
Derap langkah Sharen begitu tergesa-gesa keluar dari pintu kedatangan penerbangan dari luar negeri, dia berjalan terburu-buru sambil melihat ke arah sekelilingnya.
'Untung saja kegiatan magangku libur selama beberapa hari ke depan, jadi aku bisa meluangkan waktu untuk pulang ke Indonesia dan menyelidiki tentang siapa Papa Abimana sebenarnya, tapi Mama Amanda tidak boleh tahu akan hal ini, sebaiknya aku menginap di hotel saja,' gumam Sharen saat sedang berjalan keluar. Dia kemudian mengambil ponselnya berniat untuk memesan taksi online namun baru saja dia mengambil ponselnya tersebut, tiba-tiba sebuah panggilan pun masuk ke ponselnya.
"Tante Inara," ucap Sharen saat melihat sebuah nama di layar ponselnya. Sharen kemudian mengangkat panggilan dari Inara tersebut.
[Halo Tante Inara.]
[Halo Sharen, apa kabarmu? Sudah lama Tante tidak menghubungimu, kau sehat kan?]
[Oh, E... Iya Tante.]
[Kau kenapa Sharen? Kenapa kau tampak gugup? Apa sesuatu terjadi padamu? Sejak tadi tante menghubungimu tapi kenapa ponselmu tidak aktif?]
[Oh itu karena Sharen baru saja terbang dalam jangka waktu yang lama, jadi Sharen tidak mengaktifkan ponsel Sharen.]
[Terbang dalam jangka waktu yang lama? Memangnya kau pergi kemana Sharen?]
[Sebenarnya Sharen pulang ke Indonesia, tapi tante tolong jangan beritahu mama dulu karena Sharen ingin memberi kejutan pada mama.]
[Oh ya, kau tenang saja.]
[Emh Tante Inara, bisakah kita bertemu?]
[Oh ya tentu saja, kau datang saja ke rumahku, Sharen. Nanti kuberikan alamatnya padamu melalui pesan.]
__ADS_1
[Baik tante. Sharen akan datang ke rumah tante sekarang juga.] Sharen kemudian menutup teleponnya lalu membaca alamat yang dikirimkan oleh Inara kemudian memesan taksi menuju ke alamat tersebut.
Satu jam kemudian, Sharen pun telah sampai di sebuah komplek perumahan mewah. Taksi yang ditumpanginya kemudian berhenti pada sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk perumahan tersebut.
Perasaan Sharen pun kini terasa begitu tak menentu saat turun dari taksi dan perlahan berjalan memasuki halaman rumah bergaya minimalis dengan halaman yang tidak begitu luas tapi tampak rapi dipenuhi dengan berbagai macam tanaman hias dan bunga.
'Kenapa tiba-tiba perasaanku seperti ini? Apakah Papa Abimana juga ada di rumah ini? Apakah papa sudah bebas dan menikah dengan Tante Inara?' gumam Sharen. Dia pun kemudian memencet bel yang ada di samping pintu rumah tersebut.
TETTT TETTT TETTT
Setelah beberapa kali memencet bel, akhirnya pintu itu pun terbuka. Senyuman Inara pun langsung menghias wajahnya saat melihat Sharen kini berdiri di depannya, wajahnya pun masih terlihat cantik meskipun usianya kini tidak lagi muda.
"Sharen," teriak Inara kemudian memeluk Sharen.
"Kau sudah besar dan tumbuh menjadi wanita yang cantik, Sharen. Kita sudah lama tidak bertemu, terakhir kita bertemu saat beberapa hari sebelum keberangkatanmu ke London bersama Kenzo dan Cleo."
"Hahahaha kau bisa saja, Sharen. Tante sudah tua tidak seperti dirimu yang masih muda. Ayo kita masuk ke dalam."
"Emh sebentar Tante, tolong jangan bilang pada Mama Amanda kalau aku pulang ke Indonesia, sebenarnya aku ada urusan tertentu pulang ke sini, dan aku tidak mau mama mengkhawatirkanku. Tante tahu kan aku sangat menyayangi mama, aku tidak ingin menambah pikiran mama."
"Ya, tentu saja Sharen, selama kau ada di sini, kau bisa tinggal bersamaku sampai urusanmu selesai."
"Terimakasih banyak Tante."
"Ayo kita masuk ke dalam, Sharen."
__ADS_1
"Iya."
Sharen pun mengikuti langkah Inara masuk ke dalam rumahnya, lalu mereka duduk di sofa yang ada di ruang tengah rumah tersebut.
"Emh Tante Inara, maaf jika kedatanganku menggangu. Tapi sebenarnya ada yang ingin kutanyakan pada tante, tapi tolong tante jangan katakan pada mama kalau aku menanyakan hal seperti ini pada tante."
"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan, Sharen?" tanya Inara sambil mengerutkan keningnya. Sharen pun kini mulai terlihat gugup, ingin rasanya dia mengatakan yang ada di dalam hatinya, namun lidahnya terasa begitu kelu dan bibirnya pun terasa begitu kaku.
"Emhh... Begini tante...."
Namun belum sempat Sharen mengucapkan kata-kata, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah belakang Sharen yang kini terdengar sedang mendekat ke arahnya dan Inara.
"Inara? Kenapa kau tidak memberitahu diriku kalau ada tamu? Apa dia tamumu?" ujar sebuah suara yang kini mulai berjalan semakin mendekat ke arah mereka.
"Sharen, perkenalkan dia suamiku, Abimana."
'Jadi Papa Abimana sudah keluar dari penjara dan sudah menikah dengan Tante Inara?' gumam Sharen sambil menatap sosok laki-laki yang kini sudah berdiri di samping Inara tepat di depan Sharen, seorang laki-laki berusia kira-kira empat puluh lima tahun kini berdiri di hadapan Sharen sambil menatapnya dengan tatapan begitu dalam, lewat sorot matanya dan raut wajahnya, kini tergambar jelas sebuah perasaan kerinduan sekaligus haru yang tidak bisa lagi dia sembunyikan, perlahan mata yang sudah berembun itu kini pun mulai meneteskan butiran-butiran bening yang membasahi wajahnya.
Melihat laki-laki di hadapannya yang mulai menangis, perasaan Sharen pun kini semakin tak menentu, hatinya kian berkecamuk. Bibirnya yang sejak tadi terasa begitu kaku perlahan pun mulai terbuka, lidah kelunya pun mulai bergerak hingga sebuah kalimat pun keluar dari mulutnya.
"Papa... Papa Abimana? Kau Papaku kandungku kan? Papa Abimana?"
NOTE:
Dear mampir ke karya bestie aku juga ya, ke novel Kak Irma Kirana judulnya Second Life Liliana, dijamin seru abis deh 😍🥰
__ADS_1