Bed Friend

Bed Friend
Terlalu Sakit


__ADS_3

Clarissa melepaskan pelukannya lalu menatap Nathan sambil tersenyum manja dan sedikit memainkan bibirnya. Namun Nathan hanya terdiam sambil mengamati wajahnya menahan berbagai perasaan yang begitu berkecamuk di dalam hatinya.


"Kak Nathan!" protes Clarissa.


"Kenapa?"


Clarissa kemudian memonyongkan bibirnya yang membuat Nathan tertawa terbahak-bahak. "Kenapa kau malah tertawa? Kau tidak mau menciumku?" sungut Clarissa.


"Aku baru saja mau menciummu tapi kau sudah protes padaku," jawab Nathan. Tangan kanannya lalu memegang wajah Clarissa dan mulai menempelkan bibirnya lalu mel*mat bibir Clarissa. Keduanya pun kini tampak memejamkan matanya sambil memagut satu sama lain, cukup lama hingga akhirnya mereka melepaskan ciuman itu. Keduanya pun kini saling berpandangan lalu tersenyum.


'Aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Clarissa, aku tidak mau hubungan ini jadi hancur, mungkin saat ini aku bisa menutupinya tapi entah dengan hari esok, aku tidak mau jika aku menutupi hal ini darinya hanya akan menjadi bumerang bagiku. Aku tidak ingin kehilangan Clarissa, aku tidak mau kehilangannya begitu saja,' gumam Nathan.


"Clarissa, sebenarnya ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin kukatakan padamu."


"Apa Kak? Katakan saja."


"Clarissa, kau tahu kan aku begitu mencintaimu."


"Ya."


"Berjanjilah agar tidak meninggalkan aku, tolong jangan tinggalkan aku, Clarissa."


"Tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Kak. Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?"


Mendengar perkataan Clarissa, perasaan Nathan pun terasa begitu hancur, hatinya kini terasa begitu sesak yang membuatnya tidak bisa lagi menahan butiran bening yang kini mulai membasahi wajahnya.


"Kak Nathan, kenapa kau jadi seperti ini? Apa sebenarnya yang telah terjadi? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi padamu?"


Nathan pun menganggukkan kepalanya, melihat Nathan yang begitu rapuh, Clarissa kemudian memeluknya.

__ADS_1


"Kak Nathan, Kak Nathan dengarkan aku, apapun yang telah terjadi pada hidupmu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Kak. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Ceritakan saja apa yang terjadi di hidupmu, aku akan selalu ada menemanimu."


"Clarissa, tolong maafkan aku, tolong maafkan aku tapi ini benar-benar terjadi diluar kehendakku, maafkan aku Clarissa," ujar Nathan dengan begitu terisak dan menahan sakit di dalam hatinya.


"Kak Nathan, tolong ceritakan saja. Aku pasti akan menerimamu, Kak."


Nathan pun menghembuskan nafas panjangnya. "Clarissa, saat aku pulang dari Bandung tiba-tiba di jalan aku melihat kakakmu, Sharen yang sedang diganggu oleh beberapa preman, lalu aku pun menolong Sharen. Tapi saat aku sedang menenangkannya tiba-tiba seseorang memukul kepala kami berdua..." ucap Nathan kemudian menghentikan ceritanya, hanya ada air mata yang kembali mengalir membasahi wajahnya.


"Kak Nathan, aku siap, aku siap mendengarkan ceritamu, aku siap menerima kemungkinan terburuk," jawab Clarissa yang kini juga mulai meneteskan air matanya sambil menahan rasa sakit yang mulai merasuk ke dalam hatinya.


"Saat kami sadar, tiba-tiba kami sudah dalam keadaan setengah telanjang, tapi sungguh Clarissa aku tidak melakukan apapun, aku berani bersumpah, aku tidak melakukan apapun Clarissa tapi saat ini sudah begitu banyak warga yang mengerumuni kami dan memaksaku untuk menikahi Sharen, saat itu mereka juga memanggil orang tua kami."


"Jadi kau sudah menikahi Kak Sharen?" tanya Clarissa dengan begitu terisak.


Tak sepatah katapun keluar dari bibir Nathan, hanya sebuah anggukkan kepalanya darinya yang membuat hati Clarissa kini terasa begitu hancur. Melihat Clarissa yang kini begitu terisak, Nathan kemudian memeluk tubuhnya.


Namun Nathan kian erat memeluk Clarissa. "TIDAK ADA YANG BISA MEMISAHKAN KITA, CLARISSA! DENGARKAN AKU TIDAK ADA YANG BISA MEMISAHKAN KITA!"


"TAPI KAU SUDAH MENIKAH DENGAN KAK SHAREN! KAU SUDAH MEMILIKI ISTRI, KAK!"


"TIDAK CLARISSA! MENGERTILAH AKU TERPAKSA MELAKUKAN SEMUA ITU! TOLONG MENGERTILAH KEADAANKU! KAU BISA BERTANYA PADA MAMAKU, AKU TERPAKSA MELAKUKAN ITU CLARISSA, AKU TERPAKSA MELAKUKAN SEMUA ITU! BAGIKU PERNIKAHAN ITU HANYALAH SEBUAH KEPURA-PURAAN UNTUK MENYELAMATKAN HARGA DIRI KAMI, CLARISSA. TOLONG MENGERTILAH!"


"Tapi Kak Sharen sudah menjadi istrimu, kau tidak boleh seperti itu. Kau tidak boleh egois, Kak. Kau juga harus memahami bagaimana perasaan Kak Sharen, saat ini dia adalah istrimu."


"Satu bulan saja, Clarissa. Satu bulan saja."


"Apa maksudmu, Kak?"


"Kami memiliki kesepakatan untuk menikah selama satu bulan, tidak lebih. Tolong mengertilah Clarissa, kami tidak saling mencintai, jika pernikahan ini dilanjutkan juga tidak akan memberikan kebahagiaan pada kami berdua. Clarissa mengertilah, kami menikah karena keterpaksaan, karena keadaan, bukan rasa cinta. Aku juga harus menyelamatkan harga diri kami dan keluarga kami, tolong mengertilah Clarissa, aku hanya mencintaimu."

__ADS_1


Clarissa pun hanya terdiam sambil terus menerus menetaskan air matanya. "Clarissa, satu bulan saja dan selama satu bulan itu aku sudah berjanji untuk tidak tinggal satu atap dengan Sharen, setelah pulang dari Bandung, aku akan tinggal di apartemen, saat ini Sharen saat tinggal di rumahku karena dia mendapat tekanan psikologis dari para tetangga dan kerabatnya."


"Kak Sharen mendapat tekanan psikologis?"


"Ya, kejadian itu sedikit berdampak pada kehidupannya."


"Kasihan, aku benar-benar merasa kasihan pada Kak Sharen, ini pasti tidak mudah baginya. Kak Nathan, pikirkanlah kembali hubungan kita, Kak. Aku tidak tega melihat Kak Sharen seperti itu, dia pasti sangat hancur dan terpuruk, Kak. Kau sebagai suaminya harus ada di sampingnya dan menemaninya, bukan malah ada bersama denganku."


"CLARISSA!" bentak Nathan.


"Tolong jangan memaksaku untuk melakukan sesuatu hal yang tidak kuinginkan! Sampai kapanpun aku akan selalu mempertahankan dirimu, sampai kapanpun aku akan terus mempertahankan hubungan ini!"


"Tapi Kak, kita tidak boleh egois."


"Egois katamu? Tidak ada yang egois karena jika aku tidak menolong Sharen sesuatu hal yang lebih buruk mungkin bisa saja terjadi pada dirinya, dan aku sudah lebih dari cukup untuk bertanggung jawab sudah menyelamatkan harga dirinya! Sudah cukup semua yang kulakukan untuknya, jadi tolong jangan memintaku untuk melakukan lebih daripada itu karena aku juga berhak menentukan jalan hidupku, dan kau adalah tujuan dalam jalan hidupku, jadi tolong jangan memaksaku lagi!"


Clarissa pun terdiam sambil terus meneteskan air matanya, wajahnya tampak begitu sendu dan tubuhnya kini terlihat lemas.


"Clarissa, apa kau sudah lupa akan janjiku padamu? Tidak ada wanita yang akan kusentuh selain dirimu, kau adalah pelangiku, kau yang selalu ada di sampingku saat aku terjatuh, kau yang membantuku untuk bangun, lalu haruskah aku berlari dengan yang lain? Tidak Clarissa, tidak mungkin aku hidup dengan yang lain sedangkan kau adalah pelangi yang membuat hidupku lebih indah."


Mendengar perkataan Nathan, Clarissa pun hanya menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya.


"Terlalu sakit, Kak."


NOTE:


Hai dear, mampir ya ke karya bestie aku yang tiap hari selalu jadi teman curhat aku punya Kak Irma Kirana, baru netes ini lo jangan lupa klik favorit ya, nyesel kalo ga ngikutin.


__ADS_1


__ADS_2