Bed Friend

Bed Friend
Berjuanglah Bersama


__ADS_3

Vansh lalu mengendarai mobilnya menuju ke alamat yang diberikan oleh Abimana. Setengah jam kemudian, Vansh pun sampai ke alamat yang dituju. Dia kemudian menghentikan mobilnya di halaman rumah tersebut. Tampak di halaman mobil tersebut sudah ada banyak mobil yang memenuhi halaman rumah Abimana.


'Ternyata sudah ada banyak keluarga mereka yang datang,' gumam Vansh sambil berjalan ke arah pintu rumah tersebut. Saat Vansh berdiri di ambang pintu, semua orang yang berada di dalam rumah itu lalu menatap ke arahnya. Inara pun mendekat ke arah Vansh.


"Vansh, maafkan aku. Bisakah kita mulai sandiwara ini?" bisik Inara.


"Iya Tante," jawab Vansh. Inara pun mengangguk.


"Perkenalkan, ini menantuku. Vansh, namanya!" ujar Inara pada semua orang yang ada di ruangan tersebut. Vansh pun tersenyum lalu mendekat ke arah mereka dan menyalami mereka satu per satu. Sementara Sharen hanya bisa menatap Vansh sambil tersenyum kecut.


'Maafkan aku Vansh,' gumam Sharen, hingga lamunan Sharen pun buyar saat seseorang menepuk pundaknya.


"Sharen, kau sangatlah beruntung memiliki suami seperti Vansh. Dia sangat tampan dan sopan sekali," kata salah seorang saudara Inara yang diamini oleh yang lainnya.


"Iya," jawab Sharen singkat. Setelah menyalami dan berkenalan dengan semua orang yang ada di rumah itu, Vansh lalu duduk di samping Sharen.


"Maafkan aku sudah merepotkanmu, Kak Vansh."


"Tidak apa-apa, Sharen."


"Hai, kenapa kalian kaku sekali? Vansh, Sharen, kalian sudah menikah, kalian pengantin baru. Tidak usah menyembunyikan kemesraan kalian di depan kami," ucap salah seorang sanak keluarga.


"Benar, Vansh peluk saja istrimu itu. Atau cium keningnya!" sahut salah seorang lagi.


Vansh dan Sharen lalu saling berpandangan. "Tidak, kami malu," jawab Sharen.

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Kalian sudah menikah?" timpal mereka.


Vansh dan Sharen lalu saling berpandangan kembali. "Bagaimana, Kak Vansh?"


"Aku minta maaf padamu, Sharen. Tapi sepertinya aku harus menyentuhmu. Apakah kau mengijinkan aku untuk menyentuhmu?"


Sharen pun tersenyum getir. "Ya," jawabnya lirih. Sementara itu, Abimana dan Inara pun saling berpandangan.


"Bagaimana ini?" bisik Inara sambil meremaas ujung hijabnya. Abimana pun menggelengkan kepalanya. Namun tiba-tiba Vansh tampak mendekatkan wajahnya pada wajah Sharen, lalu mencium keningnya yang membuat Inara begitu terkejut. Dia kemudian menutup mulutnya dengan tangannya dan menatap Abimana dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Biarkan saja, Inara. Mereka sudah dewasa, mereka pasti sudah membicarakan tentang apa yang akan mereka lakukan," ucap Abimana. Inara pun menganggukkan kepalanya.


Sharen pun kini tampak memegang tangan Vansh, meskipun dengan begitu canggung.


"Maaf, maaf sudah merepotkanmu dan membuatmu terjebak dalam permainan ini," ucap Sharen saat mereka sudah ada di dalam kamar.


Tidak apa-apa, aku sudah mengambil keputusan ini. Aku sudah siap dengan semua konsekuensinya, termasuk berpura-pura untuk bermesraan denganmu. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah lancang memegang tubuhmu."


"Tidak apa-apa, Kak Vansh. Aku bisa memahami itu."


"Ya, sekali lagi maafkan aku, aku terpaksa melakukan semua itu karena aku pun tau sebenarnya masih ada Nathan di dalam hatimu kan?"


Mendengar perkataan Vansh, Sharen pun menyunggingkan sebuah senyuman disertai raut wajah sendu. "Kejadian tadi malam membuatku begitu merasa kehilangan, kehilangan sebuah harapan yang sudah lama kupendam. Lucunya aku merasa sangat kehilangan, padahal aku tidak memiliki hak apapun pada dirinya. Seharusnya aku sadar, kedatanganku hanya untuk mencintainya bukan untuk melawan takdir dengan memaksakan kehendakku untuk memilikinya."


"Sharen, taukah kau? Kita sebenarnya berada pada situasi yang sama, sama-sama berjuang untuk melupakan masa lalu. Berjuanglah untuk berhenti menggantungkan harapan yang hanya bisa mendatangkan kekecewaan. Berhentilah menjadi penyebab kekecewaan itu, Sharen. Aku yakin kau pasti bisa menemukan rumahmu di akhir perjalanan yang kau lalui. Berjuanglah untuk menemukan rumah itu dan berjuanglah keluar dari jerat masa lalu."

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Kak Vansh."


"Sama-sama, Sharen."


"Mulai hari ini, kita berteman kan? Berjuanglah bersama untuk saling menguatkan."


"Ya, tentu saja kita berteman, teman yang saling menguatkan. Kak Vansh, ini sudah sore. Sebaiknya kau bersihkan dulu tubuhmu, tadi sopir Tante Calista sudah membawakan beberapa barang-barangmu. Itu sudah kurapikan di lemari kecil itu, kau bisa mengambil pakaianmu di sana."


"Iya Sharen, terimakasih banyak."


Vansh lalu mengambil pakaiannya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Saat Vansh memasuki kamar mandi, tiba-tiba ponsel Vansh berbunyi. Sharen lalu mengambil ponsel itu.


"Nomor tanpa nama?" ucap Sharen saat melihat sebuah nomor tanpa nama di layar ponsel Vansh.


"Siapa tau penting, lebih baik kuangkat saja," ujar Sharen kembali. Dia kemudian mengangkat panggilan itu.


[Halo.] jawab Sharen.


'Suara wanita?' gumam salah seorang di ujung sambungan telepon.


NOTE:


Mampir juga ke karya bestie aku ya novel horor terbaru punya Mak Irma Kirana, seru banget loh.


__ADS_1


__ADS_2