
Dea pun memegang pipinya sambil menatap Shakila denagan tatapan tajam. "Kakak, kenapa kau menamparku, Kak?"
"Karena kau pantas mendapatkannya, Dea! Kau sudah sangat kurang ajar! Kata-katamu sangat tidak pantas kau ucapkan pada orang yang lebih tua darimu!"
"Kurang ajar bagaimana, Kak? Bukankah aku mengatakan yang sebenarnya? Memangnya apa yang kau lakukan dengan pacarmu itu jika semalaman kalian bersama? Pasti kalian bermesraan kan? Memang sudah sepantasnya sepasang kekasih seperti itu, kan? Lalu, apa yang salah dari kata-kataku?"
"Pertanyaanmu sudah sangat lancang, Dea! Apakah itu pantas kau tanyakan pada orang lain?"
"Pantas saja, Kak. Bukankan itu hal yang wajar? Lagipula kalau kau tidak melakukan apa-apa kau tidak usah marah padaku kan, Kak? Kalau kau marah-marah seperti ini, aku jadi curiga padamu. Jadi, kau benar melakukannya kan, Kak? Tidak usah malu-malu, hahahhaha."
"DEA!"
"Kalau kau tidak melakukan apapun dengan pacarmu itu, kenapa kau harus marah, Kak? Benar kan kata-kata yang kuucapkan tadi?"
"Apapun yang kami lakukan itu bukan urusanmu, Dea. Kami masih dalam batas wajar karena menghormati kedua orang tua kami yang sudah memberikan kepercayaan pada kami. Ingat, di rumah itu juga ada orang tua Kak Darren, jadi tolong jaga kata-katamu!"
"Cuihhhh, munafik... "
"DEA!"
PLAK
"Ada apa ini, ribut-ribut?" teriak Delia.
"Mama, lihat Ma. Kak Shakila menaparku lagi Ma," rengek Dea dengan raut wajah memelas.
Delia lalu menatap Shakila. "Shakila kenapa kau selalu bersikap seperti ini, Nak? Kau tidak boleh kasar pada Dea."
"Mama, aku tidak mungkin berbuat hal seperti itu jika Dea tidak memancingku terlebih dulu, Ma. Dia selalu mengatakan hal yang tidak-tidak padaku dan membuatku marah. Kalau mama ingin aku bersikap baik pada Dea, tolong ajari Dea untuk memiliki sopan santun pada orang lain, Ma."
Delia kemudian menatap Dea. "Dea, apa sebenarnya yang kau katakan pada Shakila hingga kakakmu marah seperti itu?"
__ADS_1
"Aku tidak mengatakan hal yang tidak-tidak, Ma. Aku hanya bertanya tentang hubungan Kak Shakila dan Kak Darren, tidak lebih."
"Bohong, Ma. Dea tidak selugu yang mama pikirkan, bahkan dia berani berkata yang tidak sopan padaku."
"Mama, mama percaya padaku, kan? Aku tidak mungkin berkata yang tidak-tidak pada Kak Shakila. Bukankah Mama mengenal Ibu Panti, dia orang yang sangat baik, sejak kecil aku selalu diajarkan untuk bersikap baik dan menghormati orang lain. Tidak mungkin aku bersikap tidak hormat pada kakak kandungku sendiri, Ma."
"Kakak kandung? Hahahahaha..."
"Kak Shakila, kenapa kau tertawa? Mama, Mama lihat sendiri kan? Kak Shakila yang meledekku terlebih dulu," rengek Dea.
"Shakila kenapa kau berkata seperti itu? Kau tidak sepantasnya meledek Dea seperti itu!"
"Ops, maaf Ma," ujar Shakila sambil. terkekeh.
"Shakilaaa, minta maaf pada adikmu!"
Dea pun tersenyum menyeringai mendengar perkataan Delia yang membelanya.
Melihat Shakila yang mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba Dea pun mencekal tangan Shakila.
"Kakak, apa yang kau lakukan? Bukankah kau tahu tadi aku sedang becanda? Tidak usah diambil hati, Kak," ujar Dea sambil memegang tangan Shakila. Shakila pun hanya bisa mengerutkan keningnya sambil terkekeh di dalam hati.
'Padahal aku tidak punya rekaman apapun tentang percakapan kita, Dea. Tapi kau sudah ketakutan seperti ini. Kau memang benar-benar bodoh,' batin Shakila.
"Kalian sebenarnya kenapa?" kata Delia yang kini tampak mengerutkan keningnya melihat tingkah Dea dan Shakila.
"Tidak apa-apa, Ma. Begini, antara aku dan Kak Shakila sebenarnya hanya terjadi pertengkaran kecil dan kami sudah menyelesaikan masalah kami, hanya salah paham. Jadi, Mama sebaiknya masuk ke dalam saja. Kami baik-baik saja, Ma. Benar kan Kak Shakila?"
Shakila pun hanya tersenyum kecut. 'Mampusss kau Dea, baru kubohongi seperti ini saja, kau sudah kebakaran jenggot. Apalagi saat kau tahu kau bukan putri kandung Mama dan Papa. Bisa-bisa kau mati berdiri,' batin Shakila kembali.
"Benar kalian jangan bertengkar lagi kan?"
__ADS_1
"Iya Ma, kami tidak akan bertengkar lagi. Sebaiknya Mama masuk ke dalam saja. Bukankah Mama tadi mau menemani Papa sarapan?"
Delia pun menganggukan kepalanya. "Mama masuk dulu," ujar Delia sambil melangkahkann kakinya masuk ke dalam rumah.
Shakila kemudian terkekeh. "Kau kenapa? Kau takut aku memutar rekaman percakapan kita?Makanya jangan pernah main-main denganku, Dea!"
"Kau memang sangat licik dan menyebalkan, Kak."
"Kau yang licik dan menyebalkan, Dea. Tapi tenang saja, karena hal ini tidak akan berlangsung lama, karena sebentar lagi kau akan kembali ke tempat asalmu yang sebenarnya!"
"Apa maksudmu, Kak Shakila. Asalku yang sebenarnya bagaimana? Bukankah kau sudah tahu siapa diriku, aku adikmu! Dan tempatku di sini bernama dengan keluargaku!"
"Keluarga? Keluarga yang mana Dea? Kau pikir aku keluargamu? Yang benar saja, aku tidak mau memiliki adik yang licik sepertimu, Dea!""
"Kak Shakila! Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Kata-katamu bahkan seakan menganggap kalau kau tidak menganggapku sebagai adikmu, Kak!"
"Mamang tidak Dea! Aku tidak pernah menganggapmu sebagai adikku! Karena kau memang bukanlah adikku!"
"Apa maksud dari perkataanmu, Kak! Jadi kau tidak percaya kalau aku adalah adikmu?"
"Memang! Dan suatu saat akan kutunjukkan kalau kau sebenarnya bukanlah adikku! Bukan adik kandungku! Jadi jangan terlalu besar kepala karena sebenarnya kau bukanlah bagian dari keluarga ini!"
"Tidak mungkin," ujar Dea sambil menatap Shakila dengan tatapan kosong.
"Semua kemungkinan masih saja bisa terjadi, Dea. Jadi, lebih baik kau jangan terlalu jumawa!" ujar Shakila. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam rumah itu. Sedangkan Dea masih termenung memikirkan perkataan Shakila.
"Oh iya, satu lagi Dea. Sebenarnya tadi aku tidak merekam percakapan kita, kau ternyata tidak sepintar yang kupikirkan. Kau bahkan terlalu bodoh hanya untuk menutupi keburukanmu," ucap Shakila sambil terkekeh.
Emosi pun seketika merasuk ke dalam hati Dea. "Shakila ternyata memang tidak sepolos seperti yang kupikirkan! Dia bahkan sangat menyebalkan dan berbahaya! Mulai saat ini aku harus hati-hati pada Shakila yang licik itu!" geram Dea.
"Shakila benar-benar merusak moodku! Dia pasti hanya ingin merusak kondisi psikologisku saja, aku adalah bagian dari keluarga ini, dan itu pasti. Ah, lebih baik aku berjalan-jalan ke taman komplek!" ujar Dea kembali. Dia kemudian berjalan keluar dari rumah itu. Saat baru saja keluar dari rumah mewah itu tiba-tiba seseorang yang turun dari sebuah mobil terdengar memanggilnya.
__ADS_1
"Dea!" panggil sebuah suara di belakangnya