
"Apa? Menempel di wajahmu, Laurie? Mungkin hanya perasaanmu saja. Sejak tadi aku berdiri di sini dan tidak ada apa-apa yang menempel di wajahmu."
"Benarkah?"
"Ya."
"Emh, Laurie lebih baik kau mandi sekarang. Aku sudah memesan makanan, kita sarapan di sini saja. Terlalu berbahaya kalau kita makan di luar."
"Iya Alvaro."
Laurie kemudian bangkit dari atas ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedangakan Alvaro tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Astaga, Alvaro. Hampir saja kau ketahuan olehnya. Aku memang benar-benar gila! Berani-beraninya mencium istri orang saat sedang tertidur! Ini memang benar-benar memalukan!" gumam Alvaro lirih.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, Nala yang baru saja selesai sarapan tampak heran karena sejak kemarin dia belum melihat batang hidung Zack di rumah itu. Bahkan tadi malam, dia pun tidak menyantap makan malamnya dan lebih memilih tidur di kamarnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada raja iblis itu?" gerutu Nala sambil mengerutkan keningnya
"Apakah sesuatu terjadi padanya? Sejak pulang dari rumah sakit tingkahnya sangat aneh, sama anehnya seperti wajahnya yang terlihat sangat menyebalkan. Sebenarnya apa yang telah dilakukan Laurie dan Tante Olivia padanya sampai dia seperti itu? Dia terlihat sangat terpukul. Aku benar-benar penasaran, ah lebih baik aku ke kamar raja iblis itu sekarang juga dan berpura-pura menjadi gadis manis yang baik hati dan mau menolongnya. Tapi, bukankah aku memang sangatlah manis?" ujar Nala.
__ADS_1
Dengan langkah centil seolah sangat bahagia dengan apa yang terjadi pada hidup Zack, Nala kemudian berjalan ke arah kamar Zack. Saat berada di depan pintu kamar itu, dia tampak mengambil nafas dalam-dalam berusaha agar tetap kuat kalau sesuatu terjadi pada Zack, ya misalnya bunuh diri. Seperti itulah yang ada di kepala Nala. Dia pun terkekeh membayangkan seorang Zack yang menjadi ketua mafia terbesar bunuh diri karena cinta.
"Mungkin benar kata Chi Pat Kai, kalau cinta deritanya tiada akhir, sama seperti laki-laki yang ada di dalam kamar ini. Dia pasti sangat tersiksa karena cinta, hahaha..., kemarin dia menertawakan aku karena patah hati. Dan, sekarang dia bahkan lebih parah, memalukan, dan terhina seperti hidupnya. Semoga selamanya seperti itu, hidup dalam kehinaan," ujar Nala sambil terkekeh. Setelah menenangkan dirinya agar tidak tampak sedang menertawakan Zack, dia pun mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
Beberapa kali Nala mengetuk pintu kamar itu namun tidak ada jawaban. Dia kemudian mengetuk pintu lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Nala pun mulai merasa cemas, takut kalau apa yang dia pikirkan jika benar-benar terjadi kalau Zack bunuh diri. Sebenarnya Nala bukan takut, tapi lebih merasa bahagia kalau Zack benar-benar bunuh diri karena ini pasti akan menjadi berita terbesar sepanjang sejarah, sekaligus berita paling memalukan. Nala pun terkekeh kembali sambil membayangkan itu terjadi. Entah kenapa rasanya begitu menggelikan seorang mafia besar sampai mengalami patah hati seperti ini.
"Sepupuku Laurie, kau benar-benar sangat hebat. Kau bisa membuat seorang raja iblis mengalami patah hati seperti ini, benar-benar sangat menggelikan. Sebenarnya sebutan raja iblis pun tidak pantas disematkan, karena saat ini Zack lebih cocok menjadi seorang pelawak," kekeh Nala kembali. Dia kemudian menguatkan hatinya agar tidak terus tertawa, lalu membuka gagang pintu kamar itu. Dan ternyata, pintu kamar itu tidak terkunci.
Saat Nala memasuki kamar itu, tampak Zack sedang duduk di sebuah kursi sambil menatap jendela. Penampilannya terlihat begitu berantakan, bahkan dia belum mengganti pakaian yang dia kenakan sejak kemarin. Tapi tidak hanya itu saja, rambut dan wajahnya pun tampak begitu kusut.
'Astaga dia manusia atau mayat hidup? Tragis sekali, mungkin dia sudah tak mampu hidup, tapi mati pun tak mau, masih terlalu banyak dosa pasti,' batin Nala. Dia kemudian mendekat ke arah Zack yang saat ini menatap jendela dengan tatapan kosong. Sejenak, melihat penampilan Zack saat ini, Nala pun merasa kasihan. Tapi meskipun dia merasa kasihan dia tetap saja tidak bisa menahan tawanya, akhirnya tawa pun meledak dari mulutnya.
Mendengar tawa Nala, Zack pun mengangkat wajahnya lalu menatap Nala dengan tatapan tajam. "Mau apa kau ke sini? Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamar ini? Dasar siluman wanita bodoh!" bentak Zack.
Nala pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Raut wajahnya pun berubah memelas. "Pergi!" bentak Zack, namun Nala tidak berajak dari samping Zack. Dan hanya menatap Zack dengan tatapan memelas kembali.
"Maafkan saya, Tuan. Sungguh saya tidak bermaksud menertawakan anda, saya hanya sedang menertawakan cicak yang ada di samping anda."
"Cicak?"
__ADS_1
"Iya Tuan, tadi di samping anda ada cicak yang sedang bermesraan. Tapi saat melihat wajah anda mereka tiba-tiba terjatuh, jadi saya menertawakan cicak yang terjatuh itu, Tuan."
"Cicak terjatuh? Jadi kau bukan menertawakanku?"
"Tentu saja bukan, Tuan Zack. Cuma manusia tidak waras yang menertawakan orang seperti anda, sungguh saya tidak berbohong Tuan Zack."
"Baiklah, anggap saja aku percaya. Saat ini aku sedang tidak ingin marah, aku lelah," ucap Zack dengan begitu lesu. Dia pun menghembuskan nafas panjangnya, seolah ingin melepaskan semua beban yang ada di dalam hatinya. Tapi tentu saja itu sulit, dan tidak mudah.
"Anda kenapa, Tuan? Apakah sesuatu terjadi pada anda?"
Zack pun terdiam, yang membuat Nala semakin ingin tertawa melihat raut wajah putus asa itu. Tapi dia menahannya. Dia pun menepuk pundak Zack.
"Tuan saya tahu, di mata anda saya memang wanita yang sangat menyebalkan. Tapi percayalah, jika anda membutuhkan bantuan saya, saya pasti akan membantu anda. Kalaupun saya tidak bisa membantu anda, setidaknya saya bisa menjadi pendengar yang baik bagi anda. Itu pun kalau anda mau membicarakan masalah anda pada saya. Karena saya tahu, masalah yang anda hadapi pasti ada hubungannya dengan masalah hati. Ya, masalah hati memang rumit, dan menyakitkan."
Zack pun menganggukkan kepalanya. "Kau benar, masalah hati memang rumit, tidak berlogika, dan sangat menyakitkan. Jika aku boleh memilih, mungkin lebih baik aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini."
Nala pun merasa iba karena dia pun merasakan hal yang sama, cinta tak terbalas. Dia kemudian menyeret kursi lalu duduk di samping Zack. Dia lalu menggengam tangan Zack. "Saya tahu, dan saya pun merasakannya. Memang sangat menyakitkan."
Zack pun mengangukkan kepalanya. "Ya."
"Lalu, apa rencana anda agar Nyonya Laurie kembali pada anda?"
__ADS_1
Mendengar perkataan Nala, Zack pun terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, aku akan melepasnya."