
Delia dan Shakila yang baru saja sampai di rumahnya, masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa. Namun saat memasuki rumah tersebut, mereka sedikit terkejut dengan keadaan rumah itu yang terlihat sepi.
"Sepi sekali, Shakila. Bukankah biasanya Dea menonton televisi atau duduk di samping kolam renang."
"Coba tanyakan pada Bibi, Ma."
"Iya, Shakila."
Delia kemudian memanggil pembantu rumah tangga mereka. "Bi..., bibiiii..." Seorang pembantu rumah tangga lalu mendekat ke arah Delia dan Shakila.
"Ada apa nyonya?"
"Kenapa sepi sekali, Bi. Dimana Sachi?"
"Kemungkinan Non Sachi ada di dalam kamarnya, Nyonya. Setelah dia pulang bersama Nyonya tadi siang, saya belum melihat Non Sachi keluar dari kamarnya, Nyonya."
Delia kemudian memandang Shakila. "Shakila, mama ke kamar Dea dulu, mama tidak mau dia curiga pada kita."
"Iya Ma."
"Satu lagi, tolong jangan bicarakan ini dengan Oma dulu sampai hasil tes DNA itu keluar, kau tahu kan bagaimana Oma Fitri. Dia pasti akan menyalahkan mama dan papa karena terlalu gegabah dalam mengambil keputusan."
"Iya Ma, aku tahu itu."
Delia kemudian menuju ke kamar Dea, namun saat dia membuka pintu kamar itu, kamar tersebut tampak sepi dan kosong. Delia lalu masuk ke dalam kamar dan memeriksa seluruh ruangan yang ada di kamar itu, namun setelah dia mencari ke seluruh ruangan, dia tidak menemukan Dea di dalam kamarnya.
Delia kemudian bergegas keluar dari kamar Dea, dan menghampiri Shakila yang saat ini sedang duduk di kursi meja makan.
"Ada apa Ma?" tanya Shakila saat melihat Dea yang terlihat begitu panik.
"Shakila..., Shakila, Dea tidak ada di dalam kamarnya."
"Apa? Dea tidak ada di dalam kamarnya?"
"Bukankah tadi bibi mengatakan kalau Dea ada di dalam kamarnya?"
"Iya, kemungkinan bibi tidak tahu saat Dea pergi meninggalkan rumah. Shakila, mama takut. Mama takut kalau Dea curiga pada kita."
"Biarkan saja, Ma. Biarkan saja dia pergi, dia cukup tahu diri, jadi aku tidak perlu mengusirnya "
"Kau jangan bicara seperti itu Shakila, bagaimanapun juga ini adalah kesalahan mama dan papa."
"Iya aku tahu ini kesalahan mama dan papa, tapi apa Mama tidak merasakan bagaimana sikap Dea selama ini? Dea sangatlah menyebalkan Ma, sangat berbeda dengan Luna."
"Ya Mama tahu itu, dia memang sangatlah berbeda dengan Luna. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini semua kesalahan mama, jadi mama tetap harus bertanggung jawab agar tidak menyakiti perasaan Dea."
__ADS_1
Shakila kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Shakila, tolong cari tau keberadaan Dea."
"Kita telepon saja, Ma. Mungkin dia sedang pergi ke rumah temannya."
"Iya, itu ide yang bagus."
Namun, saat Shakila akan menelepon Dea, tiba-tiba Fitri dan Dimas sudah masuk ke dalam rumah itu. Shakila dan Delia yang melihat kedatangan Dimas dan Fitri, tampak begitu gugup.
"Kenapa kalian terlihat gugup seperti ini?" tanya Fitri.
"Tidak apa-apa, Oma. Kami baru saja pergi bertemu dengan pihak wedding organizer yang mengurusi pernikahanku. Tapi, saat kami pulang ke rumah, kami tidak menemukan Sachi di rumah ini. Sedangkan bibi juga tidak tahu kepergian Sachi."
Fitri kemudian terkekeh. "Kenapa Mama tersenyum seperti itu?" tanya Delia.
"Kalian tenang saja, Sachi ada di tempat yang aman."
"Di tempat yang aman? Dimana itu Ma? Apa Sachi tadi menghubungi Mama?"
"Iya Delia, tadi dia menghubungiku, dia hanya ingin berkenalan dengan Devano dan keluarganya. Jadi, Sachi menanyakan alamat keluarga Devano pada Oma."
"APA?" teriak Shakila.
"Shakila, kenapa kau berteriak seperti itu? Bukankah itu adalah sebuah hal yang wajar? Sachi adalah tunangan Devano. Jadi, dia berhak untuk mengenal Devano dan keluarganya."
"Oh tidak," ujar Shakila lirih sambil melirik ke arah Delia yang kini juga tampak begitu cemas.
"Entahlah Shakila, mama juga tidak tahu. Sepertinya Dea bertindak terlalu jauh."
"Mama, bukankah aku sudah mengatakan pada Mama kalau Dea wanita yang tidak tahu diri. Dia pasti sudah curiga, kalau kita sudah tahu jika dia bukanlah Sachi yang sebenarnya. Jadi, dia merencanakan sesuatu, mungkin dengan mendekati keluarga Devano agar dia tetap bisa menikah dengan Devano yang kaya raya."
"Oh tidak, itu tidak boleh terjadi. Devano dan Luna saling mencintai, mama tidak mau menyakiti putri mama lagi."
"Iya Ma, aku pun tidak mau Luna tersakiti. Sekarang mama sadar kan kalau Dea itu benar-benar licik." Delia pun hanya bisa terdiam.
"Ma..., mama kenapa?"
"Maafkan aku," ucap Delia sambil meneteskan air matanya. Melihat Shakila dan Delia yang kini terlihat begitu bingung dan salah tingkah, Dimas dan Fitri lalu saling berpandangan.
"Ada apa di Delia? Ada apa Shakila? Kenapa kalian terlihat bingung seperti ini?"
Shakila dan Delia hanya bisa terdiam. "Kenapa kalian diam?" tanya Fitri. Namun, mereka tetap tidak menjawab pertanyaan Fitri, memilih diam, dan hanyut ke dalam pikiran masing-masing. Bahkan Delia kini tampak begitu terisak.
Dimas lalu mendekat pada Delia, kemudian mendekap tubuhnya. "Ada apa, Sayang? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran, Delia?" tanya Dimas. Delia kemudian menempelkan kepalanya pada dada Dimas.
"Shakila, sebenarnya ada apa dengan mamamu?"
__ADS_1
Shakila pun hanya tersenyum getir, raut wajahnya terlihat pias. "Shakila, cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi? Shakila, cepat jawab pertanyaan Oma! Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Delia kau juga jangan hanya bisa menangis! Cepat jelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Oma tolong jangan membentak Mama seperti itu."
"Shakila kalau kau tidak ingin aku marah, cepat ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Iya Shakila, jangan kau buat kami penasaran seperti ini."
"Baik aku akan menceritakan semuanya, tapi sebelumnya tolong Oma janji agar tidak marah pada mama. Oma mau kan berjanji agar tidak marah pada Mama?"
"Memangnya apa yang akan kau ceritakan Shakila?"
"Janji dulu, Oma."
"Baiklah, aku janji. Aku tidak akan marah pada Delia."
Shakila kemudian menatap Dimas yang saat ini mengangguk padanya. "Ayo Shakila ceritakan saja pada kami, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Ini sebenarnya tentang Dea."
"Dea? Sachi maksud kamu?"
"Bukan Oma, Dea, ini tentang Dea, bukan Sachi."
"Kau jangan bercanda Shakila, Dea adalah Sachi. Bukankah Dea sama saja dengan Sachi?"
"Tidak Oma, itu tidak sama karena ternyata Dea bukanlah Sachi!'
Mendengar perkataan Shakila jantung Fitri dan Dimas seakan berhenti berdetak, tubuh mereka terasa menegang dan bergetar.
"Apa maksudmu sebenarnya Shakila?"
"Inilah kebenarannya, Oma. Dea bukanlah Sachi! Papa dan Mama telah salah dalam mengambil keputusan. Papa dan Mama terlalu cepat mengambil kesimpulan, karena tidak melakukan penyelidikan dulu seperti yang kulakukan."
"Papa benar-benar tidak mengerti Shakila, bukankah dia satu-satunya bayi yang ada di panti tersebut?"
"Tidak Pa, ini semua adalah sebuah kesalahpahaman. Saat Sachi tertinggal di dalam gerbong kereta api, ada seorang wanita yang bernama Rahma. Dia yang menemukan Sachi, dia kemudian menukar Sachi dengan putrinya dan memilih putrinya untuk diasuh di Panti Asuhan karena putri kandung Ibu Rahma menderita penyakit jantung bawaan. Dia lalu mengatakan pada pihak panti kalau dia menemukan bayi itu di gerbong kereta api. Lalu, Ibu Rahma membawa Sachi pulang ke rumahnya, dan menganggap Sachi adalah anak kandungnya, karena dia takut diceraikan oleh suaminya kalau tahu anak kandung mereka ternyata telah mengidap penyakit jantung bawaan."
"Apa! Lalu dimana Sachi sekarang?" tanya Dimas. Delia lalu mendongakkan kepalanya kemudian menatap Dimas dan menggenggam tangannya. "Dimas, kita pernah bertemu dengan Sachi. Kita pernah bertemu dengan Sachi saat di rumah Vallen karena Sachi yang sebenarnya adalah, Luna."
"Astaga!" teriak Dimas sambil menjambak rambutnya. Sementara Fitri yang hanya bisa diam mendengar percakapan mereka, kini mulai merasakan sakit di bagian dada kirinya. Perlahan, tubuhnya terasa begitu lemas, tak sanggup lagi menahan rasa sakit. Fitri yang kini sudah tak berdaya lalu terkulai lemas di atas lantai.
"Mama!"
__ADS_1
"Oma!" teriak mereka bersamaan.