Bed Friend

Bed Friend
Membantuku


__ADS_3

"Bu Rahma?" tanya Delia.


"Ya, Bu Rahma ibu kandung Dea. Hanya dengan pengakuan dari Bu Rahma lah, kita bisa memberikan bukti kalau Dea itu bukan anak kandung dari Papa dan Mama."


"Itu ide yang bagus Shakila," kata Dimas. Sedangkan Delia hanya menganggukkan kepalanya.


"Besok aku akan menemui Bu Rahma dan memintanya untuk mengatakan semua kebenaran ini."


"Ya besok kau temui saja Bu Rahma, sekarang yang terpenting adalah kita pikirkan dulu kesehatan Oma. Semoga saja, keadaan Oma membaik."


"Iya Pa."


Tanpa mereka sadari, dibalik salah satu dinding tembok rumah sakit itu, sepasang mata tampak mengamati mereka, dan mendengar semua percakapan mereka.


Dia lalu menarik tubuhnya, dan menempelkan tubuh itu ke tembok sambil memejamkan matanya. "Oh tidak," ujarnya lirih.


"Ini tidak boleh terjadi, mereka tidak boleh menemui Bu Rahma, dan Bu Rahma pun tidak boleh menceritakan yang sebenarnya kalau ternyata aku bukanlah anak kandung dari Papa Dimas dan Mama Delia. Aku tidak semua itu terjadi, aku harus melakukan sesuatu," ujar Dea. Dia kemudian beranjak dari tempat itu dan keluar dari rumah sakit tersebut menuju ke panti asuhan. Tak berapa lama, Dea pun sudah di panti asuhan tempatnya dia tinggal dulu.


TOK TOK TOK


Setelah Dea mengetuk pintu, beberapa saat kemudian pintu asuhan tersebut pun terbuka. Saat pintu itu terbuka, tampak Ibu Panti berdiri dan menatap Dea sambil tersenyum.


"Dea!" sapa ibu panti.


"Ada apa Dea? Ada apa kamu malam-malam datang ke sini, Nak?"


"Begini ibu panti, ada suatu hal penting yang ingin aku tanyakan pada ibu."


"Hal penting yang ingin kau tanyakan? Kau ingin tanya apa, Dea?


"Ini tentang Buu Rahma."


"Bu Rahma? Ada apa dengan Bu Rahma? Apa kau sudah bertemu dengannya kembali?"


Dia kemudian menggelengkan kepalanya. "Ibu panti, bolehkah aku minta alamat dari Bu Rahma?"


"Oh tentu saja, Nak. Tapi bukankah beberapa saat yang lalu ibu juga sudah memberikan alamatnya saat kakakmu, Shakila?"

__ADS_1


"Kak Shakila?"


"Iya Dea, beberapa saat yang lalu Shakila mengunjungi Panti ini."


"Apa? Kak Shakila pernah mengunjungi Panti ini?"


"Iya nak saat itu kakakmu datang bersama seorang laki-laki yang kemungkinan adalah kekasihnya. Dia datang ke panti ini dan meminta alamat Bu Rahma."


'Brrengsek dasar Kak Shakila benar-benar brengsek! Jadi ini alasannya mereka sudah tahu siapa aku yang sebenarnya? Itu karena ulah si brengsekk Shakila,' batin Dea kembali.


"Oh iya, saat ini Kak Shakila sedang menemani Oma di rumah sakit jadi aku tidak sempat menanyakan pada Kak Shakila."


"Oh baiklah kalau begitu, ibu ambilkan alamatnya ya."


Ibu panti lalu masuk ke dalam panti asuhan tersebut, dan menuliskan alamat rumah Rama. Lalu dia berikan pada Dea.


"Ini Dea ini, alamat rumah Bu Rahma."


"Iya Ibu Panti, terima kasih banyak."


Rumah kecil dengan halaman yang tidak begitu luas, tetapi dipenuhi oleh berbagai macam bunga-bunga yang begitu terawat. Dia menatap rumah itu dengan tatapan nanar, matanya kini pun mulai berembun.


"Jadi ini rumah Bu Rahma? Tidak, aku tidak mau tinggal di rumah seperti ini. Aku tidak mau, aku harus melakukan sesuatu agar bisa mempertahankan posisiku saat ini." Dea kemudian turun dari mobil tersebut dan berjalan ke rumah itu.


TOK TOK TOK


Tak Berapa lama, pintu rumah itu pun terbuka. Rahma yang membuka pintu tersebut tampak terkejut melihat kedatangan Dea.


Melihat Dea yang menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam, Rahma pun tampak begitu gugup.


"Dea," sapa Bu Rahma. Namun, Dea hanya terdiam dan tetap menatapnya dengan tatapan kosong.


"Dea kau kenapa? Kenapa kau ke sini malam-malam? Dea ini sudah malam udara malam tidak cocok untukmu."


"Apa pedulimu padaku?" Rahma hanya terdiam lalu menundukkan wajahnya.


"Kau mau membiarkan ku berdiri di sini saja Bu Rahma?"

__ADS_1


Rahma kemudian mengangkat wajahnya. "Maafkan aku Dea, aku tidak bermaksud untuk membiarkanmu di luar seperti ini. Ayo kita masuk ke dalam!"


Dengan langkah lunglai, Dea lalu masuk ke dalam rumah tersebut. Dia kemudian melihat seisi rumah kemudian duduk di sebuah sofa usang yang ada di ruang tamu rumah itu dengan sangat terpaksa.


'Aku tidak mau hidup di rumah ini. Bukankah biasanya aku ada di sebuah rumah yang megah? Bukankah biasanya aku duduk di sebuah sofa yang empuk dan mewah? Aku tidak mau tinggal di rumah yang kecil dan kumuh ini. Aku tidak bisa, aku tidak bisa hidup seperti ini. Aku tidak mau kembali pada keluargaku,' batin Dea sambil melihat sekitar rumah itu.


"Dea, kau kenapa?" panggil Bu Rahma. Dea kemudian mengalihkan wajahnya pada Rahma dan menatapnya kembali dengan tatapan begitu tajam.


"Tdak usah berpura-pura lagi Bu Rahma, aku sudah tahu siapa diriku sebenarnya."


DEGGGG


Tubuh Rahma kini terasa bergetar seakan dialiri aliran listrik, jantungnya pun berdegup begitu kencang. Hatinya terasa begitu sesak mendengar perkataan Dea, rasa sesal begitu menyelimuti hatinya.


'Benar dugaanku, Dea pasti sudah tahu kebenarannya,' batin Rahma. Dia menatap Dea diiringi, tetesan demi tetes air mata yang mulai meleleh dari sudut matanya.


"Dea," ucapnya lirih.


"Kenapa anda harus menangis, Bu Rahma? Apakah anda juga mengeluarkan air mata itu, saat anda menitipkanku ke panti asuhan itu?"


"Maafkan aku, aku tidak berniat buruk padamu, Nak. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu."


"Picik sekali, anda memang benar-benar egois. Anda melakukan semua ini hanya demi kepentinganmu saja kan?"


"Sekali lagi maafkan aku, mama hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak. Dea, bukankah kau tahu keadaan ekonomi keadaan ekonomi keluarga ini yang sangat pas-pasan? Mama hanya ingin kau mendapatkan perawatan terbaik. Kalau kau hidup bersamaku, mama takut kalau mama tidak akan pernah sanggup memberikan pengobatan terbaik untukmu. Tolong mengertilah, mama terpaksa melakukan semua ini."


"Dasar munafik!"


"Tolong maafkan mama, maafkan mama."


Rahma kemudian bersimpuh dihadapan Dea sambil memegang kakinya. "Maafkan mama, Nak. Maafkan mama."


Dea hanya terdiam, dan menatap Rahma dengan tatapan kosong. "Maafkan mama Nak," kata Rahma berulang kali. Dia tetap menatap Rahma dengan tatapan kosong diiringi butiran air mata yang mulai menetes membasahi wajahnya.


'Memang kuakui kehidupan di panti jauh lebih baik dibandingkan aku harus hidup dengan ibu kandung sendiri,' batin Dea.


"Tolong maafkan mama Nak," ucap Rahma kembali. Dea lalu membuka bibirnya. "Baik akan ku maafkan tapi kau juga harus membantuku."

__ADS_1


__ADS_2