
Shakila lalu memandang coffe late yang baru dibuatnya. "Astaga, Dea bahkan belum minum coffe late ini? Tapi, sepertinya dia sudah marah padaku. Lalu, bagaimana caranya aku punya kesempatan untuk mengambil sampel dari bagian tubuhnya."
Shakila kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi yang ada di taman itu. Matanya terpejam, dan tampak berfikir sejenak.
"Ah, sebaiknya aku memberi tahu Tante Vallen saja. Sebaiknya aku kirim pesan saja padanya. Terlalu berbahaya jika aku menelepon Tante Vallen karena Dea bisa saja mendengar percakapanku dengan Tante Vallen."
Shakila lalu mengutak-atik ponselnya, untuk mengirim pesan pada Vallen.
Sementara Vallen yang tengah sarapan pagi tampak mengerutkan keningnya saat membaca pesan dari Shakila.
"Ada apa Ma?" tanya Cleo saat melihat Vallen yang kini sedang menatap ponsel miliknya.
"Shakila mengirim pesan pada mama."
"Ada apa? Apa kata Shakila? Apa dia sudah bisa mengambil sampel bagian tubuh dari Dea?"
"Belum, dia kesulitan mengambil bagian tubuh Dea karena hubungannya dengan Dea sedikit tidak baik."
"Kurang baik? Apa maksud Mama? Hubungan Dea dan Shakila kurang baik? Bukankan mereka kakak beradik yang sudah lama tidak bertemu, Ma?"
"Entahlah, Shakila hanya bercerita jika Dea kurang nyaman di dekatnya, dia merasa hidup mereka tidak adil karena mereka tumbuh di lingkungan yang berbeda dan sangat bertolak belakang."
"Aneh sekali," gerutu Cleo.
"Jadi, Shakila tidak bisa mengambil bagian tubuh dari Dea kan, Ma? Termasuk air liurnya?" tanya Kenzo.
"Ya, karena Dea tidak mau meminum minuman yang dibuat oleh Shakila."
"Oh begitu, bagaimana kalau aku saja yang membantu kalian mendapatkan sampel itu?" ucap Kenzo sambil tersenyum.
"Kenzo, apa maksudmu? Jadi, kau mau membuatkan minuman untuk Dea? Nakal sekali kau!"
"Tidak Cleo. Aku mana mungkin berbuat seperti itu, kau ada-ada saja!"
"Lalu, apa maksud dari kata-katamu itu?"
"Begini," ucap Kenzo sambil mendekatkan wajahnya pada telinga Cleo lalu membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Heiiii, apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian berbisik-bisik seperti itu? Kalian pikir mama itu setan? Kalian pikir cuma kalian yang bisa bermesraan? Helowww, dulu mama dan papa bahkan jauh lebih mesra dibandingkan dengan kalian berdua. Kalian tidak tahu kan bahkan setiap malam papa menunggu mama di depan pos kamling untuk melihat wajah mama yang cantik jelita ini."
"Hahhaha, bukannya Papa melakukan semua itu untuk minta maaf karena sudah menolak cinta mama kan? Hahhaha..."
"Sama saja Cleo, itu artinya papamu sedang mengejar-ngejar mama!"
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Firman sambil berjalan mendekat ke arah mereka.
"Ini Pa, tadi Mama mengatakan kalau Papa yang mengejar-ngejar cinta Mama terlebih dulu?"
"Benarkan? Bukannya terbalik? Hahhaha..."
"Kau juga mau meledekku, Firman?"
"Hahhaha, tidak Vallen sayang. You're my everything," ujar Firman sambil mengedipkan matanya.
"Ini baru suamiku tersayang, awww kau memang selalu manis."
Firman hanya terkekeh, apalagi saat ini Vallen ikut bergelayut di tangannya, sama seperti Cleo dan Kenzo.
"Kenzo, memang apa rencanamu?" tanya Vallen.
"Bagus, mama tunggu."
"Iya Ma."
***
Dea tampak berdiri di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat. Jantungnya berdegup begitu kencang. Hatinya kini terasa begitu campur aduk, antara bahagia karena bisa berjumpa dengan sosok yang dia rindukan. Tapi, juga bimbang karena dia sebenarnya tidak ingin berpisah dengan sosok itu. Namum keadaan berkata lain, dia harus keluar dari perusahaan milik Kenzo, dan melanjutkan hidupnya untuk bertunangan dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal.
"Lagi-lagi, aku dipaksa menurut pada keadaan. Tapi aku bisa apa? Aku tidak bisa mengelak keadaan ini yang begitu menyiksaku," ujar Dea. Dia kemudian menempelkan tangannya pada pintu itu, lalu mengetuknya.
TOK TOK TOK
"Masuk!" jawab sebuah suara dari dalam ruangan. Perlahan, Dea membuka gagang pintu itu.
"Oh Dea, silahkan duduk," ujar Kenzo saat melihat Dea yang masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Iya Tuan Kenzo."
"Panggil Kenzo saja karena saat ini kau bukan karyawanku lagi. Lagipula, orang tua kita juga berteman. Jadi, anggap saja kita teman dekat."
Dea lalu menarik sudut bibirnya. "Iya Kenzo, terima kasih."
Dia kemudian duduk sambil menatap Kenzo dengan tatapan kagum. 'Astaga, sungguh berat. Rasanya sungguh berat aku harus berpisah dengan Kenzo,' batin Dea.
"Kau sudah mengambil berkasmu dari HRD?"
"Sudah. Saya ke sini untuk berpamitan dengan anda."
"Oh iya, terima kasih banyak Dea. Terima kasih karena sudah pernah menjadi bagian dari perusahaan ini, dan kau bekerja dengan baik di sini. Meskipun sebentar."
"Sama-sama, Kenzo."
"Ini, tolong diterima. Aku tahu, uang ini pasti tidak seberapa bagimu karena kau pasti jauh memiliki lebih banyak dibandingkan yang kuberikan padamu. Tapi anggap saja ini bagian dari apresiasi dari kinerjamu di perusahaan ini, Dea. Jadi tolong diterima," ucap Kenzo sambil memberikan amplop berwarna cokelat.
"Aku terima, terima kasih banyak, Kenzo."
"Iya Dea."
'Kenzo, aku menerima uang ini bukan sebagai wujud apresiasi dari kinerjaku. Tapi karena ini adalah pemberian darimu yang akan selalu kukenang, Kenzo,' batin Dea.
"Kalau begitu, aku permisi dulu Kenzo. Aku tahu kau sedang banyak pekerjaan, aku tidak mau mengganggumu."
"Oh, emh Dea. Sebentar!" sahut Kenzo saat Dea mulai bangkit dari tempat duduknya.
Dea kemudian berdiri sambil menatap Kenzo. "Ada apa Kenzo?"
"Emh begini, Dea. Bisakah kita minum kopi sambil ngobrol sebentar?"
Dea kemudian mengerutkan keningnya. "Minum kopi?"
"Ya, apa kau mau ngobrol sebentar denganku sambil minum kopi?"
'Kenzo mengajakku minum kopi? Astaga apa artinya semua ini? Apakah Kenzo mulai tertarik padaku?' batin Dea sambil menatap Kenzo yang sedang menatapnya.
__ADS_1
'Tatapan ini? Tatapan yang begitu dalam. Apa arti dari semua ini? Apakah Kenzo memang benar-benar tertarik padaku? Tidak mungkin seorang laki-laki dewasa mengajak duduk berdua dengan seorang wanita jika tidak memiliki rasa cinta kan?' batin Dea kembali.