
Maya sesekali melirik pada Vansh yang kini sedang mengendarai mobil dengan begitu tenang, sejak pergi dari rumah Leo, tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua, hanya keheningan yang tercipta diantara keduanya meskipun sebenarnya Maya merasa begitu sungkan diantar oleh Tuan Muda seperti Vansh, akhirnya dengan mengumpulkan keberanian, Maya pun membuka suaranya.
"Terimakasih banyak, Tuan. Terimakasih sudah berkenan mengantarkan saya," ucap Maya sambil tersenyum dengan begitu ramah pada Vansh, namun kata-kata itu hanya dibalas anggukan pelan dari Vansh tanpa sepatah katapun yang membuat Maya begitu terkejut.
'Astaga, sepertinya aku sudah salah, mungkin tidak seharusnya aku berbicara apapun dengan Tuan Muda yang sangat dingin ini,' gumam Maya dalam hati sambil mengigit bibir bawahnya.
'Benar-benar memalukan,' gumam Maya lagi. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di depan sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Vansh lalu menghentikan mobilnya di depan gang itu.
"Sekali lagi terimakasih banyak, Tuan," ucap Maya yang dijawab oleh anggukan kepala lagi oleh Vansh. "Tuan, bolehkah saya mengatakan sesuatu pada anda?" tanya Maya meskipun dengan jantung yang berdegup kencang dan tidak karuan. Vansh pun memalingkan wajahnya pada Maya sambil mengerutkan keningnya disertai tatapan penuh tanda tanya.
"Emmhh.. E.. Maafkan saya jika saya sudah lancang, saya turun dulu, permisi," ucap Maya. Namun saat dia akan membuka pintu mobil, sebuah suara pun terdengar.
"Apa yang ingin kau katakan?" ucap sebuah suara dibelakangnya. Maya kemudian membalikkan tubuhnya lagi lalu menatap Vansh yang kini sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Be...Be.. Begini, Tuan. Jika kau pernah kehilangan seseorang yang begitu berarti di dalam hidupmu, tolong jangan pernah sesali itu, karena memang waktumu yang sudah habis dengannya dan kau tidak berhak untuk menyalahkan takdir," ucap Maya.
"Maafkan saya jika sudah lancang," ucap Maya lagi lalu bergegas turun dari mobil dan berjalan dengan begitu tergesa-gesa menuju ke rumahnya.
"Huft.. Huft,.., kenapa tiba-tiba aku berani sekali berkata seperti itu pada Tuan Muda dingin itu!" gerutu Maya saat masuk ke dalam rumahnya. Dia kemudian mengintip dari kaca jendela.
"Syukurlah dia tidak mengikutiku untuk memarahiku karena sudah begitu lancang padanya!"
Maya kemudian menghembuskan nafas panjangnya lalu masuk ke dalam kamarnya, rumah itu pun tampak sudah gelap gulita, pertanda ibunya juga sudah beristirahat di dalam kamarnya.
Sementara Vansh yang melihat tingkah Maya hanya tersenyum kecut. "Lancang!" gerutu Vansh kemudian mengendarai mobilnya pergi dari komplek pemukiman padat penduduk itu.
__ADS_1
...***...
Calista dan Leo lalu saling berpandangan. "Memangnya apa tujuan kedatangan kalian ke rumah ini?"
"Abimana, Inara, lebih kalian duduk dulu!" perintah Calista. Inara kemudian menatap Abimana sambil menganggukkan kepalanya.
"Jadi, apa maksud kedatangan kalian?" tanya Leo kembali.
"Emhhh... Begini, bukankah kalian semua tau jika Inara berasal dari keluarga berdarah biru? Tadi siang keluarga Inara menghubungi kami dan menanyakan tentang kabar pernikahan Sharen. Dan, beberapa hari lagi mereka ingin mengunjungi rumah kami untuk bertemu dengan Sharen dan suaminya. Aku dan Inara sangat bingung bagaimana menyampaikan semua ini pada mereka karena status keluarga Inara yang bukan dari kalangan biasa. Maafkan kami jika ini sebenarnya terasa begitu berat, tapi kami tidak bisa menyampaikan pada keluarga kami jika Nathan telah menceraikan Sharen," ucap Abimana.
"Meskipun Sharen bukan anak kandungku tapi semua sanak saudaraku sudah menganggap Sharen sebagai bagian keluarga kami. Mereka pasti akan sangat marah dan merasa begitu tercoreng jika tahu tentang rumah tangga Sharen yang sebenarnya, apalagi jika mereka tahu Nathan telah menceraikan Sharen hanya berselang beberapa hari setelah hari pernikahan mereka," tambah Inara.
"Lebih-lebih jika keluargamu tahu kelakuan busuk anak itu yang begitu MENJIJIKAN! Mau ditaruh dimana muka kita Inara?" ucap Abimana disertai nafas yang begitu tersengal-sengal.
"Sabar Nathan, tenangkan dirimu!" ucap Clarissa sambil memegang tangan Nathan.
"Nathan, dengarkan dulu penjelasan dari kami. Awalnya kami memang bermaksud seperti itu tapi setelah tahu kelakuan menjijikan dari Sharen, kami akan mengurungkan niat kami. Lebih baik kami dihina oleh keluarga besar kami daripada menyuruhmu untuk melakukan semua itu."
Abimana lalu terdiam sambil menghapus air mata yang keluar di sudut matanya.
"Nathan, Kak Leo, Kak Calista. Kami benar-benar meminta maaf atas kelakuan putri kami yang telah merugikan kalian semua. Maaf jika perbuatannya telah menyakiti hati kalian semua, terus terang kami pun sangat kecewa padanya. Maaf kami tidak bisa mendidik putri kami dengan baik hingga menyusahkan kalian semua dan menciptakan masalah sebesar ini pada kalian. Nathan, kau lah yang paling dirugikan akibat perbuatan Sharen, dan aku tidak akan meminta apapun padamu selain mendoakan kebahagiaanmu bersama Clarissa. Sekali lagi dengan penuh kerendahan hati, tolong maafkan kami," ucap Inara dengan begitu terisak. Cleo lalu mendekat pada Inara kemudian menenangkannya.
"Sharen, lihat kedua orang tuamu, lihat bagaimana kedua orang tuamu harus menanggung beban dari semua kejahatanmu, lihat bagaimana orang tuamu harus merasakan malu karena kebodohan yang kau lakukan demi menuruti ambisimu semata! Ini semua karena dirimu, Sharen! Apa kau tidak punya belas kasih pada kedua orang tuamu, bahkan Tante Inara begitu menyayangimu meskipun kau bukan putri kandungnya, tapi kau? Apa yang kau lakukan pada mereka? Lalu sekarang, mereka semakin menanggung beban dari semua perbuatanmu! Apa kau tidak kasihan pada mereka, Sharen!" bentak Nathan pada Sharen yang kini hanya bisa terdiam.
"Kak Nathan, tenangkan dirimu!" bisik Clarissa sambil mengelus lengan Nathan.
__ADS_1
"Abimana, Inara lalu apa yang kalian lakukan?" tanya Leo.
"Kami akan mengatakan yang sebenarnya pada mereka, meskipun resikonya kami harus mendapat cacian dan hinaan dari mereka karena kelakuan Sharen," jawab Abimana sambil menatap mereka yang ada di ruangan itu dan menggenggam tangan Inara.
"Sharen, lihat bencana yang telah kau perbuat! Lihat bagaimana orang tuamu harus menanggung akibatnya dari perbuatanmu itu!" omel Nathan. Sharen pun hanya terdiam sambil menangis.
"Abimana, Inara, aku tidak akan membiarkan kalian dihina oleh keluarga kalian semua, aku juga ingin menutup aib yang dilakukan oleh Sharen. Lebih baik, kita mencari sosok yang mau berpura-pura menjadi suami dari Sharen," ucap Leo yang membuat semua orang menatapnya.
"Leo, apa kau yakin dengan kata-katamu?" tanya Calista.
"Tentu saja, Calista. Lebih baik kita mencarinya seseorang yang mau berpura-pura menjadi suami Sharen, untuk sementara saja selama beberapa hari saat keluarga besar Inara datang ke rumah mereka."
"Bagaimana, Abimana, Inara apa kalian setuju dengan rencanaku?"
Abimana dan Inara lalu bertatapan kemudian mereka menganggukkan kepala mereka dengan terpaksa.
"Lalu, siapa yang akan berpura-pura menjadi suami dari Sharen?" tanya Calista. Tepat di saat itulah, sebuah suara pun mengagetkan mereka.
"Selamat malam, semuanya. Aku pergi ke kamar dulu!" ucap sebuah suara.
"TUNGGU DULU, VANSH!"
Note: wajib mampir ke karya bestie othor juga yak, dijamin ceritanya keren dan seru abis
__ADS_1