
'Kak Nathan apa arti dari semua ini? Kenapa kau berbohong padaku? Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan padaku? Kenapa kau harus berpura-pura tidak tahu jika aku sedang bersandiwara padamu?' gumam Clarissa. Nathan yang keluar dari kamar mandi lalu berjalan ke arahnya kembali.
"Clarissa, apa kau mau menemaniku makan? Setelah selesai makan, akan kubacakan komik Doraemon lagi untukmu," ucap Nathan. Clarissa kemudian menganggukan kepalanya.
'Tetaplah berpura-pura? Atau mengakhiri kepura-puraan ini?' gumam Clarissa yang kini melihat Nathan menyantap makanannya dengan begitu lahap.
'Sebaiknya nanti saja kutanyakan, biarkan saja dia memakan makanannya terlebih dulu,' gumam Clarissa lagi.
"Kak Nathan, ada yang ingin kutanyakan padamu?"
"Apa?"
"Apakah kau akan marah jika ada seseorang yang membohongimu?"
Mendengar perkataan Clarissa, Nathan pun memandangnya sambil tersenyum. "Kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Apakah kau sedang berbohong padaku?"
"Kau sebenarnya sudah tahu jawabannya kan Kak?"
"Clarissa, aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu, apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Kenapa kau balik bertanya Kak? Bukankah sebelumnya aku yang bertanya terlebih dulu? Apakah kau marah jika ada yang membohongimu?"
"Tergantung."
"Tergantung?" tanya Clarissa kembali.
"Ya, tergantung prioritas. Jika dia berbohong padaku untuk sebuah alasan yang bisa kuterima, maka aku tidak akan keberatan ataupun marah pada orang tersebut. Tapi jika dia membohongiku untuk berbuat suatu hal yang buruk padaku, tentu aku akan marah padanya."
"Jadi itu alasannya kau tidak marah padaku? Alasanku membohongimu itu masuk akal dan diterima olehmu?"
"Clarissa, apa maksudmu?"
__ADS_1
"Kak Nathan, aku sudah tahu semuanya. Kak Kenzo baru saja menghubungiku. Kau sudah tahu kan jika kami hanya membohongimu? Kau bahkan berpura-pura tidak tahu jika aku sedang bersandiwara padamu, bukankah kau sudah tahu yang sebenarnya jika kau telah kubohongi? Bukankah sebenarnya kau juga sudah tahu jika aku tidak pernah tertabrak mobilmu? Bahkan kau juga tahu kan luka-luka yang ada di tubuhhku semuanya adalah palsu? Kenapa kau masih berpura-pura bodoh di depanku Kak?"
Nathan pun hanya terdiam sambil menatap Clarissa yang kini berbicara padanya dengan tatapan mata yang begitu dalam. "Clarissa, maafkan aku."
"Maaf? Bukankah seharusnya aku yang meminta maaf padamu karena telah membohongimu? Kenapa kau harus minta maaf padaku? Jika sikapmu seperti ini aku akan semakin merasa bersalah padamu, aku yang seharusnya minta maaf, bukan kau."
"Tapi aku juga sudah membohongimu dengan berpura-pura tidak mengetahui jika kau sebenarnya telah berbohong padaku," jawab Nathan sambil tersenyum. Clarissa pun ikut tersenyum. "Kau benar-benar membuatku merasa malu, sekali lagi maafkan aku. Aku tidak akan berpura-pura lagi di depanmu," ucap Clarissa sambil membuka gips palsu yang ada di tangannya dan menghapus luka-luka palsu yang ada di sekujur tubuhnya.
"Clarissa, jangan."
"Jangan?"
"Clarissa, dengarkan kata-kataku. Tetaplah bersandiwara di depanku, lanjutkan saja kebohonganmu itu, teruslah berbohong padaku dan biarkan aku melanjutkan kebodohanku untuk berpura-pura percaya pada sandiwaramu karena hanya dengan itu aku memiliki alasan untuk tetap di sampingmu, karena hanya dengan itu aku memiliki alasan untuk bisa merasakan sebuah kenyamanan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Apa kau mengerti Clarissa? Tolong tetaplah berpura-pura di depanku."
Mendengar perkataan Nathan, Clarissa pun meneteskan air matanya. "Kenapa kau menangis, Clarissa?" Nathan kemudian menghapus air mata di pipi Clarissa
"Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan, Kak?"
Namun saat akan berjalan pergi meninggalkan Clarissa, tiba-tiba tangan mungil Clara mencekal tangannya. Nathan lalu memandang cengkraman kuat tangan Clarissa di tangannya, dia kemudian memandang Clarissa yang kini sedang menangis.
"Jangan pergi!" sahut Clarissa sambil terisak. Nathan lalu duduk di samping Clarissa kembali kemudian menghapus air matanya.
"Kenapa kau menangis? Bukankah sudah kukatakan agar kau jangan menangis, aku sedih jika melihatmu seperti ini Clarissa."
"Aku tidak akan menangis jika kau tetap berada di sampingku. Aku akan melanjutkan sandiwaraku, aku akan terus melanjutkan kebohonganku, dan kau teruslah berpura-pura menjadi orang bodoh di depanku yang percaya dengan semua sandiwaraku. Tapi tolong jangan tinggalkan aku sekarang, karena hanya itulah alasan yang kumiliki untuk tetap bisa bersamamu, karena hanya dengan itu aku bisa merasakan sebuah kenyamanan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, apa kau mengerti, Kak? Jadi tolong tetaplah di sampingku, tolong jangan pergi meninggalkan aku," ucap Clarissa dengan begitu terisak. Nathan kemudian menghapus air mata Clarissa.
"Ya, mari kita lanjutkan sandiwara ini. Teruslah membohongi diri kita masing-masing dan lanjutkan kepura-puraan ini, setidaknya itulah alasan yang kita miliki untuk tetap bisa bersama. Setidaknya itulah alasan kita untuk bisa merasakan kenyamanan yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Iya kan, Clarissa?"
Clarissa pun mengangguk. Nathan kemudian menghapus air mata Clarissa. "Jangan menangis lagi, sekarang tersenyumlah. Aku tidak akan pergi, kita habiskan malam ini berdua sebelum kita kembali ke rumah masing-masing esok hari, nanti biar aku saja yang bicara pada Kenzo. Kau mau kan menghabiskan malam ini denganku? Aku akan membacakan komik untukmu, aku akan menemanimu menonton televisi, merapikan rambutmu, dan menyuapi makanan untukmu, kau mau kan?"
"Tentu saja, Kak." jawab Clarissa sambil mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Sekarang, bolehkah aku memelukmu?"
"Kenapa kau harus tanyakan hal itu? Tidak usah bertanya jika kau sudah tahu jawabannya."
Nathan kemudian mendekatkan tubuhnya pada Clarissa lalu memeluk tubuh mungilnya ke dalam dekapannya.
🍒🍒🍒
Calista mendekat ke arah Leo yang baru saja menutup teleponnya.
"Apa Nathan sudah minta maaf pada Kenzo?"
"Ya, dia sudah minta maaf pada Kenzo."
"Syukurlah, aku harap dia memang benar-benar sudah berubah."
"Semoga saja begitu. Emh Calista, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu."
Calista lalu mengerutkan keningnya. "Memangnya apa yang ingin kau katakan, Leo? Kenapa kau terlihat serius sekali?"
"Ini mengenai Nathan, Calista."
"Nathan? Ada apa dengan Nathan? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu lagi mengenai Nathan?"
"Calista, menurutku Nathan sudah bisa berbesar hati dan mengikhlaskan Cleo untuk menikah dengan Kenzo."
"Lalu?"
"Jika dia sudah ikhlas, itu artinya dia sudah bisa membuka pintu hatinya untuk wanita lain?"
"Leo, apa maksudmu? Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Aku benar-benar tidak mengerti."
__ADS_1
"Calista, bagaimana jika Nathan kita jodohkan saja dengan salah seorang anak teman bisnisku?"