Bed Friend

Bed Friend
Tetesan Hujan


__ADS_3

"Ibu kandungku? Apa sebenarnya arti dari semua ini, Ma?"


"Shakila, maafkan aku. Sebenarnya Delia adalah ibu kandungmu. Mama dan Papa Roy bukanlah orang tua kandungmu, Nak. Kami bukan orang tua kandungmu," ucap Aini sambil terisak.


DEG


Jantung Shakila pun seakan berhenti berdetak, aliran listrik seakan mengalir di dalam tubuhnya mendengar perkataan Aini yang saat ini terasa begitu menyesakkan dadanya.


'Ja, jadi aku bukan anak kandung dari Papa Roy dan Mama Aini? Kenapa mereka baru memberitahuku sekarang?' gumam Shakila, perasaannya terasa begitu campur aduk, bahkan terasa begitu sakit dan hancur karena orang yang selama ini dia anggap sebagai orang tua kandungnya ternyata bukan bagian dari keluarganya. Namun, tak dapat dipungkiri meskipun saat ini dia terasa begitu hancur tapi ada sedikit kebahagiaan yang merasuk ke dalam hatinya saat tahu dia dan Darren ternyata bukan seorang kakak beradik.


Fitri kemudian mendekat ke arah Shakila yang masih termenung dengan tatapan mata kosongnya. Saat ini, Shakila memang masih terlihat begitu syok. Fitri lalu lalu mengusap punggungnya. "Shakila, sebaiknya kita tidak bicara di sini. Ayo masuk ke mobil Oma! Aini, Delia, ayo pulang ke rumah sekarang!"


Aini dan Delia lalu menganggukan kepalanya. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil milik Fitri. Delia yang duduk di jok belakang mobil bersama Aini hanya bisa menatap Shakila yang kini duduk di jok tengah bersama dengan Fitri."


'Shakila, aku sangat merindukanmu, Shakila. Aku sangat merindukanmu, tapi aku tidak banyak berharap jika kau mau menerimaku sebagai ibumu. Aku tahu, itu pasti bukan hal yang mudah bagimu. Menerima kehadiran diriku sebagai ibumu pasti bukanlah hal yang mudah, dan aku sadar akan semua itu Shakila,' batin Delia. Tanpa dia sadari, air matanya kembali menetes. Dia kemudian menghapus air matanya sebelum Aini sadar jika dia sedang menangis.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah rumah mewah bermodel jawa modern dengan halaman yang begitu luas.

__ADS_1


"Ayo turun, ini rumah Oma," ucap Fitri pada Shakila. Mereka kemudian turun dari mobil tersebut, saat Shakila baru saja menapakkan kakinya di atas halaman rumah itu. Di depan ambang pintu, tampak seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun terlihat berdiri sambil menatap kedatangan mereka semua.


Perasaan Shakila pun terasa begitu tak menentu. 'Siapa dia? Kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu? Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba begitu banyak misteri di dalam hidupku? Oh Kak Darren, seandainya kau ada di sini, ingin kukatakan padamu dengan lantang jika aku bukanlah adikmu, cinta kita tak pernah salah, Kak. Dan aku berhak memiliki dirimu seutuhnya,' gumam Shakila.


"Ayo Shakila!" perintah Fitri sambil menarik tangan Shakila berjalan ke arah pintu rumah itu dan mendekat pada laki-laki itu yang tengah menatapnya.


Tiba-tiba Shakila mendengar suara langkah yang begitu cepat di belakangnya lalu berjalan mendahuluinya.


'Mama Delia? Kenapa tiba-tiba Mama Delia berlari?' gumam Shakila saat melihat Delia berlari kemudian memeluk laki-laki yang saat ini berdiri di ambang pintu tersebut.


'Astaga, siapa laki-laki itu? Siapa laki-laki itu? Apakah dia Ayah kandungku?' gumam Shakila yang hanya bisa menatap Delia dan Dimas yang saat ini masih berpelukan sambil menangis.


Dia kemudian melirik pada Fitri yang juga tampak meneteskan air matanya yang membuat Shakila mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Fitri. Shakila kemudian menatap Aini yang melihatnya dengan tatapan sendunya sambil menangis dan menganggukkan kepalanya.


"Ya, mereka orang tua kandungmu. Mereka orang tua kandungmu Shakila. Dua puluh tahun yang lalu saat kau berusia satu tahun, Delia menitipkanmu padaku karena dia tidak mau kau tumbuh di sini. Dia tidak ingin kau tumbuh dalam tekanan dan cemoohan. Meskipun kau berasal dari keluarga yang berada, tapi tekanan dan hinaan dari lingkungan sekitar pasti tetap ada, dan Delia tidak mau kau tumbuh dalam tekanan seperti itu. Dia ingin kau tumbuh dalam lingkungan yang sehat, dia ingin mental dan psikologismu tidak terganggu karena tekanan itu, Shakila. Maafkan aku, maafkan kami semua yang sudah membohongimu selama dua puluh tahun terkahir ini, Shakila. Tolong maafkan kami, tapi perlu kau tahu, kami semua menyayangimu, kami sangat menyayangimu Shakila."


Mendengar penjelasan Aini, Shakila pun hanya bisa termenung. Rasanya begitu sulit menerima semua kenyataan ini. Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi dan tidak mungkin terelakkan jika Delia dan Dimas adalah orang tua kandungnya.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Apa karena ibuku ternyata seorang narapidana jadi kalian semua menyembunyikan kenyataan ini? Memangnya kesalahan apa yang dia lakukan? Kesalahan apa yang dia lakukan hingga dipenjara selama dua puluh tahun lamanya?"


Fitri kemudian memegang bahu Shakila. "Bukan hanya ibumu, Shakila. Bukan hanya ibumu saja yang pernah menjadi seorang narapidana, tapi juga ayahmu. Dimas, dia putra kandungan Oma, dia juga menjadi seorang narapidana, dan baru saja bebas dua tahun yang lalu saat Oma menemanimu di rumah sakit. Shakila, kedua orang tuamu adalah seorang narapidana, itulah alasannya mereka menitipkanmu pada Aini. Itulah alasannya mereka ingin kau tumbuh dalam lingkungan yang sehat sehingga menyembunyikan jati dirimu yang sebenarnya. Tolong maafkan kedua orang tuamu, maafkan orang tuamu, mereka bukan orang jahat, tapi mereka melakukan hal itu karena terhimpit keadaan. Shakila, tolong maafkan mereka, dan terima mereka sebagai kedua orang tuamu."


Tubuh Shakila, rasanya begitu lemas mendengar penjelasan Fitri, nyawanya bahkan seakan tercabut dari tubuhnya saat mendengar kenyataan pahit tentang jati dirinya yang sebenarnya. Shakila memundurkan langkahnya, lalu ditangkap oleh Aini sebelum benar-benar terjatuh.


"Shakila, kau kenapa?" tanya Aini saat melihat Shakila yang kini terlihat begitu lemas, tatapan matanya pun kosong.


"Shakila!" panggil Fitri yang kini ikut memegang tubuh Shakila. Namun, Shakila hanya bisa terdiam, hanya tetes demi tetes air mata yang membasahi wajahnya. Tetes air mata itu, kini bercampur dengan rintik gerimis yang mulai membasahi tubuh mereka, seiring tubuh Shakila yang kini ambruk ke atas tanah.


'Tetesan hujan dan air mata ini sama, sebutir benda bening yang berhak membasahi setiap insan. Hanya saja tetesan hujan tidak akan pernah tahu pada siapa dia akan jatuh, tapi tetesan air mata ini pasti sudah tahu siapa yang menyebabkan dia terjatuh,' gumam Shakila sebelum menutup matanya.


NOTE:


Yang mau ikutan curcol and ghibah sama othor bisa gabung ke grup chat othor yang ada di dinding ya. Tinggal klik grup aja nanti othor terima. Ada GA juga loh.


Terima kasih 😍🥰😘

__ADS_1


__ADS_2