
Melihat Alvaro yang terkapar, ketiga preman itu pun tersenyum menyeringai. "Itulah akibatnya kalau berani macam-macam dengan kita," ucap salah seorang preman, diikuti tawa nyaring dari kedua temannya. Mereka kemudian mengangkat tubuh Alvaro, lalu memasukkannya ke dalam mobil.
***
Sementara itu Laurie yang merasa begitu terkejut, saat Zack tiba-tiba memeluknya, kini tampak berusaha melepaskan pelukan Zack. "Apa maksud semua ini? Tolong lepaskan aku Zack! Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau kau sudah ikhlas melepasku, tapi kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini lagi Zack!" bentak Laurie.
"Laurie, apa kau sudah lupa? Kau yang membuat semua drama ini? Awalnya kupikir kau kabur dari rumah sakit dan memilih kerasnya hidup di luar untuk menghindar dariku, tapi ternyata kau membohongiku. Kau malah pergi bersenang-senang dengan laki-laki lain! Aku merasa sangat sakit Laurie, kenapa kau tega bersikap seperti ini padaku? Apa kau tidak pernah melihat bagaimana besarnya rasa cintaku padamu? Tapi kenapa kau selalu mengabaikan cintaku dan memilih menerima cinta dari laki-laki lain yang baru kau kenal? Kenapa Laurie?"
"Zack bukankah kau tahu kalau cinta tidak bisa dipaksakan? Kau seharusnya menyadari itu! Apa kau tahu, sejak awal caramu mencintaiku sudah salah! Itu yang membuatku selamanya tidak pernah bisa menerima cintamu! Maafkan aku Zack, hatiku memang selalu menolakmu, dan selamanya aku tidak akan pernah bisa mencintaimu. Apapun yang kau lakukan tidak akan pernah mengubah rasa yang ada di dalam hatiku, dan selamanya akan seperti itu. Sebenarnya keputusanmu untuk menceraikan aku itu adalah keputusan yang tepat karena kau juga berhak bahagia, kau berhak mendapatkan cinta dari seorang wanita, dan itu bukan aku."
Zack kemudian melepaskan pelukannya pada Laurie. "Sesulit itukah hatimu untuk menerima kehadiranku? Sekeras itukah dinding yang menjadi pembatas hatimu? Kenapa Laurie? Kenapa?"
"Bukankah sudah kukatakan Zack, sejak awal caramu sudah salah, itulah yang membuatku tidak pernah bisa menerima kehadiranmu di hatiku."
Zack pun hanya terdiam, dan tampak menundukkan kepalanya. Untuk saat ini, dia benar-benar merasa menyesal atas semua yang telah dia lakukan, namun setiap penyesalan memang selalu datang terlambat. Zack pun menyadari jika jiwanya memang terlalu liar, dan sangat bertentangan dengan jiwa Laurie yang lembut. Hidupnya memang begitu keras, dan berbanding terbalik dengan kehidupan Laurie yang damai. Awalnya Zack berpikir jika dia bisa mendapatkan tubuh Laurie, maka dia pun bisa mendapatkan hati Laurie seiring berjalannya waktu. Zack pikir dengan menyingkirkan orang yang Laurie cintai, akan bisa membuat Laurie pasrah dan memberikan hatinya, tapi ternyata dia salah. Semua yang dia lakukan ternyata hanya membuat Laurie semakin membencinya, dan menutup pintu hati untuknya.
Zack pun menghembuskan nafas panjangnya, lalu menatap Laurie dengan tatapan sendu. "Aku minta maaf padamu, Laurie. Aku menyesal telah melakukan semua hal buruk padamu, keluargamu, dan semua orang yang dekat denganmu. Aku benar-benar menyesali semua itu, andai saja aku bisa mengekang semua ambisiku dan mendekatimu melalui hati, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini kan Laurie? Iya kan? Mungkin kau bisa menerima cintaku kan Laurie?"
Laurie pun hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Zack. "Zack, maafkan aku. Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, maaf aku harus istirahat," ucap Laurie ketus. Zack hanya menarik salah satu sudut bibirnya. Saat Zack akan membuka mulutnya, tiba-tiba ponsel Laurie berbunyi, yang membuat atensi mereka tertuju pada ponsel itu. Laurie kemudian melihat nama Vallen di layar ponsel itu.
"Tante Vallen?" ucap Laurie. Dia pun bergegas mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo ada apa Tante Vallen?]
__ADS_1
[Laurie, apakah Alvaro ada di rumahmu?]
[Alvaro?] jawab Laurie sambil mengerutkan keningnya.
[Iya sayang. Tadi Kak David mengatakan kalau Alvaro pergi sebentar ke rumah sakit, tapi sampai sekarang dia belum juga sampai di rumah, Laurie. Sudah berulang kali tante menghubungi ponselnya, tapi ponsel Alvaro juga tidak aktif. Apa Alvaro ada di rumahmu?]
Deg
Mendengar perkataan Vallen, jantung Laurie pun seakan berhenti berdetak, seketika rasa panik pun melanda hatinya, apalagi saat ini Zack ada di hadapannya, pikiran buruk pun merasuk ke dalam hatinya. Namun, sebisa mungkin Laurie mencoba mengendalikan emosinya, dia tidak ingin Vallen semakin cemas.
[Emh, Tante Vallen tadi memang Alvaro mengatakan padaku kalau dia sedang ada urusan dengan beberapa orang temannya. Nanti, coba kuhubungi teman-temannya lagi Tante, mungkin ponsel Alvaro lowbet, dan dia lupa tidak mengisi baterainya.]
[Oh jadi begitu? Dia mengatakan mau pergi ke tempat temannya?]
[Terima kasih banyak, Laurie.]
[Iya Tante.]
Setelah Laurie menutup panggilan dari Vallen, dia kemudian menatap tajam ke arah Zack. "Ada apa Laurie?"
"Tidak perlu berpura-pura seperti itu, Zack. Aku tahu kau pasti ada di balik semua ini kan? Tidak usah banyak bersandiwara! Aku cukup mengenalmu! Pasti kau yang melakukan semua itu kan? Pasti kau dalang di balik menghilangnya Alvaro!"
"Laurie, aku benar-benar tidak mengerti perkataanmu."
__ADS_1
"Zack, lihatlah sikapmu! Kau berulang kali minta maaf padaku, lalu kau masih saja melakukan kesalahan yang sama? Lalu, apa arti dari permintaan maafmu itu? Kau memang tidak pernah berubah Zack, itulah alasannya hatiku selalu menolak kehadiranmu karena kau terlalu busuk!"
"Laurie, tidakkah kau bisa bersikap baik sebentar saja padaku? Kenapa kau selalu bersikap seperti ini padaku! Kenapa kau selalu berfikiran buruk padaku?"
"Karena kau sendiri yang membuatku seperti ini! Sekarang aku mau bertanya padamu, coba katakan satu saja kebaikan yang pernah kau lakukan? Katakan satu saja, Zack!"
Zack pun terdiam. "Satu kebaikan saja tidak pernah bisa kau lakukan, sekarang kau minta padaku untuk tidak berfikir buruk padamu? Bahkan, kau sampai menjadikan sebuah panti asuhan untuk menutupi kejahatanmu, dan kau masih saja memintaku untuk berfikir baik padamu? Cih, jangan pernah bermimpi, Zack! Seharusnya kau menyadari semua itu! Sekarang lebih baik katakan yang sejujurnya padaku, kau yang melakukan itu pada Alvaro kan? Kau yang menjadi penyebab Alvaro menghilang?"
Zack pun terdiam, rasanya saat ini dia memang tidak bisa berbohong di depan Laurie. Apapun alasan yang dia katakan untuk membuat slibi, sepertinya Laurie pun tidak percaya.
"Kenapa kau diam Zack? Apa kau sedang mencari alasan lagi? Dengarkan aku Zack, apapun yang kau katakan aku tidak pernah percaya padamu! Daripada waktu dan tenagamu terbuang sia-sia untuk berbohong padaku, sebaiknya kau jujur saja dan katakan dimana Alvaro!"
Zack pun menghembuskan nafas panjangnya, lalu menutup matanya sambil mengangguk. "Ya, aku yang menculik Alvaro."
PLAKKKKKK
Bersambung...
NOTE:
Bestie mampir juga ya ke karya Kak Sutihat Bastie Wibowo, dijamin ceritanya keren abis loh 😍
__ADS_1