
"Tentu saja aku harus menutup mataku, bagaimana jika jaket anda mengenai mataku saat menghapus membersihkan darah di sekitar mataku?" jawab Maya untuk menutupi rasa malunya.
"Ck, dasar!" gerutu Vansh kemudian membersihkan darah yang keluar di sekitar pelipis Maya. Maya pun sedikit menyunggingkan senyumnya saat Vansh membersihkan darah dan menyumbat luka itu.
"Ini kau tutup dan sumbat lukamu itu pakai jaketku saja," perintah Vansh sambil memberikan jaketnya.
"Terimakasih, jaket anda jadi penuh noda darah seperti ini karena aku, aku tahu jaket ini pasti harganya sangat mahal, aku akan membersihkannya dulu sebelum mengembalikan pada anda, Tuan Vansh"
"Memang kau merepotkan!" gerutu Vansh.
"Kalau aku merepotkan, lebih baik aku turun saja, terima kasih banyak atas bantuannya, Tuan Vansh, aku akan mencuci jaket anda, nanti kalau sudah bersih akan kukembalikan," ucap Maya kemudian membalikkan tubuhnya, namun saat akan membuka pintu mobil itu, mobil itu terkunci. Maya lalu membalikkan tubuhnya kembali lalu menatap Vansh.
"Siapa yang menyuruhmu untuk turun dari mobil ini? Jika kau turun kau akan semakin merepotkanku saja!" gerutu Vansh kemudian melajukan mobilnya.
Maya pun menyunggingkan senyum tipisnya sambil melirik ke arah Vansh yang kini tampak sibuk mengendarai mobilnya. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit.
Mereka lalu turun dari mobil kemudian Vansh membawa Maya ke ruangan UGD untuk mendapatkan penanganan dari lukanya. Vansh pun tampak memperhatikan wajah Maya yang kini sedang dijahit di bagian pelipisnya. Sesekali Maya tampak meringis saat luka lecet di beberapa bagian tubuhnya sedang diobati.
'Queen,' gumam Vansh. Lamunan Vansh pun buyar saat seorang dokter yang sudah selesai menangani Maya mendekat ke arahnya.
"Tuan, istri anda sudah selesai saya obati. Dia harus kembali ke rumah sakit ini lagi setelah tiga hari untuk melakukan kontrol pada luka sobek yang sudah saya jahit."
"Oh, baik dok."
"Istri anda sudah diperbolehkan pulang, jangan lupa tebus obatnya di bagian farmasi."
"Iya Dok, terimakasih banyak."
"Sama-sama."
__ADS_1
Dokter tersebut lalu meninggalkan mereka berdua, sementara Vansh kini tampak mendekat ke arah Maya yang sedang tersenyum padanya.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang."
"Iya, sekali lagi terimakasih banyak suamiku, oh E.. Maaf, maksud saya Tuan Vansh," ucap Maya sambil meledek.
Vansh pun menautkan kedua alisnya sambil mengangkat ujung bibirnya mendengar perkataan aneh dari Maya, tapi setelah Maya meralat kata-katanya, dia kemudian menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari ruang UGD itu lalu menebus obat di bagian farmasi.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Tuan Vansh. Anda sudah membayar biaya pengobatan saya," ucap Maya sambil melirik Vansh saat mereka sudah ada di dalam mobil. Vansh pun hanya menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengendarai mobilnya menyusuri jalanan ibukota yang kini mulai begitu padat oleh berbagai macam kendaraan.
"Kita mau kemana, Tuan? Ini sepertinya bukan jalan pulang ke rumah saya, apa anda mau menculik saya?" omel Maya sambil menatap Vansh disertai dengan tatapan curiga.
"Lancang sekali kau berkata seperti itu padaku! Apa kau tidak lihat begitu banyak darah yang tadi kau keluarkan? Rumahmu itu masih jauh, tubuhmu pasti lemas, aku tidak mau kau semakin merepotkanku."
"Lalu, kita mau kemana? Hotel?"
"Mesum sekali pikiranmu!"
"Jadi kau berani mendebatku?"
"Oh Tidak, Oh.. Ya, maaf. Maafkan saya Tuan Vansh," jawab Maya kemudian menghembuskan nafas panjangnya.
Mobil yang dinaiki mereka berdua lalu berhenti di sebuah cafe berkonsep rooftop. "Ayo turun! Kau sudah kehilangan banyak darah, kau harus makan agar tubuhmu tidak lemas!"
Maya pun tersenyum sambil melirik ke arah Vansh. "Kenapa kau tersenyum seperti itu? Jangan terlalu percaya diri, aku hanya ingin menolongmu sebelum kau merepotkanku lebih jauh! Cepat turun!" omel Vansh.
Mereka kemudian turun dari mobil lalu masuk ke dalam cafe tersebut. Setelah selesai memesan makanan, Maya pun memberanikan dirinya untuk membuka suaranya.
"Tuan, bolehkah saya bertanya sesuatu pada anda?"
__ADS_1
"Apa?" sahut Vansh datar.
"Emh.., emhhh. Apakah anda belum memiliki seorang istri? E.., maaf jika pertanyaan ini sedikit mengganggu anda, saya hanya tidak ingin istri anda cemburu jika tahu kita pergi berdua, lagipula anda sangat tampan dan kaya, tidak mungkin jika anda belum memiliki seorang istri," ucap Maya sambil meringis.
"Punya, aku sudah memiliki seorang istri. Tapi kau tenang saja, dia tidak akan cemburu."
"Kenapa anda berkata seperti itu? Kata-katamu itu sangat menyebalkan Perasaan wanita itu sangat sensitif, Tuan! Teganya kau berkata seperti itu pada istrimu sendiri!"
"Kenapa kau jadi ketus padaku? Kenapa benar-benar wanita yang lancang!"
"Aku hanya peduli pada sesama wanita!"
"Simpan rasa pedulimu karena yang istriku butuhkan hanya doa dariku."
"Apa maksudmu?"
"Istriku sudah meninggal, dia meninggal di hari pernikahan kami. Dia mengidap penyakit leukimia, aku tahu sebenarnya waktunya di dunia ini sudah tidak lama lagi karena itulah aku menikahinya. Saat itu aku berharap, aku bisa menemaninya di saat-saat terakhirnya, tapi takdir ternyata berkata lain. Beberapa jam setelah menikah, dia tidak sadarkan diri. Aku membawanya ke rumah sakit dan dia sudah koma, lalu keesokan harinya dia meninggal," ucap Vansh disertai dengan tatapan kosong, dia kemudian mengangkat tangannya untuk menghapus air mata yang keluar di sudut matanya.
"Maafkan aku, maafkan aku, Tuan Vansh."
Mendengar perkataan Maya, Vansh pun hanya tersenyum kecut. Tak lama kemudian, makanan yang dipesan Maya pun datang. Makanan yang sangat nikmat pun terasa hambar baginya saat melihat raut sendu di wajah Vansh yang kini hanya menikmati secangkir kopi serta mengisap sebatang rokok di mulutnya.
"Tuan, bolehkan saya mengatakan sesuatu?"
"Apa?"
Namun belum sempat Maya berkata, ponsel Vansh sudah berdering. Maya pun akhirnya mengurungkan niatnya berbicara.
"Om Abimana?" ucap Vansh saat melihat sebuah nama di layar ponselnya.
__ADS_1
NOTE: Mampir juga ya ke karya bestie othor yang satu ini dijamin ceritanya keren banget loh