
"Memelukku?" tanya Clarissa kembali sambil menahan senyumnya.
"Emh maaf jika permintaanku ini sedikit lancang, lupakan saja," ucap Nathan kemudian membalikkan tubuhnya, tapi tiba-tiba Clarissa mencekal tangannya.
"Aku belum menjawab apapun dan kau sudah pergi begitu saja."
"Lalu?" tanya Nathan sambil memandang Clarissa yang kini tersipu malu. Nathan pun ikut tersenyum, dia kemudian memeluk tubuh Clarissa yang kini berdiri di hadapannya.
"Maaf jika aku lancang meminta ini padamu, aku hanya ingin berterima kasih padamu, saat ini kau sangat berarti dalam hidupku, Clarissa. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kemarin kau tidak ada di sampingku, jika kau tidak menyadarkanku mungkin saja aku masih menuruti egoku dan berbuat nekat. Semua orang pasti bisa menemani tapi tidak semua orang bisa memahami, kau tidak hanya bisa menemaniku tapi juga bisa memahamiku, terimakasih banyak, Clarissa."
"Kak Nathan, aku hanya ingin kau menyadari jika kau tidak bisa menjadi pemeran utama di hati seseorang, mungkin itu bukanlah rumahmu, lebih baik kau pergi mencari hati yang lain yang bisa menjadikanmu sebagai pemeran utama di hidupnya dan rumah bagimu untuk bernaung, apa kau mengerti? Kau sudah menyadari semua ini kan, Kak?"
__ADS_1
"Ya, sekali lagi terimakasih banyak Clarissa."
Nathan kemudian melepaskan pelukannya. Keduanya kini berdiri berhadapan sambil tersenyum dengan sedikit salah tingkah. Nathan kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal, sedangkan Clarissa tampak beberapa kali me*emas pakaiannya sambil menahan senyum di bibirnya.
"E.. Clarissa, aku pulang sekarang."
"Ya, hati-hati," jawab Clarissa. Nathan pun mengangguk kemudian berjalan meninggalkan Clarissa keluar dari apartemen itu. Setelah keluar dari apartemen, dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Astaga, apa aku tidak bersikap terlalu berlebihan? Aku sudah sangat lancang mengatakan seperti itu pada Clarissa, tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku saat melihatnya tadi, aku benar-benar ingin memeluknya, dia terlihat sangat manis," ucap Nathan sambil tersenyum.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti di depan sebuah pemakaman, tampak empat orang turun dari dalam mobil tersebut lalu berjalan memasuki area pemakama dan berhenti di atas sebuah pusara dengan gundukan tanah yang masih basah bertuliskan "ALETA SALSABILA"
Mereka kemudian duduk di samping pusara tersebut lalu menaburkan bunga. Kini mereka terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing sambil mendoakan jasad yang ada di bawah gundukan tanah tersebut.
'Meskipun saat itu aku pernah merasa begitu marah padamu karena ulahmu yang membuat hidup putraku hancur, tapi bagaimanapun juga, aku pernah begitu dekat denganmu dan kau pernah kuanggap sebagai putriku sendiri, selamat jalan Aleta. Beristirahatlah dengan tenang, semoga amal ibadahmu diterima oleh Tuhan,' gumam Amanda.
'Aleta, kau pernah menyebabkan hidupku begitu hancur dan terpuruk, bahkan saat itu hampir saja aku mengakhiri hidupku karena terpengaruh hasutanmu, sungguh rasanya begitu berat saat aku tahu aku sedang mengandung darah daging dari laki-laki yang sangat kucintai tapi ternyata dia mencintai orang lain, dan ternyata itu hanyalah bualanmu saja, itu bukan hal yang mudah tapi akhirnya kami bisa melalui semua ini. Aku memang begitu marah padamu saat tahu kebenaran yang sesungguhnya, tapi aku sudah menghapus semua itu, saat ini aku hanya bisa mendoakanmu, aku ingin kau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin,' gumam Cleo.
'Teman, itulah hubungan yang kusematkan padamu, semua yang pernah kulakukan padamu hanya karena aku ingin membantumu tapi sayangnya kau salah menafsirkan semua, dan karena ulahmu itu kau pernah membuat hidupku begitu berantakan, saat itu aku merasa benar-benar hampir gila dan aku sangat marah padamu, aku yakin kau telah berubah dan menyadari semua kesalahanmu. Kini semuanya hanyalah menjadi bagian masa lalu yang kisahnya telah usai dan terkubur dengan tenang seperti jasadmu di bawah sana, Aleta. Beristirahatlah dengan tenang, Tuhan pasti sudah menyiapkan tempat terindah bagimu,' gumam Kenzo.
'Jahat, mungkin itulah aku di matamu. Aku memang begitu membencimu karena kau telah menyakiti adik-adikku yang begitu kusayangi, dan aku tidak pernah menyesal telah melakukan sebuah kejahatan termanis padamu yang telah membuat kau jera. Tapi di dalam lubuk hatiku, aku menyesal belum bisa bersikap baik dan belum bisa memaafkanmu di saat pertemuan terakhir kita. Maafkan aku, Aleta. Aku yakin kau sebenarnya telah menyesali semua kesalahanmu. Tuhan begitu menyayangimu, semoga kau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Aamiin,' gumam Sharen.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka semua pun bangun dari samping pusara lalu beranjak meninggalkan area pemakaman. Namun, tanpa mereka sadari sepasang mata tampak mengamati mereka dari balik sebuah pohon disertai tatapan mata sengitnya.
"Tunggu pembalasan dariku, Sharen."