Bed Friend

Bed Friend
Di Dekat Stasiun


__ADS_3

"Devano!" panggil Delia.


Devano yang terkejut mendengar namanya dipanggil lalu melihat ke arah suara. Namun, betapa terkejutnya dirinya saat melihat Delia yang ada di depannya.


"Ta-tante Delia? Ke-kenapa Tante ada di sini?" tanya Devano terbata-bata.


"Oh ini rumah teman tante."


"A-apa? Ja-jadi Tante Dokter teman tante?"


"Ya, Vallen dan Firman teman kami. Bahkan, Firman berasal dari desa yang sama dengan kami. Dia tetangga kami di desa."


'Asataga, ini benar-benar sebuah bencana! Bagaimana kalau Tante Dokter yang comel dan menggemaskan itu mengatakan kalau aku sudah memiliki istri?' batin Devano.


"Devano... Devano!" panggil Delia.


"Oh, emh iya. Ada apa, Tante Delia?"


"Lalu, apa yang kau lakukan di situ? Bukankah itu rumah Luna?"


'Astaga, ini bukan hanya berbahaya, tapi rasanya seperti kiamat sugra? Astaga, kenapa aku jadi seperti ustadz?' batin Devano kembali.


"Devano! Devano! Kenapa kau tiba-tiba diam?"


"Oh tidak apa-apa, hanya membayangkan kiamat sugra."


"Apa? Kiamat sugra? Bukankah yang kutanyakan mengapa kau ada di rumah Luna? Kenapa kau berfikir sampai sejauh itu, Devano?"


"Oh itu, iya maaf Tante. Aku memang sedikit overthinking. Hahahaha."


"Lalu, kenapa kau ada di rumah Luna?"


"Oh itu karena, Luna saudaraku. Dia sepupuku, Tante."


"Oh syukurlah kalau kau saudara Luna. Emh Devano, tolong jaga Luna baik-baik. Aku dengar dari Vallen kalau suaminya menyebalkan dan tidak bertanggung jawab."


'Astagaaaa, itu aku, Tante. Ah tidak apa-apa dia menjelek-jelekan aku di depanku sendiri. Ini artinya, dia tidak tahu kalau suami Luna adalah aku,' batin Devano.


"Devano, tolong kau jangan jadi lelaki yang tidak bertanggung jawab seperti suami Luna. Tante ingin, kau bisa menjaga Sachi dengan baik."


"I-iya, Tante. Emh, pasti, pasti itu."


"Iya Devano, kalau begitu tante masuk ke rumah Vallen dulu."


"Iya, silahkan Tante."

__ADS_1


Delia lalu masuk ke dalam rumah Vallen sambil membawa foto Sachi saat masih bayi. "Ini foto Sachi, Vallen."


Vallen kemudian mengambil foto tersebut, lalu mengamatinya. "Sebentar, aku minta tolong dulu ke beberapa temanku yang bekerja di rumah sakit dan puskesmas terdekat yang ada di komplek stasiun."


"Iya, terima kasih Vallen."


Vallen lalu tampak sibuk mengotak-atik ponselnya. Di saat itulah sebuah suara kembali terdengar dari ambang pintu mereka.


"Selamat sore semua!"


"Oh Kenzo, Cleo, kalian sudah pulang?"


"Iya Ma, maaf kami sedikit terlambat karena kami harus mengantar sekretaris Kenzo yang tiba-tiba sakit," jawab Cleo.


"Oh tidak apa-apa."


"Kenzo, Cleo, lama tak berjumpa," sapa Aini.


"Iya Tante," jawab Cleo dan Kenzo sambil menyalami Aini, lalu Dimas dan Delia.


"Perkenalkan mereka Tante Delia dan Om Dimas, tetangga Papamu di Jogja."


"Oh jadi ini Tante Delia, mantan istri Papa yang pernah berkelahi dengan Mama?"


"Maaf aku tidak sengaja," gerutu Cleo.


"Dasar kau, mulut ember. Kenzo, nanti tolong belikan saringan di mulur istrimu itu, agar dia bisa nenyaring kata-katanya," gerutu Vallen.


"Tidak apa-apa, Vallen. Jangan seperti itu, aku yakin Cleo pasti tidak sengaja mengatakan seperti itu. Iya kan Cleo sayang?"


"Tentu saja, Tante Delia. Aku tidak sengaja! Mama saja yang terlalu sensitif," ujar Cleo sambil menjulurkan lidahnya.


"Dasar kau!" gerutu Vallen.


"Cleo, Kenzo, kalian baru saja mengantarkan sekretaris Kenzo ke rumah sakit? Kalian baik sekali. Jarang-jarang ada orang seperti kalian yang selalu memperhatikan karyawannya," kata Aini.


"Emh, eh. Sebenarnya tidak seperti itu, Tante. Awalnya kami sedang memberikan oleh-oleh ke anak-anak Panti Asuhan. Kebetulan, sekretaris Kenzo tinggal di Panti Asuhan. Dan, di saat itulah tiba-tiba sekretaris Kenzo pingsan. Jadi, kami membawanya ke rumah sakit terlebih dulu."


"Oh, jadi seperti itu. Memangnya, sekretarismu sakit apa, Kenzo?"


"Dia sakit jantung, Tante. Jantung bawaan, tapi untungnya tidak terlalu parah. Jadi, tidak terlalu berdampak saat dia bekerja di kantor."


"Oh, syukurlah," jawab Aini.


"Memangnya, Panti Asuhan yang kalian kunjungi ada di daerah mana, Kenzo?" tanya Vallen.

__ADS_1


"Panti Asuhan yang ada di dekat stasiun, Ma."


Mendengar perkataan Kenzo, Delia pun begitu tertegun. "Panti asuhan di dekat stasiun? Kenapa tidak pernah terpikirkan olehku?" ujar Delia lirih.


"Ada apa Delia?" tanya Dimas saat melihat raut wajah Delia yang tiba-tiba berubah.


"Dimas, Vallen, Aini. Kenapa ini tidak terpikirkan olehku? Ya, panti asuhan. Kenapa aku tidak pernah memikirkan ini? Coba kalian pikir, mungkin saja saat aku meninggalkan Sachi di dalam kereta, ada orang yang menemukannya dan membawanya ke Panti Asuhan di dekat stasiun, jadi para petugas stasiun tidak tahu ada bayi yang tertinggal di dalam kereta. Bukankah bisa saja seperti itu?"


"Ya, ini sangat masuk akal," sambung Vallen. Sedangkan Aini dan Dimas pun tampak mengangukkan kepalanya.


"Delia, Dimas. Bagaimana kalau kita ke Panti Asuhan tersebut? Barangkali ada bayi yang dibawa ke panti asuhan itu di hari yang sama ataupun setelah Sachi hilang di dalam kereta."


"Iya kau benar, Vallen. Ayo kita ke Panti Asuhan tersebut!" seru Dimas.


"Kenzo, Cleo, kalian mau kan mengantarkan kami ke Panti Asuhan itu lagi?" pinta Delia.


"Tentu saja, kami akan mengantarkan Om dan Tante ke Panti Asuhan itu."


"Mama juga ikut, Kenzo!!! Kenapa kau hanya menyebutkan mereka bertiga?"


"Iya, Iya, Ma," gerutu Cleo.


"Iya Ma, ayo kita ke sana sekarang!"


Mereka lalu bergegas keluar dari rumah itu menuju ke mobil masing-masing.


Sementara itu, Luna yang kini sedang berdiri di balkon kamar tampak mengamati mereka keluar dari dalam rumah Vallen sambil mengerutkan keningnya.


"Ada apa dengan mereka? Mengapa mereka tampak tergesa-gesa sekali? Raut wajah Tante Delia dan Om Dimas juga tampak cemas," ujar Luna.


Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam, dan merasakan nyeri di dalam hatinya. "Kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di hatiku? Bahkan, rasanya seperti sebuah firasat buruk. Apa yang sebenarnya telah terjadi?" ucap Luna.


Di saat itulah tiba-tiba sebuah dekapan menempel di tubuhnya. "Sayang," bisik seseorang di telinganya.


"Devano, apa-apaan ini? Lepaskan aku!" bentak Luna.


"Tidak!"


"Lepaskan aku! Tolong jangan pernah sentuh aku sebelum kau benar-benar bisa memilih!"


Mendengar perkataan Luna, Devano pun hanya terdiam. "Kau masih belum bisa memilih kan, Devano?"


***


Kisah Devano dan Luna cukup sampe disini ya, yang penasaran akhir kisah mereka bisa dibaca di novel Sekedar Pelampiasan.

__ADS_1


__ADS_2