
"Sachi!" teriak Delia saat melihat Dea yang sedang berlari ke arahnya dan menghambur memeluk tubuhnya.
"Maafkan aku, Ma. Maaf aku sudah kasar pada kalian. Tolong maafkan aku, Ma!" ucap Dea sambil terisak.
"Tidak apa-apa sayang, aku tahu ini pasti bukan hal yang mudah bagimu. Menerima kehadiran kami saja itu bukan hal yang mudah. Apalagi menerima masa lalu kami, kami yang seharusnya minta maaf padamu, Sayang. Karena kecerobohan yang telah Mama lakukan, kau jadi terlunta-lunta dan kehilangan keluargamu seperti ini!" ucap Delia sambil memeluk Dea dengan begitu erat.
"Tidak Ma, tidak apa-apa. Situasinya dulu memang tidak mudah bagi Mama, seharusnya aku menyadari semua itu. Lagipula, dalam setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Aku bisa dirawat dan bertemu dengan orang sebaik Ibu Panti juga merupakan sebuah keberuntungan bagiku, jadi tolong jangan menyalahkan diri Mama sendiri lagi. Tolong jangan bicarakan hal itu lagi, Ma. Mama, kita buka lembaran baru, Mama mau kan?"
"Tentu saja, Sayang. Tentu saja kita akan membuka lembaran baru, sekarang kau mau kan pulang dengan Mama? Mama sangat merindukanmu, Nak. Mama sangat merindukan kebersamaan yang hilang denganmu, Nak!"
Dea lalu menganggukkan kepalanya. "Iya, aku mau pulang sama Mama. Aku juga merindukan Mama, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua, Ma."
"Terima kasih, Sachi. Ayo kita pulang! Sekarang kita pamit dulu pada Ibu Panti."
Dea menganggukkan kepalanya, Sedangkan Delia lalu melihat Dimas dan menganggukkan kepalanya. Mereka lalu masuk kembali ke dalam panti, untuk berpamitan dengan Ibu Panti.
"Ck, penuh drama! Dasar anak muda!" ujar Vallen saat mereka sudah masuk ke dalam panti.
"Mama! Tidak sepantasnya Mama berkata seperti itu, Ma!" tegur Cleo.
"Spontan, Cleo."
"Benar-benar orang tua yang tidak bijaksana!" gerutu Cleo.
"Cleo! Kau berani berkata seperti itu pada Mama! Apa kau mau kukutuk jadi batu sekarang juga!"
"Batu diamond, mau Ma!" ujar Cleo sambil terkekeh.
"CLEO!!"
"Ampun Ma!"
"Cleo!" tegur Kenzo sambil memelototkan matanya. "Maaf," jawab Cleo singkat. Sedangkan Aini kini tampak terkekeh.
'Kenapa aku mempunyai firasat buruk saat bertemu dengan Dea? Ah, mungkin hanya sekedar firasatku saja? Tapiiii, bukankan firasatku tidak pernah salah? Ah tidak, semoga saja aku salah,' batin Vallen saat melihat Dea yang saat ini tampak keluar dari panti bersama Dimas dan Delia.
***
"Siapa yang meneleponmu, Shakila?"
"Mama, Kak. Mama Aini, Mama Delia, dan Papa berhasil menemukan Sachi!" jawab Shakila dengan setengah berteriak.
"Syukurlah, ini artinya kau bisa sepenuhnya terbebas dari ikatan pertunanganmu dengan Devano, kan?"
"Iya Kak, dan kita bisa menikah secepatnya! Saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke sini, Kak!" teriak Shakila sambil memeluk Darren.
"Hahahaha, hahahaaha!"
"Kau bahagia?"
"Sangat, Kak!"
"Aku juga," ujar Darren sambil balas memeluk Shakila. Dia kemudian mengusap punggung Shakila sambil memberikan kecupan di bahu dan tengkuk Shakila.
"Kakak, aku juga bahagia bisa bertemu dengan adik kandungku. Kata Mama, Sachi selama ini hidup di Panti Asuhan, syukurlah dia tidak hidup terlunta-lunta dan dirawat oleh para petugas panti yang menyayanginya."
"Iya, dan kau hidup denganku yang seumur hidupku kuhabiskan untuk menyayangimu."
"Hahahahaha, Kak Darren. Kau ada-ada saja!"
"Bukankah memang kenyataannya seperti itu? Aku menghabiskan hidupku untuk mencintaimu, bahkan tidak pernah ada wanita manapun yang ada di hatiku selain kau, Sayang!"
"Awwww, so sweet!" ucap Shakila sambil terkekeh. Darren kemudian melepaskan pelukannya pada Shakila.
__ADS_1
Dia kemudian mengangkat dagu Shakila, mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Shalika, dan melummatnya dengan begitu lembut.
"I love you," ucap Darren setelah melepaskan ciuman itu.
"Love you too, Kak."
TETTTT TETTTTT
Di saat itulah, suara bel pun terdengar. "Itu pasti mereka," ujar Shakila.
"Iya Shakila, kita buka pintunya."
"Iya Kak."
Mereka kemudian bergegas menuju ke arah pintu dan membuka pintu tersebut. Saat pintu itu terbuka, tampak seorang wanita muda berdiri di samping Delia. Shakila lalu menatap Delia.
"Ini Sachi, Ma?"
Delia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sontak, Shakila langsung menghambur memeluk wanita yang ada di samping Delia.
"Sachi, apa kabarmu?" ucap Shakila.
"Sachi, dia Shakila, kakakmu Nak," tambah Delia.
"Baik, Kak. Aku baik, senang bisa bertemu denganmu, Kak," jawab Dea.
"Aku juga senang bisa bertemu dengan adik kandungku, aku sangat bahagia Sachi!" ucap Shakila sambil memeluk Dea kian erat.
"Sebaiknya kita masuk dulu, Sayang! Kau bisa ngobrol dengan adikmu di dalam!" kata Darren.
Shakila lalu melepaskan pelukannya pada Dea. "Kau benar, Kak. Ayo kita masuk ke dalam! Emh, Dea perkenalkan dia Kak Darren, calon suamiku."
Dea lalu menatap laki-laki yang ada di samping Shakila. 'Dia calon suami kakakku, Shakila? Tampan sekali? Mengapa rasanya hidup ini begitu tidak adil padaku? Kak Shakila, sungguh beruntung. Meskipun kami bersaudara, nasib kami sungguh berbeda. Saat Papa dan Mama berada di dalam penjara, Kak Shakila diasuh oleh Tante Aini yang kaya raya. Sedangkan aku? Aku dibesarkan di Panti Asuhan dengan berbagai keterbatasannya. Lalu, Kak Shakila juga bisa memperoleh calon suami yang sangat tampan seperti Kak Darren. Jika saja, saat itu aku tidak tertinggal di dalam kereta, dan sama-sama dirawat oleh Tante Aini, mungkinkah Kak Darren jatuh cinta padaku?' batin Dea sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
***
"Tidak apa-apa Devano, cuma tiba-tiba terasa sedikit nyeri, sekarang sudah tidak apa-apa."
"Benar kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, ayo kita turun, Devano."
"Benar tidak apa-apa Luna?"
"Tidak apa."
"Kau sudah siap?"
"Aku siap." Devano kemudian menggenggam tangan Luna sambil tersenyum. "Everything always be okay honey."
"Yeah."
"I will always beside you."
"Thanks," jawab Luna, kemudian mengecup bibir Devano. Mereka lalu turun dari mobil tersebut.
TOK TOK TOK
Beberapa saat kemudian, pintu rumah itu pun terbuka. Tampak Rahma sedikit terkejut melihat kedatangan Luna dan Devano.
"Luna, Devano!" sapa Rahma. Devano dan Luna lalu tersenyum.
"Selamat malam, Ma."
__ADS_1
"Selamat malam, ayo cepat masuk ke dalam!"
Devano dan Luna lalu mengikuti perintah Rahma masuk ke dalam rumah tersebut. "Luna, Devano, ada apa? Kenapa kalian malam-malam ke sini? Bukankah kau sedang hamil, Nak? Lebih baik kau istirahat saja di rumah."
Luna terdiam, semua pertanyaan yang dia siapkan pada Rahma seolah-olah hilang begitu saja. Kini, lidahnya terasa begitu kelu dan bibirnya kaku, bahkan untuk membuka mulut terasa begitu sulit.
Manik mata coklat itu kini terlihat berembun, dan mulai meneteskan tetesan-tetesan bening dari kedua sudut matanya.
Melihat Luna yang menangis, Rahma kemudian menggenggam tangan Luna. "Luna, kau kenapa?Kenapa kau tiba-tiba menangis? Apa sesuatu telah terjadi padamu?"
Luna hanya terdiam, Rahma kemudian menatap Devano yang juga menatapnya dengan tatapan begitu dalam. "Devano, apa yang sebenarnya terjadi?"
Saat Devano akan menjawab pertanyaan Rahma, tiba-tiba Luna membuka suaranya. "Biar aku saja, Devano," ujar Luna.
Rahma tampak semakin bingung dengan sikap Devano dan Luna. Namun, tak dapat dipungkiri kalau perasaannya kini begitu tak menentu, bahkan degup jantungnya pun terdengar begitu kencang.
"Ma--" ucap Luna tertahan, tapi dia berusaha menegarkan hatinya.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, Ma?"
"Kau mau tanya apa Luna?" jawab Rahma, sambil menahan perasaan yang kini terasa begitu campur aduk. Rasa khawatir dan cemas mulai merasuk ke dalam hatinya yang mulai dipenuhi oleh tanda tanya. Rahma memiliki firasat, kalau Luna sudah tahu tentang rahasianya.
"Mama, aku sudah tahu yang sebenarnya, Ma."
"Sudah tahu yang sebenarnya? Apa maksudmu, Luna?"
"Mama tidak usah berpura-pura lagi. Aku sudah tahu semuanya, Ma. Aku sudah tahu kalau aku bukanlah anak kandung Mama kan? Mama menemukanku di dalam gerbong kereta api kan?"
"Maaf Luna. Maafkan aku," jawab Rahma. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya di hadapan Luna sambil menggenggam tangannya.
"Luna, mama terima kalau kau tidak memaafkan mama, mama terima kalau kau membenci mama. Memang mama layak dibenci. Dulu mama hanyalah seorang wanita egois yang tidak tahu diri. Memanfaatkan kesempatan, hanya untuk kepentingan pribadi. Mama minta maaf Luna, maaf karena kau harus hidup menderita karena menanggung keegoisanku," ucap Rahma dengan begitu terisak.
"Kenapa? Kenapa mama melakukan semua ini?"
"Mama takut diceraikan..."
"Diceraikan? Kenapa? Apa yang membuat mama berfikir kalau papa akan menceraikan Mama?"
"Mama menukarmu dan Dea, karena Dea menderita penyakit jantung, mama takut papa marah karena saat itu keadaan ekonomi kami sangat pas-pasan. Saat itu di kereta yang sama, mama duduk tidak jauh dengan mamamu yang membawa seorang anak kecil berumur sekitar dua tahun, dan seorang bayi baru lahir dan dia adalah kau. Saat di dalam kereta, ibumu tampak begitu ketakutan dan cemas. Sampai akhirnya kereta api tersebut berhenti dan dia meninggalkanmu di dalam kereta api itu."
Kata-kata Rahma terhenti, sesak itu yang dia rasakan mengingat kejadian dua puluh tahun silam. Begitupula dengan Luna yang saat ini hanya bisa terdiam sambil meremmas dadanya.
"Awalnya mama memang akan menitipkanmu ke pihak stasiun atau puskesmas terdekat. Tapi mama terbujuk rayuan setan hingga menukarmu dan putri kandung mama, Dea. Karena saat itu mama yakin, di panti asuhan itu, pasti mereka bisa mengobati Dea, karena panti asuhan itu memiliki donatur tetap yang selalu membantu mereka merawat anak-anak panti."
"Lalu, siapa sebenarnya orang tua kandungku, Ma? "
Rahma terdiam raut wajahnya pun menunjukkan sebuah kebingungan, perlahan dia pun menggelengkan kepalanya.
"Entahlah," jawab Rahma lirih.
"Jadi, Mama tidak tahu siapa orang tua kandungku?"
"Tidak Luna karena mama hanya bertemu dia di kereta, bahkan mama juga tidak mengenalnya."
"Astaga," ucap Luna yang kini mulai terisak kembali. Dia kemudian menundukkan kepalanya, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Devano kemudian merengkuh Luna ke dalam pelukannya. "Sabar Luna, aku pasti akan membantu mencari kedua orang tuamu."
"Emh..., begini mama ingat sesuatu Luna."
"Ingat sesuatu apa, Ma?"
"Mama ingat, saat itu ibumu naik dari sebuah stasiun besar di kota Yogyakarta, Nak. Jadi mungkin orang tuamu berasal dari Yogyakarta.
__ADS_1
DEG
Mendengar perkataan Rahma, jantung Devano pun seakan terhenti. 'Yogyakarta? Bukankah itu adalah kota asal Om Dimas dan Tante Delia? Apakah Tante Delia ada kaitannya dengan masa lalu Luna? Jangan-jangan mereka adalah keluarga terdekat dari Luna? Atau bahkan malah orangtua Luna yang sebenarnya? Ah tidak, bukankah Om Dimas dan Tante Delia hanya memiliki dua orang putri, yaitu Shakila dan Sachi yang saat ini masih ada di luar negeri?' batin Devano.