
"Kak Sharen."
"Kenzo, kau tidak pantas berbicara seperti itu pada Papa, bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu. Apalagi Papa Abimana sekarang sudah berubah, dia sudah menyadari kesalahan di masa lalunya dan selalu berusaha memperbaiki dirinya, seharusnya kau memberinya kesempatan, beri kesempatan pada Papa Abimana untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah dia lakukan padamu, Kenzo."
"Kak Sharen, Kakak bisa berbicara seperti itu karena Kakak tidak pernah berada di posisiku. Kakak adalah anak yang diinginkan oleh Abimana, dia sudah menyayangimu sejak kau berada dalam kandungan ibu kandungmu, tidak sepertiku! Dia bahkan sudah ingin melenyapkanku sejak aku masih berada di dalam kandungan Mama Amanda."
"Kenzo itulah kesalahan Papa di masa lalu, sekarang bukan waktunya untuk mengungkit semua yang telah terjadi di masa lalu. Papa Abimana sudah meminta maaf padamu, inilah saatnya bagi Papa untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalunya. Dan kau, inilah proses yang harus kau lewati Kenzo, kau harus bisa menunjukkan jiwa besarmu sebagai seorang anak dan seorang ayah. Ingat Kenzo, kau juga sudah memiliki seorang putra, kau harus mengajarkan sikap yang baik terhadap orang tua pada putramu itu!"
"Kak Sharen, aku memang sudah memiliki seorang putra, dan sayangnya aku bukanlah ayah yang jahat seperti Abimana, jadi ini tidak ada sangkut pautnya antara aku, dan Abimana! Jadi tolong jangan ikut campur urusanku lagi dengan Abimana! Aku tahu bagaimana cara bersikap padanya! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap Abimana sebagai ayah kandungku! Apa kalian mengerti? Huftttt!" teriak Kenzo sambil mendengus kesal. Dia kemudian berjalan pergi keluar dari rumah Inara sambil menatap beberapa orang yang ada di ruangan itu dengan tatapan sinisnya.
"Kenzo! Tunggu dulu, Kenzo!" teriak Sharen. Dia kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar untuk mencegah kepergian Kenzo, tapi Inara mencekal tangan Sharen lalu memberi kode untuk melihat Abimana yang kini sedang menangis. Tubuhnya bersimpuh di atas lantai dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya. Raut wajahnya menggambarkan kesedihan dan keputusasaan. Inara dan Sharen lalu mendekat ke arah Abimana.
"Papa, bangun Pa," ucap Sharen sambil membangunkan tubuh Abimana. Dia dan Inara kemudian menuntun Abimana untuk duduk di atas sofa. Tubuh kekarnya kini tampak begitu lemas, tatapan matanya terlihat kosong dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya.
"Papa," panggil Sharen.
__ADS_1
"Abimana, tenangkan dirimu. Istighfar Abimana, percayalah padaku, saat ini Kenzo hanya sedang emosi karena baru saja mendengar kebenaran tentang masa lalumu dan dirinyaa, dan itu bukan hal yang mudah. Dia perlu waktu untuk menerima kenyataan di masa lalunya, dan menerima dirimu sebagai ayah kandung yang pernah berbuat dzalim padanya. Tapi percayalah, suatu saat dia pasti akan menerimamu sebagai ayah kandungnya. Aku yakin, suatu saat itu pasti akan terjadi."
Abimana kemudian menghapus air matanya lalu menatap Sharen dan Inara bergantian. "Aku siap, aku siap jika Kenzo tidak akan menerimaku sebagai ayah kandungnya, bahkan sampai akhir hayatku, aku siap, dan aku ikhlas menerima semua ini karena inilah harga yang harus kubayar untuk semua kejahatan yang telah kuperbuat padanya," ucap Abimana sambil menahan perasaan yang begitu sakit di dalam dadanya.
"Abimana kau harus tetap optimis, suatu saat Kenzo pasti akan menerimamu sebagai ayah kandungnya."
"Ya, mungkin saja suatu saat itu akan terjadi, suatu saat, dan mungkin saat itu aku sudah tidak ada lagi di dunia ini," ucap Abimana sambil terisak.
🍒🍒🍒
"BREN*SEK! Kenapa aku harus memiliki orang tua seperti, ABIMANA! Aku tidak sudi memiliki seorang ayah berhati iblis seperti Abimana!" teriak Kenzo.
Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar sambil sesekali menghapus air matanya. "BREN*SEK! BREN*SEK! BRENG?*SEK! SIALLLLL!!" teriak Kenzo berulangkali.
Beberapa saat kemudian, mobilnya pun sudah sampai di rumahnya. Dia kemudian menghapus air matanya dan merapikan penampilannya sebelum turun dari mobil karena dia melihat Cleo yang sedang menyuapi Shane makan siang di taman yang ada di halaman rumahnya.
__ADS_1
Kenzo lalu tersenyum saat turun dari mobil kemudian mendekat pada Cleo. "Shane, lihat. Papamu sudah pulang," ujar Cleo saat melihat Kenzo yang mendekat padanya. Namun saat melihat penampilan Kenzo, Cleo pun tampak mengangkat alisnya sambil mengerutkan keningnya. Berbagai pertanyaan kini mulai menari di benaknya.
"Kenzo, kau kenapa? Kenapa kau terlihat berantakan sekali?" tanya Cleo saat melihat wajah Kenzo yang begitu sembab, matanya pun terlihat memerah serta peluh yang terlihat mengalir di beberapa bagian tubuhnya. Mendengar pertanyaan dari Cleo, Kenzo pun hanya terdiam.
"Kenzo, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Kenzo, tolong jawab aku. Bukankah aku adalah istrimu, Kenzo."
"Kenzo, tolong jangan diam saja."
Kenzo kemudian menatap Cleo, perlahan butiran bening pun mulai mengalir membasahi wajahnya. Tiba-tiba, dia memeluk tubuh Cleo, lalu menangis tersedu-sedu, air matanya kini mulai membasahi bahu Cleo. Cleo lalu balas memeluk Kenzo sambil mengelus punggungnya.
"Kau kenapa Kenzo, ceritakan semuanya padaku. Aku adalah bagian dari hidupmu, aku pun ikut hancur jika melihatmu seperti ini, ceritakan semua kesedihanmu padaku, Kenzo."
"Cleo, aku adalah anak yang dibuang, aku anak yang dibuang oleh ayah kandungku sendiri," jawab Kenzo sambil terisak.
__ADS_1