Bed Friend

Bed Friend
Memilih Mati


__ADS_3

Zack pun merasa terkejut tiba-tiba Laurie menamparnya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau saat ini Laurie sangatlah berbeda dengan Laurie yang dia kenal dulu. Dulu Laurie begitu lembut, meskipun sering kali membangkang padanya tapi Laurie tidak pernah bersikap sekasar ini. Namun sekarang Laurie sudah berubah.


"Laurie, kenapa kau bersikap seperti ini padaku?" tanya Zack sambil mengerutkan keningnya.


"Karena itu harga yang pantas untukmu Zack! Kau pantas mendapatkan semua itu!"


"Laurie, bukankah kau dulu selalu bersikap lembut? Meskipun kau selalu menolakku, tapi kau tidak pernah bersikap sampai sekasar ini?"


"Asal kau tahu Zack, semua yang kulakukan saat ini adalah bentuk kekesalanku padamu! Apa kau tahu beberapa saat sebelum aku mengalami koma? Itu adalah puncak kemarahanku yang pertama, dan sekarang kau melakukan hal yang sama! Menyurut kemarahanku lagi! Dulu aku selalu diam saat kau mengancam keluargaku, bahkan hampir saja membunuh kakakku Vansh. Tapi saat kau tega membunuh Derick kesabaranku sudah habis Zack! Kau sampai menghilangkan nyawa orang lain demi ambisimu? Itu hal yang sangat menjijikan bagiku. Bukankah dulu aku selalu diam dan mengalah padamu, tapi saat kau membunuh orang yang tiba-tidak bersalah, rasa benciku padamu semakin menjadi-jadi!"


Laurie menghentikan perkataannya sejenak, menghembuskan nafas panjangnya lalu menatap Zack kembali dengan tatapan tajam.


"Dan asal kau tahu, sikapku saat ini juga merupakan pucak emosiku untuk yang kedua kalinya! Setelah aku mendengar ternyata kau juga menyeret Alvaro pada hubungan kita, kesabaranku benar-benar sudah habis, Zack! Aku tidak mau ada yang menjadi korban dari ambisimu itu! Sudah cukup Zack, sudah cukup, hentikan semua ini!"


"Bagaimana kalo aku tidak mau Laurie?"


"Baiklah, kalau begitu mulai saat ini aku tidak mau bertemu denganmu lagi! Aku sudah sangat muak denganmu! Lebih baik kau bunuh saja aku sekarang! Mati adalah pilihan terbaik bagiku daripada aku harus hidup dengan bayang-bayangmu! Aku sudah sangat lelah dan sangat tersiksa! Lebih baik kau bunuh saja aku sekarang, Zack!"


"Kenapa kau berkata seperti itu Laurie? Kenapa kau sampai harus mengorbankan nyawamu? Kenapa kau harus bersikap seperti ini? Apakah aku begitu toksik bagimu?"

__ADS_1


"Ya, kau bagaikan racun dalam kehidupanku, Zack! Sekarang kuberi tolong, bunuh aku dan lepaskan Alvaro!"


"Itu hal yang sulit, sama saja aku tidak pernah bisa mendapatkanmu!"


"Aku sudah mengatakan itu kalau sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkan aku, dan kau seharusnya menyadari itu bukannya menyeret orang lain dalam hubungan kita ini!"


"Apa aku salah kalau aku ingin memberi pelajaran pada orang yang telah merusak hubungan rumah tangga kita ini? Bukankah itu kenyataannya kan? Kenyataannya, saat ini Alvaro menjadi perusak rumah tangga kita, iya kan?"


"Zack, asal kau tahu rumah tangga kita sudah hancur sejak dulu! Bahkan hubungan kita sudah tidak baik-baik saja sejak sebelum kita menikah! Hubungan ini sudah hancur karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menaruh hati padamu. Apa perlu berulang kali ku katakan agar kau bisa mengerti?"


"Tapi nyatanya kau menjalin hubungan di belakangku bersama Alvaro. Bukankah itu sebuah kesalahan?"


Melihat Laurie yang saat ini menangis dan tampak begitu rapuh, Zack pun merasa ikut hanyut dalam kesediaannya. Dia pun berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menghembuskan nafas panjangnya.


"Apa aku sangat menyakitimu?"


"Ya, aku sangat tersakiti! Lebih baik kau membunuhku daripada menyiksaku seperti ini, Zack!"


"Jadi, kau lebih memilih mati daripada hidup denganku?"

__ADS_1


"Tidak hanya memilih mati daripada hidup denganmu, tapi aku memilih mati daripada harus melihat wajahmu lagi! Kau manusia paling egois yang pernah kutemui, Zack! Kau sangat menjijikan!"


Zack pun memejamkan matanya, lalu memijit pelipisnya sebentar. Berulang kali dia menghembuskan nafas panjangnya, mungkin dia ingin menghilangkan rasa sakit yang ada di dalam hatinya, dan mencoba mengikhlaskan semua seperti yang pernah dia lakukan dulu, tapi entah mengapa rasanya sungguh begitu berat.


"Baiklah kalau begitu, baik kalau itu maumu. Kau memilih mati kan daripada bertemu denganku? Aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku tidak ingin menyiksamu seperti ini, karena kalau kau terus hidup di dunia ini, mungkin akan sulit bagiku untuk melihatmu bahagia bersama laki-laki lain selain diriku!"


***


Sementara itu, Alvaro yang saat ini mulai sadar setelah cukup lama pingsan, perlahan mulai membuka matanya. Dan di saat itulah dia merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya, apalagi saat melihat ke sekelilingnya.


"Dimana aku? Oh shittt ternyata kau memang berniat membunuhku, Zack!"


Bersambung...


NOTE:


Mampir juga ya ke novelnya Kak Chika dijamin keren abis deh, nyesel klo ga mampir 😍🤗😘


__ADS_1


__ADS_2