
Sebuah mobil sedan berwarna hitam tampak berhenti di sebuah rumah mewah minimalis dua lantai. Di dalam mobil tersebut, terlihat seorang wanita dan laki-laki yang sedang melakukan perdebatan kecil.
"Besok aku akan pulang ke Australia, dan tidak pernah akan kembali lagi. Aku yakin, kau pasti akan menemukan laki-laki baik yang akan menjadi jodohmu, Jane."
"Kau benar-benar kurang ajar, Dareen! Kau memang aneh! Satu jam yang lalu, kau bersikap begitu manis padaku. Lalu sekarang? Kau membuangku begitu saja! Dasar benar-benar kurang ajar! Lalu apa sebenarnya maksudmu bersikap seperti itu jika akhirnya kau membuangku begitu saja?"
"Sekali lagi maafkan aku, Jane. Bukankah sejak dulu aku selalu memintamu untuk menjauhiku? Tapi kenapa kau masih saja datang ke rumahku? Maaf jika karena itu aku memanfaatkan kedatangamu."
"Memanfaatkan kedatanganku? Apa maksudmu Darren? "
"Ya, maaf jika tadi aku sudah memanfaatkan kedatanganmu untuk membuat cemburu seseorang. Aku sangat mencintai wanita itu, namun aku sadar cinta kami tidak mungkin akan bisa bersatu, karena itulah aku memanfaatkanmu agar dia tidak berharap lagi padaku. Aku sangat mencintai wanita itu, di dunia ini, tidak ada wanita lain yang kuinginkan kecuali dirinya, aku mencintainya setulus hatiku, sepanjang hidupku, dan sepertinya aku tidak mungkin jatuh cinta pada wanita lain selain dirinya. Jadi tolong lupakan aku, Jane. Tolong lupakan aku karena aku tidak bisa mencinta wanita lain kecuali dia. Apa kau mengerti? Tolong lupakan aku!"
"Apa kau sudah gila, Darren? Bukankah tadi kau mengatakan jika kalian tidak mungkin bisa bersatu? Tapi kenapa kau juga mengatakan jika kau tidak mungkin mencintai wanita lain selain dia? Apa kau sudah gila? Jadi kau akan menyia-nyiakan hidupmu untuk melakukan hal bodoh? Kau memang benar-benar laki-laki yang bodoh!"
"Terserah kau mau berkata apa. Aku bahkan tidak peduli seisi dunia menganggap aku orang bodoh, karena bagiku mencintai wanita seindah dirinya adalah bagian terindah dalam hidupku. Jane, sebaiknya sekarang kau pulang, dan tolong jangan pernah berharap lagi padaku, karena sampai kapanpun, bahkan sampai ujung usiaku, jawabanku tetap sama. Hanya dia, hanya dia wanita yang sangat kucintai. Sekali lagi, maaf. Selamat malam, Jane," ucap Darren. Dia kemudian turun dari mobil Jane dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Jane yang masih berdiam diri di dalam mobil menatap kepergian Darren dengan tatapan nanar.
"Sebenarnya siapa wanita itu? Sebenarnya siapa wanita yang kau cintai itu Darren? Ah tunggu dulu, bukankah tadi dia mengatakan jika dia sedang membuat cemburu seorang wanita? Lalu tadi saat makan malam bukankah hanya ada Shakila dan Tante Aini? Apakah ini artinya jika wanita yang Darren cintai itu, Shakila? Ya, sepertinya dugaanku ini benar karena tadi Darren juga mengatakan jika dia tidak mungkin memilikinya? Dia tidak mungkin memiliki Shakila karena mereka kakak beradik?"
Jane lalu menghembuskan nafas panjangnya. "Ini tidak bisa dibiarkan!" gerutu Jane sambil mengendarai mobilnya keluar dari rumah Darren.
Sementara itu, Darren yang saat ini sudah masuk ke dalam rumahnya tampak sedikit terkejut karena rumah itu tampak begitu sepi.
"Kenapa sepi sekali? Bukankah biasanya Mama dan Papa masih menonton televisi? Ah mungkin saja mereka sudah tidur," ujar Darren sambil berlalu menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, dia kemudian berjalan ke arah balkon lalu memandang ke arah balkon Shakila yang kini terlihat gelap.
"Kenapa kamar Shakila gelap sekali? Bukankah dia takut gelap? Ah mungkin saja dia sedang merenung. Shakila, maafkan aku. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, Shakila. Tapi aku tidak ingin cinta kita semakin dalam yang akhirnya akan membuat kita dalam keadaan semakin sulit. Shakila, sampai kapanpun aku akan terus hidup dengan kebodohanku untuk tetap mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Shakila," ujar Darren sambil berlalu menuju ke kamarnya.
Keesokan Hatinya..
Darren membuka matanya saat matahari mulai masuk melalui celah jendela kamarnya. Dia kemudian melihat ke arah jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
__ADS_1
"Sudah pukul tujuh? Aku kesiangan, tadi malam aku tidak bisa tidur sampai bangun sesiang ini? Astaga, bisa-bisa aku bertemu dengan Shakila di meja makan. Huft rasanya sulit sekali mengendalikan perasaan ini jika aku bertemu dengannya. Aku sebenarnya sangat ingin memeluk dan mencium seluruh tubuhnya!" ucap Darren sambil tersenyum kecut.
Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar dari kamarnya menuju ke arah meja makan. Sebelum sampai di meja makan, tampak Darren mengamati meja makan tersebut.
"Kebetulan sekali, tidak ada Shakila di meja makan," ujar Darren. Dia kemudian mendekat ke arah meja makan lalu menyapa Aini dan Roy.
"Selamat pagi, Pa. Selamat pagi, Ma!" sapa Darren.
"Selamat pagi, Darren."
"Yang lain mana?" tanya Darren berbasa-basi.
"Oh Shakila, dia sudah pulang ke Jogja, sedangkan Tristan, dia sudah berangkat sekolah."
"Pulang ke Jogja? Apa maksudnya, Ma?"
"Ya, pulang ke Jogja, bersama dengan keluarga kandung Shakila."
"Apa Shakila belum menceritakan padamu? Mama pikir kalian sudah sempat bicara, bukankah Shakila juga sudah mengirimkan pesan padamu dan menceritakan tentang jati dirinya?"
'Astaga, aku memang benar-benar bodoh! Aku tidak pernah membuka pesan dari Shakila! Astaga, aku memang sangat pengecut! Aku bahkan tidak berani membuka pesan dari Shakila karena takut tidak bisa menahan rinduku padanya! Aku benar-benar bodoh!' batin Darren.
"Mama, Papa, ja.., jadi maksud kalian Shakila bukan adikku? Dia bukan anak kandung Papa dan Mama?"
"Bukan Darren, Shakila anak kandung dari Delia dan Dimas. Karena sebuah alasan, mereka menitipkan Shakila sejak dia berumur satu tahun. Setelah masalah orang tuanya selesai, dia kembali lagi ke Jogja untuk berkumpul kembali dengan keluarganya."
Perasaan Darren pun begitu kacau mendengar perkataan Aini. Dia hanya bisa mengumpat di dalam hati sambil menyesali kebodohannya.
"Aku memang benar-benar bodoh! Bodoh! Bodoh!" gerutu Darren.
"Kau kenapa Darren?"
"Mama, apa Mama tahu alamat Shakila di Jogja?"
__ADS_1
"Tentu saja, memangnya kenapa Darren? Kenapa kau begitu cemas?"
"Aku harus bertemu dengan Shakila, Ma! Aku harus bertemu dengan Shakila!"
"Tapi tidak sekarang, Darren. Kau bisa menemuinya besok. Siang ini Shakila akan melangsungkan pertunangan dengan Devano. Sebaiknya kau menemuinya besok saja, setelah acara pertunangan itu selesai."
DEG
Jantung Darren pun seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Aini.
"Apa pertunangan?"
"Ya, siang ini Shakila akan bertunangan dengan Devano."
"TIDAKKK!" teriak Darren sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kau kenapa Darren? Kau kenapa?"
"Ma, aku harus pergi bertemu dengan Shakila secepatnya! Tolong kirimkan alamatnya, Ma. Aku harus pergi menemui Shakila secepatnya!"
"DARREN! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?" bentak Roy.
"Papa, Mama, aku tidak punya waktu menjelaskan semua ini. Aku harus pergi sekarang juga!"
Darren lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu, dia tampak keluar dari rumah dengan begitu tergesa-gesa. Sedangkan Aini dan Roy menatap kepergian Darren dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
"Aini, apa yang sebenarnya terjadi dengan putra kita?"
"Entahlah, Roy."
Sementara Darren yang saat ini sudah keluar dari rumah itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi menunju ke Bandara.
"Semoga aku belum terlambat, semoga aku belum terlambat. Shakila, tunggu aku. Tunggu laki-laki pengecut ini untuk mengatakan pada dunia jika aku mencintaimu, akan kukatakan pada dunia jika aku cinta padamu, Shakila."
__ADS_1