Bed Friend

Bed Friend
Liontin Hati


__ADS_3

Vansh lalu menghentikan langkahnya. "Ada apa Om Leo?" tanya Vansh sambil menautkan kedua alisnya.


"Duduklah, Vansh. Ada yang ingin kubicarakan denganmu," jawab Leo.


Vansh kemudian mendekat ke arah mereka, lalu duduk di samping Leo. "Vansh, sebenarnya aku ingin minta tolong padamu, apa kau mau menolongku?"


"Lebih tepatnya menolong kami semua, Vansh," tambah Calista.


"Apa yang bisa kubantu? Jika aku bisa, aku akan menolong kalian semua," jawab Vansh.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun tampak saling berpandangan. "Vansh, ini sebenarnya bukan hal yang mudah, kau pun berhak menolak jika kau keberatan dengan permintaan ini."


"Iya Om, katakan saja," jawab Vansh.


Leo lalu menceritakan semua kejadian dimulai dari Sharen yang memperdaya Nathan yang membuat Nathan terpaksa menikahi Sharen dan berakhir dengan perceraian lalu dengan maksud kedatangan Inara dan Abimana yang sedang dalam masalah. Selama Leo bercerita, tampak Inara menangis dalam pelukan Cleo sementara Abimana terlihat begitu marah dan malu, meskipun tak dapat dipungkiri jika raut kesedihan begitu tergambar jelas di wajahnya. Sesekali Vansh pun melirik ke arah Inara yang kini menangis dengan begitu tersedu-sedu, sementara Sharen hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya disertai dengan tatapan matanya yang kosong.


"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Vansh setelah Leo selesai bercerita. Leo pun tersenyum kecut, semua orang yang ada di ruangan itu lalu berpandangan. Rasa sungkan pun merasuk ke dalam perasaan Leo, tapi perasaan itu diabaikannya begitu saja apalagi saat melihat Inara dan Abimana yang kini terlihat begitu hancur karena perbuatan putri mereka.


"Emhhh.. Begini Vansh, Tante Inara berasal dari keluarga terpandang, bisa disebut dengan keturunan darah biru dan yang mereka tahu Sharen masih memiliki seorang suami. Beberapa hari lagi mereka akan mengunjungi rumah Tante Inara dan Abimana untuk bertemu dengan suami Sharen. Tentu akan menjadi hal yang sangat memalukan bagi keluarga besar Tante Inara jika tahu ternyata Sharen sudah diceraikan oleh Nathan, apalagi jika mereka tahu kejadian yang sebenarnya. Vansh, kami cuma ingin Tante Inara dan Om Abimana tidak menjadi bulan-bulanan keluarga mereka karena perbuatan Sharen, mereka orang baik, haruskah mereka mengalami kemalangan bertubi-tubi akibat ulah Sharen?"


Leo lalu mengentikan kata-katanya, dia kemudian menarik nafas panjangnya dan menatap Vansh dengan tatapan yang begitu dalam disertai raut wajah memelas.


"Vansh, maukah kau membantu Tante Inara dan Om Abimana?" tanya Leo.

__ADS_1


"Memangnya apa yang bisa kulakukan untuk mereka berdua?"


"Begini Vansh...." ucapan Leo pun terhenti.


"Vansh, keponakanku sayang, apakah kau mau berpura-pura menjadi suami Sharen? Dua hari saja, Vansh. Dua hari saja," rajuk Calista dengan tatapan memelas. Vansh pun begitu terkejut mendengar perkataan Calista.


"Berpura-pura menjadi suami Sharen?" tanya Vansh lagi.


"Ya, hanya untuk sementara Vansh. Bukankah kau sudah tahu Tante Inara dari keluarga terpandang, jika keluarga mereka tahu Sharen diceraikan oleh suaminya dalam waktu hitungan hari, tentu mereka akan sangat marah, dan jika mereka tahu alasannya, itu sama saja dengan membuka aib Sharen sendiri. Kami hanya tidak ingin Om Abimana dan Tante Inara mendapat imbas dari perbuatan Sharen, sudah cukup perasaan hancur yang mereka alami atas perbuatan Sharen, kami hanya tidak ingin mereka semakin terpuruk karena mendapat cap buruk oleh karena keluarga besar mereka. Kau mengerti kan Vansh?"


Vansh pun hanya terdiam, dia kemudian memandang Inara dan Abimana yang kini tampak menundukkan wajahnya, disertai raut wajah yang begitu sayu.


"Vansh, seperti yang Om Leo katakan kami tidak akan memaksamu, kau berhak menolak permintaan kami ini karena kami tidak ingin memaksamu, kami tidak ingin kau terbebani."


Mendengar perkataan Vansh raut wajah semua orang yang ada di ruangan itu pun berubah. "Ja.. Jadi?" tanya Calista.


"Iya Tante, aku mau berpura-pura menjadi suami dari Sharen, hanya dua hari saja kan?" tanya Vansh.


"Ya, dua hari saja, Vansh. Beberapa bulan lagi, aku bisa beralasan kalian bercerai karena ketidakcocokan, mereka semua pasti bisa memahami itu. Tapi jika aku mengatakan Sharen dan Nathan sudah bercerai sekarang, itu pasti akan menjadi masalah besar bagiku dan Abimana."


"Iya Tante, aku mau berpura-pura menjadi suami Sharen, tapi semua ini aku lakukan karena kalian berdua, aku tidak ingin kalian berdua terluka, aku tidak tega melihat orang tua yang harus mendapat masalah hanya karena perbuatan anaknya. Semua kejadian ini pasti juga berimbas pada Om Leo dan Tante Calista, juga Nathan. Mereka keluargaku dan aku tidak ingin mereka semua juga mendapat masalah dari kejadian ini," ucap Vansh sambil melihat semua orang yang ada di ruangan tersebut.


Mendengar perkataan Vansh, Calista lalu mendekat ke arah Vansh kemudian memeluknya. "Aku benar-benar bangga padamu, kau benar-benar sangat mirip dengan Olivia yang mau berkorban demi kebahagiaan orang lain," ucap Calista sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kau memang benar-benar sepupuku yang sangat baik, Vansh," tambah Nathan.


Vansh lalu mengangguk, Inara dan Abimana pun saling bertatapan. "Terimakasih banyak, Vansh. Kau adalah penyelamat bagi kami, entah bagaimana caranya kami bisa membalas kebaikanmu yang tidak ternilai ini," ucap Abimana.


"Tidak usah dipikirkan Om, hubungi saja aku jika keluarga kalian akan datang," jawab Vansh sambil tersenyum.


"Ya, sekali lagi terimakasih banyak," sahut Inara.


"Iya Tante. Permisi semuanya, aku harus kembali ke kamar dulu, aku sedang sedikit tidak enak badan.


"Ya, silahkan," jawab Leo. Semua orang yang ada di ruangan itu pun menunjukkan raut wajah kelegaan terutama Abimana dan Inara, meskipun tatapan tajam masih diarahkan Abimana pada Sharen.


Sementara Vansh yang kini ada di dalam kamar tampak mengambil sesuatu dari saku celananya lalu menatapnya sambil mengelus benda itu.


"Sebuah kalung berliontin hati, pasti liontin ini diberikan oleh kekasih gadis lancang itu," ucap Vansh saat melihat sebuah liontin berbentuk hati yang tertinggal di dalan mobil setelah dia mengantarkan Maya. Perlahan dia pun mengucapkan sebuah kalimat. "Jika kau pernah kehilangan seseorang yang begitu berarti di dalam hidupmu, tolong jangan pernah sesali itu, karena memang waktumu yang sudah habis dengannya dan kau tidak berhak untuk menyalahkan takdir,"


"Benar-benar gadis lancang," gerutu Vansh sambil tersenyum kecut.


NOTE:


Mampir ke sini juga ya karya Kak Dara Kirana dijamin ceritanya keren banget


__ADS_1


__ADS_2