
"Jadi, kau juga sedang menunggu jawaban dari seseorang?"
Alvaro kemudian menganggukkan kepalanya. "Lalu bagaimana kalau dia menolakmu?"
"Tidak apa-apa, aku sudah biasa mendapat penolakan. Bahkan sebelumnya, aku pernah mendapat penolakan berulang kali pada wanita yang sama."
"Kenapa hidup ini lucu sekali Alvaro? Ternyata kau juga kurang beruntung dalam percintaan. Tapi saat ada wanita yang benar-benar menyukaimu, kau menolak wanita itu begitu saja."
"Maafkan aku, Nala. Jika saja aku terlebih dulu bertemu denganmu, mungkin aku akan membuka hatiku untukmu. Tapi sayangnya semua sudah terlambat, pertemuan kita sedikit terlambat Nala. Aku sudah tertarik pada wanita lain saat aku bertemu denganmu."
"Sebut saja keterlambatan ini sebagai takdir, Alvaro. Mungkin aku memang bukan takdirmu."
"Maafkan aku, Nala."
"Tidak apa-apa, hati memang tidak bisa dipaksakan. Semoga wanita itu menerimamu, dan kalian bisa hidup bahagia."
"Semoga kau juga menemukan hati yang lain, yang mencintaimu apa adanya." Nala kemudian menganggukkan kepalanya diiringi isak tangis yang belum juga berhenti. Alvaro hanya bisa menatapnya dengan tatapan sayu, tapi dia bisa apa? Masalah hati memang rumit, dan tidak bisa dipaksakan. Meskipun rasa itu dipaksakan, hanya akan menimbulkan rasa sakit, bukan kebahagiaan.
"Alvaro, bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali? Mungkin saat aku pulang nanti kau sudah menjadi milik wanita itu, mungkin saat aku pulang nanti aku sudah tidak bisa bicara bebas denganmu seperti ini, karena kau sudah ada yang memiliki. Bolehkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?"
Alvaro menganggukkan kepalanya. "Tentu saja Nala."
Nala kemudian memeluk Alvaro sambil menangis tersedu-sedu, sedangkan Alvaro balas memeluk Nala seraya membelai rambut indah Nala. Sebuah pelukan hangat dan belaian lembut yang begitu menenangkan sekaligus menyakitkan bagi Nala. Rasanya dia tidak ingin melepas pelukan itu, rasanya dia tidak ingin pergi dengan Zack, dan rasanya dia tidak rela kalau Alvaro menjadi milik wanita lain. Tapi itu hanya sebuah mimpi dan angan-angan saja karena kenyataannya tidaklah demikian.
__ADS_1
Dia harus menghadapi kenyataan pahit kalau dia harus pergi dengan Zack, laki-laki yang sangat dia benci. Mungkin ini memang sudah jalan yang harus dilalui olehnya, dia sudah mengabaikan perkataan Nathan hingga terjerumus pada pusaran hidup Zack. Setelah berpelukan cukup lama, Nala kemudian melepaskan pelukannya pada Alvaro.
"Aku pergi dulu Alvaro."
"Iya Nala, hati-hati di jalan. Semoga kita bisa bertemu lagi."
"Iya Alvaro, dan semoga suatu saat nanti saat aku sudah bertemu denganmu, aku sudah bisa menutup luka hatiku."
"Kau wanita yang luar biasa, Nala. Kau cantik, menarik, dan memiliki segalanya. Akan sangat mudah bagimu untuk mendapatkan tapi laki-laki lain yang jauh lebih baik dariku. Aku yakin itu, kau pasti akan mendapatkan yang jauh lebih dariku."
"Semoga saja Alvaro," jawab Nala. Dia kemudian membalikkan tubuhnya lalu berjalan menjauhi Alvaro, entah kenapa air mata tak henti mengalir daru sudut matanya. Ini bukan pertama kalinya dia patah hati, ada Alvin yang sebenarnya telah menorehkan luka yang begitu dalam pada dirinya saat laki-laki itu bermain dengan wanita lain di belakangnya. Selain itu, dia juga belum lama mengenal Alvaro. Tapi entah kenapa, rasanya penolakan itu terasa begitu menyakitkan baginya. Mungkin karena Alvaro terlihat berbeda, tidak seperti laki-laki yang pernah dikenal olehnya sebelumnya.
"Maafkan aku, Nala," ucap Alvaro saat Nala berjalan meninggalkan dirinya.
Sementara itu, Zack yang sudah hampir dua jam menunggu Nala di rumahnya, tampak begitu kesal.
"Kemana wanita siluman itu? Kenapa dia belum juga datang! Bukankah sudah kukatakan agar jangan terlalu lama! Kenapa dia lama sekali! Memangnya dia pikir dia siapa? Cuma wanita miskin, bodoh, yang beruntung karena sudah mengenalku!"
Zack kemudian mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi Nala. Namun, panggilan itu tak kunjung mendapat jawaban.
"Kenapa dia tidak menjawab panggilan dariku? Apa dia mau melarikan diri dariku? Dasar wanita bodoh! Kau mau macam-macam denganku? Lihat saja berani kau macam-macam denganku, akan kucari dimanapun kau berada! Tidak hanya kau, tapi juga keluargamu akan kubuat menderita! Dasar wanita bodoh!" teriak Zack yang kini terlihat begitu gusar. Dia berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya, sambil terus menggerutu dan mengeluarkan berbagai umpatan. Sesekali, tangannya juga mengutak-atik ponselnya mencoba menghubungi Nala. Namun, panggilan itu juga tak mendapat jawaban.
Saat berada di puncak kekesalan, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka. Perlahan Nala masuk ke dalam rumah itu dengan raut wajah yang begitu murung.
__ADS_1
"Hai wanita bodoh, kemana saja kau! Bukankah sudah kukatakan padamu aku tidak suka menunggu! Tapi kau malah membuatku menunggu begitu lama! Apa kau mau kubunuh sekarang juga?"
"Bunuh saja," jawab Nala lesu sambil menundukkan wajahnya.
"Aku tidak main-main wanita siluman!"
"Aku juga tidak main-main, bunuh aku saja. Aku lelah...," ucap Nala, diiringi air mata yang kembali mengalir dari sudut matanya.
"Jangan bermain drama denganku agar aku tunduk padamu! Kau pikir aku laki-laki bodoh yang percaya pada drama murahan wanita sepertimu!"
"Berkatalah semaumu, Tuan Zack. Aku tidak peduli apapun, kalau kau mau membunuhku, silahkan bunuh saja aku, kalau kau mau menyiksaku, siksa saja aku. Kalau kau mau membawaku pergi, bawa saja aku pergi, dan jangan pernah kembali dalam waktu dekat ini. Lakukan apapun yang kau mau padaku, aku juga tidak peduli lagi pada diriku ini," ucap Nala sambil terisak. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai sambil menangis tersedu-sedu.
Zack yang awalnya berfikir kalau Nala sedang memainkan drama agar dia tidak marah padanya akhinya berubah pikiran. Apalagi saat mendengar tangisan Nala terdengar begitu menyayat hati. Perlahan, dia pun berjongkok di atas lantai sambil menatap Nala yang kini terisak.
"Kau sebenarnya kenapa? Kenapa kali ini kau terlihat begitu rapuh dan tidak menjengkelkan seperti biasanya?"
Namun Nala hanya menangis. "Kenapa masalah hati itu begitu rumit? Kenapa cinta itu datangnya begitu tiba-tiba, lalu juga pergi dengan begitu menyakitkan? Apakah aku tidak pantas hidup bahagia? Apakah tidak ada laki-laki yang mau benar-benar mencintaiku? Kenapa..." isak Nala.
Melihat Nala yang kini terlihat begitu menyedihkan, entah kenapa rasa kesal yang ada di dalam hatinya pun memudar. Dia kemudian mendekatkan tubuhnya pada Nala.
"Apa memang juga tidak tahu apa arti cinta, yang kutahu cinta harus memiliki. Aku memang tidak tahu bagaimana rasa yang ada di dalam hatimu, untuk sementara anggap saja aku sebagai temanmu, anggap saja aku sebagai tempat untuk bersandar bagimu."
Mendengar perkataan Zack, tiba-tiba Nala pun memeluknya.
__ADS_1