
Hampir satu jam lamanya, mereka akhirnya sampai di sebuah Panti Asuhan tempat Dea tinggal. Saat sampai di Panti Asuhan tersebut, jantung Delia pun berdegup begitu kencang. Tubuhnya seakan bergetar hebat.
'Putriku? Benarkah putriku hidup di sini? Benarkah putiku hidup di sini selama dua puluh tahun lebih lamanya?' batin Delia.
"Ayo kita turun, Delia!" panggil Dimas.
Delia menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah mereka yang datang bersamanya. Akhirnya, mereka pun sampai di ambang pintu Panti Asuhan tersebut. Kenzo lalu memencet bel panti itu.
TETTT TEETTTT
Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya yang merupakan Ibu Panti di Panti Asuhan tersebut tampak membuka pintu.
"Oh Tuan Kenzo."
"Maaf Ibu Panti, maaf mengganggu kembali. Bolehkah kami bicara sebentar?"
"Tentu saja. Mari masuk!"
Mereka kemudian duduk di atas sofa yang ada di dalam panti tersebut. Melihat kedatangan Kenzo kembali, Dea yang masih menyimpan rasa di dalam hatinya lalu mengintip mereka yang datang ke Panti. Meskipun, di dalam hatinya dia harus menahan rasa sakit saat melihat Kenzo dan Cleo yang terlihat begitu mesra.
"Emh begini Ibu Panti, maaf jika kami datang secara mendadak seperti ini. Sebelumnya perkenalkan, dia Mama saya, dan mereka teman dari orang tua saya," ujar Kenzo.
"Oh iya," jawab Ibu Panti sambil memberikan salam perkenalan untuk mereka.
"Ada apa Tuan Kenzo?"
"Emh begini, Ibu Panti. Teman Mama saya yang bernama Tante Delia dan Om Dimas, sedang mencari putrinya yang tertinggal di dalam gerbong kereta api. Usia putri mereka saat ini kurang lebih berusia 21 tahun. Ibu Panti, apakah di Panti ini, ada yang memiliki usia dan latar belakang yang sama dengan apa yang saya ceritakan?"
DEG
__ADS_1
Mendengar perkataan Kenzo, jantung Ibu Panti tersebut, pun seakan berhenti berdetak. 'Astaga!' batin Ibu Panti sambil menutup mulutnya.
Melihat reaksi Ibu Panti tersebut yang terlihat terkejut, Delia kemudian menghampirinya.
"Ibu Panti, apakah anda tahu sesuatu tentang putriku? Tolong katakan yang anda ketahui? Ibu Panti, lihat aku. Aku adalah wanita bodoh itu. Aku adalah wanita bodoh yang telah meninggalkan putriku di dalam gerbong kereta api. Aku wanita bodoh itu, Ibu Panti. Tapi tolong percayalah, di balik kebodohanku ini, aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu. Aku tidak sengaja meninggalkan putriku di dalam gerbong kereta api itu, karena saat itu hatiku sedang begitu kalut. Saat itu aku sedang mengalami ujian terbesar sepanjang hidupku. Itulah alasannya aku melakukan hal itu. Tapi sungguh, aku tidak pernah bermaksud untuk meninggalkan putriku. Aku sangat menyayangi putriku. Ibu Panti, tolong aku. Beri tahu aku jika kau tahu tentang keberadaan putriku. Selama dua puluh tahun lebih, kami selalu mencari keberadaan putriku, tapi aku tidak pernah menemukan titik terang keberadaan putriku itu," ucap Delia dengan begitu terisak.
Dimas lalu mendekat ke arah Delia yang kini bersimpuh di hadapan Ibu Panti itu yang kini juga tampak terisak.
"Delia, tegarkan dirimu. Tegarkan dirimu, Delia!"
"Nyonya, tolong tenangkan diri anda, Nyonya," sahut Ibu Panti.
"Ibu Panti, tolong jujurlah padaku. Panti Asuhan ini, adalah tempat yang paling dekat dengan statsiun tempat aku turun saat aku meninggalkan bayiku di dalam gerbong."
"Nyonya, se-sebenarnya.."
"Sebenarnya apa, Ibu Panti?"
"AAAAAAAAAA!" raung Delia sambil menangis.
"Ibu Panti, tolong katakan dimana bayi itu, dia putriku Ibu Panti. Kuakui, saat itu aku memang sedang dalam tekanan mental. Psikologisku sangat terganggu. Aku memang seperti orang yang tak waras hingga bisa meninggalkan putriku begitu saja di dalam gerbong kereta! Ibu Pantiiiii, tolong katakan dimana putriku, aku ingin bertemu dengan putriku!" teriak Delia.
"Delia... Delia tenangkan dirimu, Delia!" ucap Dimas sambil memeluk Delia yang saat ini terlihat begitu hancur.
"Ibu Panti, bisakah anda beritahu dimana putriku? Aku ingin bertemu dengan putriku?" raung Delia kembali.
"Ibu Panti, dimana putri kami?" sambung Dimas.
"Di-dia ada di sini. Dia masih ada di dalam Panti ini. Dia mengabdikan hidupnya untuk Panti ini. Bayi itu, bayi yang dititipkan dua puluh tahun yang lalu, sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan pintar."
__ADS_1
"Ja-jadi dia masih ada di sini? Bisakah kami bertemu dengannya, Ibu Panti?"
"Tentu saja, sebentar kupanggilkan."
"DEAAAAA! DEAAAAA!"
Mendengar nama Dea yang dipanggil oleh Ibu Panti, Kenzo dan Cleo lalu berpandangan. "Jadi, Dea itu adalah Sachi? Anak dari Om Dimas dan Tante Delia?" tanya Cleo.
"Iyaaaa Cleo," sahut Kenzo.
"Aku benar-benar tidak menyangka, Kenzo. Jadi, Sachi ternyata dekat dengan kita?"
Kenzo lalu menganggukkan kepalanya. Sementara itu, Ibu Panti yang berniat memanggil Dea ke dalam kamarnya, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Dea yang kini terlihat sedang berjalan ke arah ruang tamu tersebut.
"Dea," ucap Ibu Panti lirih.
"Aku sudah mendengar semuanya."
Delia yang melihat kedatangan Dea lalu mendekat ke arahnya. "Dia?" tanya Delia pada Ibu Panti yang dijawab dengan anggukan kepala.
Delia kemudian memeluk Delia, dan berulang kali menciumnya. "Sayang, Sachi sayang. Aku mamamu, aku mamamu Sachi! Aku mamamu, maafkan mama, Sayang. Dulu kejiwaan mama memang sedikit terganggu hingga meninggalkanmu begitu saja, tapi percayalah Mama sangat menyayangimu, Sayang. Mama sangat menyayangi dan merindukanmu. Sachi, sayang!" ucap Delia berulah kali sambil memeluk Dea dengan begitu terisak. Dimas kemudian mendekat ke arah mereka.
"Sachi, ini Papa, Nak!" ucap Dimas sambil meneteskan air matanya.
Namun, Dea hanya terdiam dan memperhatikan Delia dan Dimas secara bergantian. "Aku tidak mengenal kalian, jadi tolong pergi dari sini."
NOTE:
Yang kepo hubungan Luna dan Devano setelah kejadian ini bisa dibaca di NOVEL SEKEDAR PELAMPIASAN ya, karena setelah ini di sini hanya menceritakan Kenzo, Cleo, Darren, Shakila, dan Dea.
__ADS_1
Luna sama Devano, dan Sachi yang asli di NOVEL OTHOR YANG LAIN. NOVEL SEKEDAR PELAMPIASAN. BACA DEVANO DAN LUNA DI SINI ⏬⏬⏬ Okay, terima kasih 🤗