke salah satu rumah sakit terbaik di kawasan Asia saja, Edgar. Agar aku bisa menemani istriku sekaligus mengontrol bisnisku. Itu ada tiga buah rumah sakit yang sudah kutandai."
"Baik, Bos."
"Nanti aku akan mengurus kepindahan perawatan Laurie. Coba kau perintahkan anak buah kita, untuk menghubungi beberapa rumah sakit tersebut, cari tahu informasi tentang perawatan di rumah sakit yang sudah kutandai."
"Baik, Tuan Zack."
Zack kemudian menyenderkan kepalanya ke bangku jok mobil, lalu memejamkan matanya. Namun, bayang-bayang Laurie kembali terlintas di kepalanya, tangisan Laurie yang tak kunjung berhenti saat dia menikahinya, tatapan mata sengit dari Laurie yang selalu dia dapatkan, serta yang membuat hatinya sakit adalah saat beberapa hari terakhir sebelum Laurie mengalami koma. Zack sempat memergoki dia sedang menelepon mantan kekasihnya, Derick.
__ADS_1
Tak berselang lama setelah tahu Laurie masih menghubungi Derick, Zack kemudian menyekapnya, menyiksanya beberapa hari, lalu menaruhnya ke dalam mobil yang sudah dia letakkan bom di dalamnya, lalu membuang mobil itu ke jurang. Tak ada yang curiga penyebab kematian Derick karena semua tampak murni seperti sebuah kecelakaan. Dan kalaupun ada polisi yang curiga, tidak ada yang perlu ditakuti, karena dia adalah pemimpin King Mafia, salah satu jaringan mafia terbesar di Asia.
"Itulah akibatnya kalau kalian coba-coba bermain denganku! Akan kuhabisi kalian! Kuhabisi dengan begitu mengenaskan dan terhina di ujung nyawa kalian!" geram Zack.
***
Alvaro keluar dari kamar dan berjalan menuju ke meja makan dengan begitu bersemangat.
"Hari ini kau ceria sekali, Alvaro!"
Alvaro mengulas senyum tipisnya. "Bukankah hari ini pertama aku masuk kerja, Ma. Aku harus bersemangat."
"Baguslah kalau begitu!"
"Jadi sudah reda?" timpal Firman?"
"Apanya yang reda? Kalian mau coba main rahasia-rahasiaan sama Mama?"
"Hujannya, Ma. Tadi hujan terus sekarang udah reda," jawab Alvaro.
"Benarkah? Kenapa aku tak tahu kalau tadi hujan?"
"Tadi malam, Ma. Tadi malam hujan."
"Oh pantas saja mama tidak tahu, tadi malam tidur mama nyenyak sekali, setelah dua hari menemani Olivia di rumah sakit, badan mama sakit semua," gerutu Vallen. Sedangkan Firman dan Alvaro saling berpandangan, lalu tersenyum.
__ADS_1
"Rahasia aman," bisik Firman.
"Papa, Mama, aku berangkat dulu!" ujar Alvaro, setelah selesai menyelesaikan sarapannya.
"Iya, Sayang. Jangan lupa sampaikan pada Olivia kalau mama datang ke rumah sakit agak terlambat, karena harus menjaga Shane dulu."
"Iya Ma," jawab Alvaro. Dia kemudian keluar dari rumahnya. Saat akan memasuki mobilnya, tiba-tiba hatinya tertarik untuk menatap rumah mewah yang ada di samping rumahnya. Ya, rumah itu adalah rumah Luna dan Devano.
"Luna, saat aku memasuki kehidupanmu memang awalnya tujuanku hanya ingin berteman denganmu. Ya, awalnya hanya sekedar teman, dan tidak ada pesan lain yang tersirat. Namun, aku tak dapat mengendalikan hati ini, yang memiliki rasa lebih padamu, bahkan ingin singgah dan menjadikanmu rumah. Meskipun pada akhirnya, ternyata takdir berkata lain, aku harus menguatkan hatiku tentang arti kedatangan seseorang karena mereka yang datang, terkadang tidak hanya menghadirkan kebahagiaan tapi juga sebuah rasa sakit bahkan terkadang juga sering dibuat patah oleh jiwa yang kini sudah pergi. Tapi tak mengapa, karena aku datang dengan baik-baik dan pergi secara terhormat, aku juga tidak mau berdiri di tengah pintu yang membuat kalian terhalang olehku," ujar Alvaro lirih.
Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya, lalu bergegas menuju ke rumah sakit. Awalnya, Alvaro ingin menuju ke ruangan pamannya, Dokter David. Ataupun menuju ke ruang kantornya yang sudah dipersiapkan untuknya. Namun, entah mengapa kata hati Alvaro seolah menariknya untuk untuk berjalan ke ruang perawatan Laurie.
Alvaro yang sempat bimbang, kemudian berdiri sejenak. Hatinya terasa begitu berkecamuk. Ya, terkadang logika memang tidak pernah sejalan dengan perasaan. Hal itu pula yang dialami oleh Alvaro, saat ini logikanya dia harus pergi menemui pamannya lalu menuju ke ruang kantornya. Namun, kata hatinya selalu memerintahkannya untuk berjalan ke ruangan Laurie.
Alvaro yang sempat bimbang akhirnya memilih untuk mengunjungi Laurie terlebih dulu. 'Bukankah Laurie pasienku? Apa salahnya kalau aku mengunjunginya terlebih dulu?' batin Alvaro. Dia kemudian berjalan ke ruang perawatan Laurie.
CEKLEK
Pintu ruangan itu pun terbuka, saat Alvaro memasuki berada ruangan tersebut, ruangan itu tampak kosong. "Dimana Tante Olivia? Apa Tante Olivia sedang pulang ke rumahnya? Ah mungkin saja, bukankah dia sudah beberapa hari ini tidak pulang? Mungkin dia sedang pulang ke rumah untuk mengambil beberapa kebutuhannya dan Laurie, atau mungkin saja Tante Olivia sedang membeli sarapan di luar?" ujar Alvaro.
Dia kemudian mendekat ke arah laurie yang tertidur di atas brankar. Mata Alvaro tak bisa berkedip saat melihat wanita yang ada di hadapannya, wanita itu terlihat begitu cantik di matanya.
"Dia dalam kondisi koma saja, masih terlihat cantik, apalagi kalau dia sudah sadar, mungkin dia terlihat secantik bidadari," ujar Alvaro sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Namun, saat sedang mengamati Laurie, tiba-tiba dia mendengar pintu perawatan itu terbuka.
BRAK
__ADS_1
"Siapa kau? Berani-beraninya kau menatap istriku seperti itu?"