Bed Friend

Bed Friend
Perawatan Di Salon


__ADS_3

"Dea!" panggil Kenzo saat melihat Dea yang kini termenung.


"Oh, emh iya. Ada apa Kenzo? Maaf aku tidak terlalu mendengar apa yang kau katakan."


"Apa kau mau minum kopi sebentar bersamaku?"


"Oh, apa tidak mengganggu pekerjaanmu? Bukankah kau sedang sibuk, Kenzo?"


"Oh tidak. Sama sekali tidak, Dea. Silahkan duduk!" kata Kenzo sambil mempersilahkan Dea duduk di sofa.


"Terima kasih," jawab Dea.


Mereka kemudian duduk di sofa, setelah sebelumnya Kenzo menelepon sekretaris barunya terlebih dulu untuk menyuruh OB membuatkan kopi untuk mereka berdua.


"Silahkan Dea!" kata Kenzo saat seorang OB menghidangkan secangkir kopi untuk mereka.


"Terima kasih Kenzo," jawab Dea, dia kemudian meminum kopi tersebut. Sedangkan Kenzo saat ini tampak tersenyum menyeringai.


"Bagaimana keluarga barumu, Dea?"


"Baik, mereka sangat baik padaku."


"Syukurlah kalau kau beradaptasi dengan baik."


"Tentu saja, aku juga sudah akrab dengan Kak Shakila."


"Oh, benarkah?"


"Ya, Kak Shakila juga sangat menyayangiku, kami sudah akrab."


"Bagus kalau begitu."


'Aneh sekali, bukankah tadi Mama mengatakan kalau hubungan Dea dan Shakila tidak terlalu baik? Kenapa tiba-tiba Dea mengatakan jika hubungannya dan Shakila baik-baik saja? Ah ini benar-benar aneh. Tapi kenapa aku jadi curiga pada Shakila?' batin Kenzo.


"Emh, Kenzo bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Apa? Apa yang mau kau tanyakan Dea?"


"Kenzo, bagaimana menurutmu tentang perjodohan?"


"Perjodohan?"


"Ya, bagaimana pendapatmu dengan perjodohan?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu? Menurutku tidak masalah dengan sebuah perjodohan, bahkan aku dan Cleo juga dijodohkan. Tapi, meskipun kami sudah dijodohkan sejak kami masih bayi, kami saling mencintai satu sama lain."


"Oh, jadi kau sangat mencintai Cleo?"


"Sangat, aku sangat mencintai Cleo. Dulu bahkan aku hampir gila saat Cleo meninggalkanku karena sebuah kesalahan pahaman. Dea, kenapa kau bertanya seperti itu?"


Dea hanya termenung. Hatinya terasa begitu sakit mendengar penuturan Kenzo tentang rasa cintanya pada Cleo.


"Dea, kau kenapa?"


"Dea!" panggil Kenzo kembali.


"Oh, maafkan aku. Tiba-tiba kepalaku pusing, aku harus pamit sekarang."


"Apa kau sakit, Dea?"


"Tidak Kenzo, mungkin kurang istirahat karena tadi malam aku ngobrol dengan mama sampai larut. Aku permisi pulang dulu, Kenzo."


"Oh baiklah. Minum dulu kopinya Dea."


"Oh ya, terima kasih." Dea kemudian meminum kopinya, sedangkan Kenzo kini tersenyum menyeringai.


"Sekali lagi terima kasih banyak, aku pamit," ujar Dea.


Dea kemudian keluar dari ruangan tersebut, namun tanpa dia ketahui, Kenzo juga saat ini berjalan keluar dari ruangannya, lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobil tersebut menuju ke rumah sakit tempat Vallen bekerja untuk memberikan sample air liur Dea yang ada pada cangkir yang dia minum.


Sementara itu, Dea yang kini di dalam taksi saat dalam perjalanan pulang ke rumahnya tampak begitu kesal. "Kurang ajar! Apa maksud dari Kenzo melakukan semua ini padaku? Kenapa dia masih saja membicarakan istrinya yang kecentilan itu padaku? Apa bagusnya Cleo? Ya, aku tahu Cleo memang cantik. Tapi, bukankah aku juga tak kalah cantik dan menarik dibandingkan dengan Cleo?"


Dea kemudian menyenderkan tubuhnya ke jok mobil, lalu memejamkan matanya. "Ahhhh, aku punya ide!" ujar Dea saat membuka matanya.


"Pak, kita ubah arah! Ke tempat ini Pak!" ujar Dea sambil memberikan sebuah alamat di aplikasi ponselnya.


"Baik Nona," jawab sopir taksi tersebut sambil mengubah tujuan seperti yang diminta oleh Dea.


Tiga jam kemudian, Dea pun tiba di rumahnya. Dua kemudian membuka pintu rumah itu yang kini tampak sepi.


CEKLEK


"Kenapa sepi sekali?" ujar Dea saat memasuki rumah itu. Namun, saat tengah mengamati seisi rumah, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara yang ada di belakangnya.


"Dea!"


Dea akhirnya membakikan tubuhnya dan melihat Shakila yang kini berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Astaga Dea!" teriak Shakila yang melihat penampilan Dea saat ini.


"Kenapa? Kenapa kau berteriak seperti itu padaku, Kak?" tanya Dea yang melihat Shakila yang kini sedang menutup mulutnya.


"Dea, kaa..."


Shakila tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat melihat Dea dengan penampilan barunya. Rambut lurus Dea, kini dia ubah menjadi loose wavy seperti rambut Cleo. Alis tipisnya yang biasanya dia arsir dengan menggunakan pensil alis biasa, kini tampak lebih tebal karena alis tersebut kini telah disulam. Tak hanya itu, bulu matanya kini juga mengenakan eyelashes extension.


"Ada apa, Kak? Kenapa kau terkejut melihatku seperti ini? Apa ada yang salah?" gerutu Dea.


"Ti, tidak. Kau hanya terlihat berubah, Dea. Tidak seperti Dea yang kulihat tadi pagi."


"Ck, jadi Kak Shakila mau mengejekku? Memangnya kenapa kalau aku berubah? Kau takut aku akan menyaingi kecantikanmu jika aku berubah seperti ini? Apa salah aku berubah seperti ini? Bukankah selama ini aku hidup dalam keterbatasan? Apa salah jika saat ini aku menikmati yang aku miliki? Ingat Kak, kita berbeda. Sejak dulu, kau hidup dalam kemewahan sedangkan aku? Aku seringkali harus menahan rasa lapar karena harus berbagi dengan seluruh penghuni panti. Lalu, dimana salahku, Kak?"


"Oh tidak, Dea. Aku tidak mengatakan seperti itu. Aku tidak menyalahkanmu. Apa kau dengar aku menyalahkanmu? Tidak kan?"


"Ya memang tidak, tapi kau sepertinya tidak menyukai perubahanku? Apa kau takut? Apa kau takut jika aku berubah seperti ini Kak Darren jadi berbalik jatuh cinta padaku?"


"ASTAGA! SADAR DEA! HATI-HATI DENGAN UCAPANMU! LANCANG SEKALI KAU BERKATA SEPERTI ITU?" teriak Shakila yang kini mulai tersulut emosi mendengar perkataan Dea.


"Kenapa? Bukankah memang kenyataannya seperti itu? Kau mulai takut kan kalau tiba-tiba Kak Darren mulai tertarik padaku?"


"DEAAAA!!"


PLAKKKK


Shakila yang sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya, kini mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi Dea. Sedangkan Dea, kini tampak memegang pipinya, disertai mata yang mulai berembun.


"Ada apa ini ribut-ribut?" ucap sebuah suara yang mendekat ke arah mereka.


Dea kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat Delia yang kini berjalan ke arahnya.


"Mama, Kak Shakila menamparku, Ma."


"Shakila menamparmu?"


"Mama... " ujar Shakila membela diri, namun belum sempat Shakila menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Dea memotong kata-katanya.


"Mama Kak Shakila menamparku karena aku pergi ke salon dan melakukan perawatan kecantikan, Ma. Kak Shakila takut jika aku berubah jadi cantik, Kak Darren akan berpaling padaku dan meninggalkan Kak Shakila, Ma."


Delia kemudian menatap Shakila sambil mengerutkan keningnya. "Shakila? Benarkan?"


Shakila hanya menggelengkan kepalanya sambil berujar lirih. "Tidak, tidak Ma. Aku tidak seperti itu, semua itu bohong."

__ADS_1


"Untuk apa aku berbohong, Ma? Kalau aku bohong, untuk apa Kak Shakila sampai menamparku seperti ini?"


__ADS_2