Bed Friend

Bed Friend
Hutang Budi


__ADS_3

"KAK NATHAN! KAU MENODAIKU KEMBALI! PIPIKU MASIH PERAWAN SAMA SEPERTI BU*H DAD*KU YANG KINI TERCEMAR OLEHMU!"


Nathan menghembuskan nafas panjangnya sambil memejamkan matanya. 'Terjadi lagi,' gulam Nathan. Dia kemudian membuka matanya lalu menatap Clarissa yang sedang mengelus pipinya.


"Maaf, ini juga benar-benar tidak disengaja," jawab Nathan dengan begitu lemas. 'Astaga, sial sekali aku bertemu dengan wanita seperti dia,' gumam Nathan. Namun Clarissa hanya menatap Nathan dengan tatapan tajam.


'Untung saja kau tampan, kalau tidak aku sudah mencabik-cabik wajahmu! Kenapa aku jadi sial seperti ini!' umpat Clarissa di dalam hati.


"Maaf Clarissa ini benar-benar sebuah ketidaksengajaan," ucap Nathan dengan begitu salah tingkah. Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir Clarissa, hanya ada tatapan tajam pada Nathan, hingga beberapa saat kemudian dia pun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang kembali dengan posisi membelakangi Nathan.


"Clarissa, maaf jika pertemuanmu denganku membuatmu merasa sial, aku tidak bermaksud melakukan semua ini padamu, sungguh semua yang terjadi hari ini semuanya benar-benar ketidaksengajaan. Clarissa, semenjak kita bertemu, aku belum pernah melihat kau tersenyum, apa yang harus kulakukan agar kau bisa tersenyum untuk menebus rasa bersalahku padamu?"


Clarissa hanya terdiam, namun tanpa Nathan ketahui dia sedang tersenyum melihat Nathan yang kini terlihat begitu kebingungan. 'Rasakan ini Nathan karena kau telah memisahkan kakakku dan Cleo hingga dua tahun lamanya.' gumam Clarissa sambil terkekeh. Nathan kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu berpindah ke bagian wajah Clarissa.


"Mau apa kamu?" tanya Clarissa.


"Membuatmu tersenyum," jawab Nathan sambil meringis.


"Clarissa apa kau mau makan sesuatu?"


"Aku sudah makan! Kau ingin aku jadi gendut karena menyuruhku makan terus menerus?"


"Lalu apa yang kau inginkan? Sekarang aku mau membacakan komik Doraemon lagi untukmu, Clarissa."


"Aku tidak mau, moodku sudah hilang!"


"Kalau begitu nonton film Doraemon saja, bagaimana?"


"AKU TIDAK MAU!" teriak Clarissa yang membuat Nathan tertunduk lesu. 'Wanita yang benar-benar sulit ditaklukkan, aku baru pernah bertemu dengan wanita seperti ini, biasanya wanita yang melihatku pasti akan tertarik padaku tapi tidak dengan dia, dia sangat galak dan menyeramkan.' gumam Nathan sambil memejamkan matanya kembali. Clarissa yang melihat Nathan tampak begitu putus asa lalu tersenyum tanpa diketahui oleh Nathan.

__ADS_1


"Aku akan memaafkanmu," ucap Clarissa yang membuat Nathan terkejut, dia kemudian membuka matanya lalu memandang Clarissa sambil tersenyum.


"Benarkah? Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku? Katakan saja, Clarissa!"


"Aku ingin jalan-jalan di taman, sangat membosankan berada di dalam kamar ini sampai sore seperti ini."


"Oh baiklah, ayo kita jalan-jalan ke taman," ucap Nathan.


"Aku boleh menyentuhmu kan?" tanya Nathan sebelum membantu Clarissa menaiki kursi rodanya. Clarissa pun menganggukan kepalanya. Nathan lalu membantu Clarissa turun dari atas ranjang kemudian menaiki kursi roda yang ada di dalam kamar perawatan tersebut.


"Tunggu dulu," ucap Clarissa sebelum Nathan mendorong kursi rodanya.


"Ada apa Clarissa?"


"Tolong ikatkan rambutku terlebih dulu,"


Nathan pun menganggukkan kepalanya, Clarissa lalu memberikan ikat rambutnya pada Nathan. Nathan kemudian bersimpuh di belakang kursi roda Clarissa sambil mengumpulkan rambut Clarissa lalu mulai mengikatnya. Melihat leher dan tengkuk jenjang Clarissa, perasaan Nathan pun begitu tak menentu, hatinya kini terasa begitu bergejolak menahan naluri kelaki-lakiannya yang mulai terasa sulit dia kendalikan. Perlahan Nathan pun mendekatkan wajahnya pada tengkuk Clarissa, namun tiba-tiba suara Clarissa mengagetkannya yang membuat dia kembali tersadar.


"Oh, oh iya sudah Clarissa. Kita keluar sekarang," ucap Nathan kemudian mendorong kursi roda Clarissa keluar dari kamar perawatan itu menuju ke taman yang ada di tengah rumah sakit. Senyum pun tersungging di bibir Clarissa saat berada di taman tersebut, dia tampak asyik memandang bunga-bunga yang bermekaran. "Kak Nathan, aku ingin ke sana!"


"Ya," jawab Nathan kemudian mendorong Clarissa ke sekumpulan bunga-bunga warna warni yang sedang bermekaran.


"Kau suka bunga?"


"Ya, aku sangat menyukai bunga," ujar Clarissa sambil tersenyum.


"Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum," ucap Nathan yang membuat Clarissa tersenyum kecut. Mereka lalu berhenti di sebuah bangku taman yang berdekatan dengan kumpulan bunga yang bermekaran di taman tersebut. Clarissa pun tampak asyik mengamati bunga-bunga itu sedangkan Nathan kini mengamati ponselnya.


'Aku harus berbuat sesuatu, aku tidak boleh terkekang dalam keadaan ini, meskipun aku sedang mengurus Clarissa, aku tidak boleh mengabaikan rencanaku untuk memisahkan Kenzo dan Cleo karena waktuku tidak banyak,' gumam Nathan. Dia kemudian membuka galeri di ponselnya lalu tersenyum menyeringai saat melihat beberapa buah foto bayi yang sedang digendong oleh kedua orang tuanya. Dalam foto yang lain, tampak balita kembar yang sedang bermain dengan seorang bayi di atas sebuah ranjang anak-anak yang dipenuhi oleh banyak boneka dan mainan anak-anak.

__ADS_1


"Untung saja tadi pagi aku sudah mengambil foto-foto ini di kamar Mama saat Mama sedang pergi joging bersama Papa karena aku yakin Mama pasti masih menyimpan foto-foto Kenzo saat dia masih bayi dulu. Aku juga yakin sampai saat ini Papa dan Mama masih sangat menyayangi Kenzo," ujar Nathan. Dia kemudian mengirimkan foto tersebut pada seseorang.


🍒🍒🍒


Kenzo yang sedang mengendarai mobil melirik pada Cleo yang kini terdiam sambil menatap jalanan sore ibu kota yang sangat padat.


"Kau kenapa Cleo? Apa ada yang menggangu pikiranmu? Kau masih memikirkan pertemuan dengan Aleta tadi siang? Apa itu membuat suasana hatimu begitu buruk?"


Cleo lalu menggelengkan kepalanya. "Aku merasa kasihan pada Aleta," jawab Cleo lirih.


"Dia pantas mendapatkannya, Cleo."


"Tapi dia benar-benar tidak berdaya, aku benar-benar merasa kasihan padanya. Kenzo, aku ingin bertemu dengannya lagi."


"TIDAK CLEO!"


"Tapiiii Kenzo..."


Belum sempat Cleo melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba mereka mendengar ponsel Kenzo yang berbunyi.


"Tolong kau bukakan pesan yang masuk Cleo, aku sedang menunggu balasan pesan dari klienku."


Cleo lalu mengambil ponsel Kenzo. "Dari siapa?"


"Nomornya tidak tersimpan, Kenzo."


"Buka saja pesannya," jawab Kenzo, Cleo lalu membuka pesan tersebut yang berisi beberapa buah foto. Cleo pun mengerutkan keningnya saat melihat beberapa foto bayi yang sangat mirip dengan foto-foto bayi Kenzo di rumahnya. Dia kemudian memperlihatkan foto tersebut pada Kenzo.


"Kenzo, bukankah ini foto-fotomu saat masih bayi? Lalu siapa dua orang suami istri yang sedang menggendongmu? Mereka sepertinya bukan Tante Amanda dan Om Rayhan, bukan juga Om Abimana dan Tante Inara, lalu siapa dua orang balita kembar ini? Mereka sepertinya sangat menyayangimu dan dekat denganmu," ujar Cleo.

__ADS_1


"Coba kulihat," jawab Kenzo. Dia kemudian mengamati foto-foto tersebut. Tak lama berselang, sebuah pesan pun kembali masuk ke ponselnya.


"Kau berhutang budi pada kami, dan sekaranglah waktu yang tepat untuk membayar semua hutang budimu."


__ADS_2