Bed Friend

Bed Friend
Putraku


__ADS_3

Abimana duduk di balkon kamar sambil menikmati segarnya udara pagi hari yang sudah lama tidak dihirupnya dengan jiwa yang damai sambil menyesap kopinya. Tiba-tiba sebuah dekapan hangat pun menempel di punggungnya.


"Bagaimana tidurmu semalam, Abimana?"


"Tentu saja aku sangat menikmatinya karena ada kau di sampingku."


Inara pun tersenyum. "Abimana, bagaimana kalau kita pergi ke London?"


"Ke London? Untuk apa?"


"Sharen dan Kenzo kuliah di London, kita bisa ke sana jika kau ingin bertemu dengan mereka."


"Tidak usah, Inara."


"Apa kau tidak merindukan mereka?"


"Aku sangat merindukan mereka tapi aku belum siap bertemu dengan mereka."


"Kau masih belum percaya diri untuk bertemu dengan mereka?"


Abimana pun menganggukkan kepalanya. "Tapi suatu saat mereka harus tahu siapa dirimu sebenarnya."


"Ya, tapi tidak untuk saat ini, Inara. Suatu saat jika aku sudah siap pasti aku akan menemui Kenzo dan Sharen, setidaknya sampai aku bisa membuktikan jika mereka tidak malu memiliki ayah sepertiku."


"Abimana, Sharen dan Kenzo anak yang baik, pasti mereka akan bisa menerimamu."


"Aku tidak yakin mereka langsung bisa menerimaku, Inara. Pasti butuh proses, karena ini bukan hal yang mudah bagi mereka. Selama ini mereka hanya mengenal Rayhan sebagai ayah mereka."


"Dan aku tetap akan mendampingimu menjalani proses itu, aku akan selalu membantumu dan mendampingimu apapun yang terjadi dalam hidupmu, Abimana."


"Terimakasih Inara, aku sungguh beruntung memiliki istri seperti dirimu," ucap Abimana kemudian mengecup kening Inara.


"Bagaimana kalau sekarang kita telepon Sharen dan Kenzo terlebih dulu? Aku akan memperkenalkan dirimu sebagai suamiku. Bagaimana?"


Abimana kemudian tampak berfikir lalu perlahan pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah."


Inara pun kemudian mengambil ponselnya.


🍒🍒🍒


"Kenzo, tolong jangan ganggu aku. Aku sedang membuat proposal penelitian, aku tidak bisa konsentrasi kalau kau menggangguku terus-menerus," gerutu Cleo yang kini tampak sibuk di depan laptopnya.


"Ini sudah malam Cleo, kau bisa mengerjakannya lagi besok. Masih banyak waktu mengerjakan proposal itu selama liburan musim dingin," ucap Kenzo sambil memeluk Cleo dan menciumi bahu dan tengkuknya.


"Bukankah sejak tadi siang kau juga menggangguku?"


Kenzo lalu membalikkan tubuh Cleo kemudian mulai menciumi wajahnya. "Kenzoooo!!"


"Hahahahahaha, tutup laptopmu dan kerjakan besok, ini sudah malam, tidak ada yang boleh mengganggu kebersamaan kita di malam hari, Cleo," bisik Kenzo di telinga Cleo. Cleo kemudian menutup laptopnya sambil mendengus kesal sedangkan Kenzo kembali menciumi kembali tengkuk dan bahu Cleo sambil membuka kancing piama yang dikenakan oleh Cleo hingga menyisakan pakaian dalam berenda warna hitam yang membungkus aset bagian atas milik Cleo. Di saat itulah tiba-tiba ponsel Kenzo pun berbunyi.


"Mengganggu saja," gerutu Kenzo.


"Angkat teleponnya dulu, Kenzo. Siapa tau penting."


"Siapa?"


"Tante Inara."


"Angkat saja Kenzo."


"Pakaian dulu bajumu, Cleo. Apa kau mau Tante Inara tahu kita sedang berbuat seperti ini."


Cleo lalu mengambil pakaiannya lalu memakai pakaiannya kembali. Setelah melihat Cleo memakai pakaiannya, Kenzo kemudian mengangkat panggilan video dari Inara.


[Halo Tante Inara.]


[Halo Kenzo, kau sedang apa?]


[Oh kami sedang belajar Tante, kami sedang membuat proposal untuk penelitian tugas akhir.] Ucap Kenzo sambil memperlihatkan Cleo yang kini sedang mengetik di laptopnya. Cleo pun tersenyum pada Inara.

__ADS_1


[Halo Tante Inara.]


[Halo Cleo, tante sudah lama tidak melihatmu, kau terlihat semakin cantik. Apa Kenzo tidak tergila-gila pada wanita secantik dirimu?]


[Hahahaha dia sangat tergila-gila padaku, tante.]


[Benarkah?]


[Tante jangan dengarkan kata-kata Cleo.]


[Hahahaha, ya kalian lucu sekali, kalian sangat serasi. Tante selalu mendoakan agar kalian berjodoh.]


[Terimakasih Tante, sepertinya kami memang berjodoh.] Ucap Cleo sambil terkekeh.


[Jadi kalian sedang membuat proposal? Kalian memang anak yang rajin.]


[Terimakasih banyak tante.]


[Lalu apa Tante mengganggu?]


[Oh tidak sama sekali, apa ada hal penting yang ingin tante bicarakan?]


[Begini, bukankah beberapa hari yang lalu tante sudah pernah bercerita jika suami tante juga ingin berkenalan dengan kalian.]


[Oh iya, aku masih mengingatnya.]


[Hari ini Tante akan memperkenalkan suami tante, namanya Abimana.]


Inara kemudian memberikan ponselnya pada Abimana.


"Bicaralah dengannya, ini Kenzo putramu."


Abimana kemudian mengambil ponsel itu dengan tangan yang bergetar. Inara lalu menganggukan kepalanya sambil menggenggam tangan kiri Abimana, mencoba untuk menguatkannya.


"Kau bisa Abimana, jangan merasa rendah diri. Kau adalah ayah kandungnya," ucap Inara saat Abimana mulai menaruh ponsel itu di depan wajahnya, namun air mata pun kini tidak bisa lagi dibendungnya. Abimana kini hanya bisa diam terpaku melihat wajah seorang laki-laki muda yang ada di layar ponsel itu.

__ADS_1


'Putraku,' gumam Abimana sambil meneteskan air matanya.


__ADS_2