Bed Friend

Bed Friend
Paparazi


__ADS_3

Devano pun masuk ke dalam kamarnya, lalu melihat Luna yang kini sudah tertidur. Perasaannya pun begitu tak menentu melihat dress Luna yang tersingkap dan menunjukkan pahanya yang terlihat begitu putih dan mulus yang semakin menggoda naluri kelaki-lakian Devano. Namun, dia hanya bisa mengendalikan nafsunya sambil berdecak kesal.


"Ck! Hah aku punya istri tapi rasanya seperti tak punya istri! Bagaimana aku harus mengandalikan hasratku ini jika melihat Luna seperti ini? Sungguh sangat menyiksa batinku saja."


Devano kemudian menghembuskan nafasnya lalu tidur di samping Luna sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk. Bahkan, kepalanya rasanya seakan mau pecah saat melihat buah dada Luna yang terlihat begitu montok kini menyembul di balik piamanya.


Perlahan, Devano pun mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Luna. Luna yang kaget tiba-tiba mendapat kecupan di bibirnya lalu menautkan keningnya.


"Apa yang kau lakukan, Devano?"


"Sedikit!" ujar Devano sambil meringis. Namun, Luna malah menghapus bekas kecupan di bibirnya.


"Apa-apaan ini!" gerutu Luna.


"Luna! Kenapa kau bersikap seperti itu? Bukankah aku suamimu? Aku berhak atas dirimu! Kenapa kau bersikap ketus sekali padaku, Luna!"


"Maaf Devano, sekarang aku tidak mau mengumbar tubuhku begitu saja!"


"Mengumbar? Apa maksud kata-katamu, Luna?"


"Ya, aku tidak mau mengumbar tubuhku begitu saja karena aku juga tidak tahu sampai kapan aku akan jadi istrimu! Aku tidak mau rugi untuk kedua kalinya, Devano!"


"Luna, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu!"


"Devano, apa kau sudah lupa saat ini kau juga sudah bertunangan dengan seorang wanita? Lalu bagaimana denganku nanti? Bagaimana nasibku nantinya? Apa kau bisa menjamin posisiku? Bagaimana setelah dua bulan kau menikah dengan wanita itu? Bagaimana nasibku selanjutnya Devano? Lalu kau memintaku untuk melayanimu? Ohhh tidak bisa Devano, aku tidak semurah itu! Apa kau mengerti?" ujar Luna.


Devano pun hanya terdiam mendengar perkataan Luna. "Kenapa kau diam, Devano? Kau tidak bisa menjawab pertanyaanku kan? Kau tidak bisa menjamin posisiku dan anak yang ada di dalam kandunganku?"


Devano pun kembali terdiam. Sedangkan Luna mulai meneteskan air matanya. "Maaf," ujar Devano singkat.


Melihat air mata yang menetes di wajah Luna, tiba-tiba hati Devano pun terasa begitu sesak. 'Perasaan apa ini? Kenapa aku tiba-tiba jadi seperti ini?' batin Devano.


"Kau tidak bisa menjawabnya kan, Devano?"


"Emh begini Luna, pertunangan ini memang sangat sulit untuk dibatalkan. Tapi aku janji, Luna. Aku janji, tidak akan menelantarkan anak kita. Aku tidak akan membuatmu dan anak yang ada di dalam kandunganmu tersakiti, aku janji akan mencari jalan keluar atas masalah ini, Luna. Aku janji akan bertanggung jawab atas dirimu dan anak yang ada di dalam kandunganmu, aku janji."

__ADS_1


"Kau berjanji seperti itu karena takut pada Dokter Vallen kan?"


Devano pun hanya tersenyum getir. "Dasar!" bentak Luna sambil menimpuk Devano dengan menggunakan bantal. Dia kemudian menghapus air matanya dengan kasar lalu merebahkan tubuhnya kembali dan menutup matanya.


Devano pun masih terdiam sambil menatap wajah polos Luna yang tertidur dengan begitu pulas. Dia kemudian membelai wajahnya lalu mengecup keningnya.


"Bukan, bukan karena aku takut pada Dokter Vallen, tapi entah kenapa setelah kita menikah, saat mengucapkan ijab qabul di hadapan penghulu, ada sesuatu di dalam hatiku yang mengatakan jika aku harus benar-benar menjaga kalian. Apakah ini yang disebut kata hati? kata hati yang merupakan petunjuk dari Tuhan? Ah entahlah, karena pertunanganku dengan Sachi pun rasanya terasa begitu semu," ujar Devano.


***


Pagi-pagi Luna sudah keluar dari rumah Vallen untuk berpamitan dan undur diri keluar dari perusahaan Kenzo.


"Terima kasih banyak, Pak Kenzo, Bu Cleo, saya permisi dulu."


"Iya Luna, jaga kehamilanmu," Jawab Cleo, sedangkan Kenzo tampak tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


Mereka kemudian menatap Luna yang sudah berjalan memasuki halaman rumahnya. "Sebenarnya, dia sekretaris terbaik yang pernah bekerja denganku. Sayangnya dia hanya bekerja sebentar. Tapi hari ini sudah ada sekretaris baru yang menggantikan Luna," ujar Kenzo.


"Apa perlu aku bekerja sebagai sekretarismu saja, Kenzo Mahendrata?" ucap Cleo sambil mengalungkan tangannya di leher Kenzo.


Cleo pun terkekeh. "Kau cemburu?"


Kenzo pun tersenyum kecut. "Kau sudah tahu jawabannya, Agatha! Aku selalu cemburu pada lelaki yang bertemu denganmu!"


"Dasar posesif!" cibir Cleo.


"Dan kau menyukai keposesifanku! Hahahaha!"


Kenzo pun membelai wajah Cleo lalu mulai mendekatkan wajahnya kembali. Di saat itulah, sebuah teriakan kembali terdengar.


"Kenzo, Cleoooo!! Kalian benar-benar tidak tahu malu! Apa kalian tidak bisa bermesraan di dalam rumah? Maluuu Cleo, Kenzooo! Bagaimana kalau ada paparazi disini? Bisa hancur karierku sebagai dokter kandungan terbaik di negeri ini, iyuhhhh!"


"Mamaaaa berlebihan, mana mungkin ada paparazi yang mengikuti kehidupan kita, Ma!"


"Astaga Cleo, kau memang tidak sepintar Mama! Apa kau sudah lupa kalau setiap bulan Kenzo selalu masuk ke buletin dan majalah bisnis? Kenzo itu femes, Cleo. Bisa saja ada paparazi yang selalu mengikuti kehidupan Kenzo!"

__ADS_1


"Kenzo sekarang bisa sesukses ini juga karena aku ikut andil, Ma. Meskipun aku membantunya dari rumah!" gerutu Cleo.


"Karena itulah kalian jangan bertindak ceroboh! Kalian itu femesss, femesss. Kau tau apa artinya femes kan, Cleo?"


"Kami bukan orang bodoh Ma."


"Jadi kalian mengerti kan maksud Mama? Kenzo, kalau begitu cepat kau berangkat! Ini sudah siang!"


"Iya Ma," jawab Kenzo yang hanya terpaku melihat perdebatan Vallen dan Cleo.


"Cleo, aku berangkat dulu, Sayang."


Cleo lalu memeluk Kenzo dan mengecup bibirnya. "Cleoooo!" teriak Vallen kembali.


***


Seorang wanita muda, berusia sekitar 20 tahun tampak tergesa-gesa memasuki sebuah gedung yang bertuliskan MAHENDRATA GRUP.


"Astaga, ini hari pertamaku bekerja dan aku terlambat," ujar gadis itu.


Dia kemudian berjalan ke arah resepsionis kantor dan menanyakan ruangan Kenzo Mahendrata. Setelah mendapatkan jawaban dari resepsionis kantor itu, dia kemudian bergegas menuju ke ruangan yang ditunjukkan.


"Hufttt, ini ruangan Pak Kenzo," ujar wanita itu. Dia kemudian mengetuk ruangan milik Kenzo.


TOK TOK TOK


"Masuk," jawab sebuah suara di dalam ruangan. Perlahan, wanita itu pun membuka pintu itu, mendekat pada seorang laki-laki tampan yang sedang duduk di kursinya.


'Jadi ini Kenzo Mahendrata? Dia memang sangat tampan, sama seperti yang kulihat di majalah,' batin wanita itu.


"Kau yang bernama Dea? Yang menjadi sekretaris baruku?" tanya Kenzo.


"Iya Pak Kenzo, maaf saya terlambat, karena saya harus mengurus adik-adik saya terlebih dulu," jawab Dea.


"Adik-adikmu? Apa kau memiliki banyak adik? Lalu dimana orang tuamu?"

__ADS_1


Dea pun terdiam sejenak. "Maaf Pak Kenzo, sejak saya bayi, saya tinggal di Panti. Dan adik-adik yang saja maksud adalah adik-adik panti."


__ADS_2