Bed Friend

Bed Friend
Kau Nala


__ADS_3

Zack menutup teleponnya dengan begitu kesal, amarah pun menyelimuti hatinya karena merasa sudah dibohongi dan dipermainkan oleh Nala. Dadanya tampak naik turun disertai nafas yang terdengar begitu menderu.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar itu pun terbuka. Nala tampak memasuki ruangan itu sambil membawa jus alpukat di tangannya, lalu mendekat ke arah Zack.


"Ini jusnya, Tuan," ucap Nala sambil memberikan jus alpukat pada Zack, namun bukannya menerima jus alpukat itu, Zack tampak menatap Nala dengan sorot mata serta wajah yang memerah. Rahangnya pun terlihat mengeras.


Mendapat tatapan tajam dari Zack, Nala pun terlihat gugup dan salah tingkah. Dia kemudian menaruh jus dia atas nakas lalu duduk di samping Zack. "Tuan, apa anda baik-baik saja?"


"Apa kau tidak bisa lihat keadaanku ini? Apa menurutmu aku sedang baik-baik saja?"


"Maafkan saya, Tuan."


"Maaf? Maaf untuk apa?"


"Emh..., emhh..."


"Maaf untuk apa? Cepat jawab?"


"Maafkan saya, Tuan Zack. Sikap anda kenapa tiba-tiba berubah jadi seperti ini? Saya minta maaf kalau hari ini sikap saya sudah membuat anda tidak nyaman, Tuan."


"Cih! Jadi kau baru sadar? Semua sikapmu memang membuatku sangat tidak nyaman!"


"Maafkan saya, Tuan," jawab Nala sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak usah minta maaf kalau kau tidak tahu apa salahmu!"

__ADS_1


"Me-memangnya apa salah saya, Tuan?"


Mendengar perkataan Nala, Zack pun tersenyum smirk. "Cih! Benar kan kau tidak pernah tahu kesalahanmu? Dasar wanita munafik!"


Nala pun begitu terkejut melihat semua tingkah Zack. Dia pun menatap Zack diliputi berbagai tanda tanya di dalam hatinya. "Tu-tuan, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Kenapa? Apa aku terlihat jahat? Ya, memang inilah aku yang sebenarnya! Sudah cukup aku terlihat bodoh di depanmu!"


"Maafkan saya, Tuan. Tolong maafkan saya, saya tidak bermaksud menjadikan anda terlihat bodoh di mata saya," ucap Nala yang entah kenapa kini terlihat mulai takut dengan semua sikap Zack. Tiba-tiba saja, semua perkataan Nathan tentang kejahatan Zack pun terlintas di pikirannya. Entah mengapa, semua keberanian yang ada di hati Nala mengendap begitu saja setelah melihat sikap Zack saat ini. Apalagi, amarah begitu tergambar di wajahnya. Wajah yang sebenarnya tampan, tapi entah mengapa ketampanan itu tertutup oleh sorot mata dan raut wajah sadis di wajahnya. Mungkin, kehidupannya yang keras telah membentuk Zack menjadi pribadi yang seperti ini.


Nala pun kini terlihat meneteskan air matanya. Melihat butir-butir air mata yang jatuh di wajah cantik Nala, amarah di dalam hati Zack pun sedikit memudar. Tapi saat mengingat kembali kebohongan yang dilakukan oleh Nala, seketika emosi pun kembali merasuk ke dalam hati Zack.


"Kenapa kau menangis hah? Asal kau tahu, aku sudah bosan dengan semua isak tangismu itu! Tangisanmu tak ada ubahnya dengan air mata buaya! Cihhhh!"


Nala kemudian menghapus air matanya, kepalanya masih tertunduk dan tidak berani menatap Zack sama sekali. "Bukankah sudah kukatakan jangan menangis di depanku! Dasar wanita sialan!"


"Bukankah sudah kukatakan jangan minta maaf kalau kau tidak tahu kesalahanmu!"


"Tuan, sebenarnya apa kesalahan saya, Tuan? Saya benar-benar tidak mengerti?"


"Oh jadi kau belum tahu kesalahanmu apa? Sekarang coba renungi baik-baik, apa kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun padaku? Apakah sebuah kebohongan menurutmu itu bukan sebuah kesalahan hah?"


"Kebohongan?" ucap Nala dengan suara yang sedikit tercekat.


Zack pun tersenyum smirk. "Jadi kau juga belum menyadari kalau kau telah berbohong padaku?"

__ADS_1


"Berbohong? Berbohong apa, Tuan? Saya benar-benar tidak mengerti?"


"Cih tidak usah berpura-pura bodoh, memangnya kau pikir aku mudah tertipu oleh gadis ingusan sepertimu?"


Nala pun mulai dilanda rasa cemas, dia pun mulai bertanya-tanya apakah Zack sudah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, dia pun kini terlihat merremas bajunya sambil menahan perasaan yang begitu tak menentu. Kembali terlintas dalam benak Nala, tentang percakapannya dengan Nahthan beberapa saat yang lalu, tentang Derick yang dibunuh oleh Zack dengan begitu keji, dan Nala pun mulai dilanda ketakutan kalau saja akan mengalami hal buruk yang pernah dia dengar sebelumnya.


"Kenapa kau diam?"


"Sa-saya..."


"Saya apa? Jadi kau belum menyadari kesalahanmu juga? Jadi kau belum menyadari kesalahanmu yang begitu besar padaku?"


"Tuan, maafkan saya."


"Cih, aku sudah bosan mendengar permintaan maaf dari wanita munafik seperti dirimu, memangnya apa sulitnya mengaku padaku kalau kau telah membohongiku?"


Nala pun masih menundukkan kepalanya, dia sebenarnya ingin membela diri, namun entah mengapa, lidahnya terasa begitu kelu.


"Kenapa kau masih diam, Nala? Apa susahnya mengakui dirimu kalau kau sebenarnya adalah Nala? Kau Nala kan, bukan Caca? Kau Nala putri seorang pengusaha ternama, bukan orang miskin yang meminjam mobil dari temannya. Dan, satu lagi kau adalah Nala, saudara sepupu dari Laurie istriku."


Deg


Nala pun begitu terkejut mendengar perkataan Zack, tubuhnya kini terasa lemas, lebih tepatnya boleh dibilang takut karena Zack telah mengetahui rahasianya. Hatinya kini pun terasa begitu berkecamuk, menahan rasa panik dan takut.


"Nala, kenapa kau diam? Bukankah biasanya kau selalu berbuat sesukamu di depanku? Bukankah biasanya sikapmu selalu mempermainkanku semaumu? Lalu, kenapa sekarang kau cuma bisa diam?"

__ADS_1


"Maaf, saya sudah membohongi anda."


"Kau pikir aku bisa dengan mudah memaafkanmu? Apa kau lupa kau berhadapan dengan siapa? Dan, aku tidak akan pernah membiarkan orang yang sudah membohongiku bisa hidup dengan tenang," ucap Zack sambil tersenyum menyeringai.


__ADS_2